
Pemkab Kotim bidik Tiwah sebagai magnet wisata budaya

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mulai menyiapkan langkah untuk menjadikan ritual adat Tiwah sebagai agenda budaya dan wisata rutin daerah, tidak hanya sebagai upaya pelestarian tradisi Hindu Kaharingan, tetapi juga untuk menarik kunjungan wisatawan.
"Saya minta (Tiwah) itu bisa menjadi agenda rutin, berkoordinasi dengan Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) Kotim supaya menjadi agenda tetap," kata Bupati Kotim Halikinnor di Sampit, Kamis.
Tiwah merupakan upacara adat kematian tingkat akhir masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, khususnya bagi pemeluk Hindu Kaharingan. Ritual tersebut memiliki makna spiritual untuk menyucikan sekaligus mengantarkan arwah leluhur menuju alam keabadian agar memperoleh ketenangan.
Halikinnor mengatakan selama ini pemerintah daerah telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Tiwah melalui bantuan hibah keagamaan kepada kelompok masyarakat. Namun ke depan, pelaksanaan ritual sakral masyarakat Dayak itu direncanakan masuk dalam agenda resmi daerah yang dikelola lebih terstruktur, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim bersama MD-AHK setempat.
Menurutnya, jika pelaksanaan Tiwah dibuat terjadwal dan dikemas secara baik, maka prosesi adat itu berpotensi besar menjadi daya tarik wisata budaya unggulan di Kotim. Wisatawan dari luar daerah dinilai akan tertarik menyaksikan secara langsung rangkaian prosesi yang sarat nilai adat dan spiritual tersebut.
"Harapan kita itu bisa kita promosikan sebagai salah satu destinasi wisata, agar orang luar daerah bisa menyaksikan bagaimana prosesi Tiwah tersebut," ujarnya.
Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari MD-AHK Kotim. Ketua MD-AHK Kotim, Betly bahkan mengusulkan agar pelaksanaan Tiwah nantinya dapat dipusatkan di kawasan Kaharingan Center di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 2,7 Sampit.
Ia menilai, konsep pelaksanaan terpusat tidak hanya mempermudah koordinasi, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi daerah melalui kunjungan masyarakat dari luar Kotim.
"Terkait dengan sentral pelaksanaan Tiwah, bisa saja nanti dilaksanakan di Kaharingan Center. Itu juga bisa membuat pemerintah daerah mendapat pemasukan dari pihak luar untuk menambah PAD," ucapnya.
Selain Tiwah, MD-AHK juga berharap sejumlah ritual keagamaan Hindu Kaharingan lainnya dapat kembali dilaksanakan secara kolaboratif bersama pemerintah daerah. Salah satunya adalah Mamapas Lewu, ritual adat yang dipercaya sebagai prosesi pembersihan wilayah dan penolak bala dari marabahaya maupun wabah penyakit.
Disisi lain, Kepala Disbudpar Kotim Ramadansyah menilai pengembangan wisata religi berbasis budaya lokal memiliki prospek yang sangat menjanjikan.
Menurutnya, Tiwah maupun Mamapas Lewu bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah.
"Kalau melihat potensinya sebenarnya luar biasa. Itu merupakan kegiatan keagamaan yang juga erat kaitannya dengan kebudayaan dan bisa dikemas sebagai salah satu tujuan wisata," tuturnya.
Baca juga: Bupati Kotim gandeng Brebes kendalikan inflasi dari komoditas pangan
Ia melanjutkan, kepastian jadwal pelaksanaan akan memudahkan wisatawan untuk merencanakan kunjungan ke Kotim. Dampaknya diyakini tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga usaha masyarakat seperti perhotelan, kuliner hingga perdagangan lokal.
"Kegiatan-kegiatan yang sifatnya religi bisa menjadi agenda daerah, sebagai salah satu tujuan wisata. Pelaksanaannya bisa meningkatkan sektor ekonomi yang lain, termasuk perhotelan," lanjutnya.
Kendati begitu, Ramdansyah menjelaskan, bahwa rencana menjadikan Tiwah sebagai agenda daerah saat ini masih dalam tahap pembahasan bersama MD-AHK Kotim, termasuk menyusun konsep pelaksanaan hingga kebutuhan anggaran yang diperlukan.
Program tersebut diproyeksikan mulai dipersiapkan untuk pelaksanaan pada 2027 dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
Pemkab Kotim meyakini agenda wisata religi berbasis budaya lokal itu nantinya dapat menjadi daya tarik baru pariwisata Kalteng, terlebih jika diintegrasikan dengan destinasi wisata lainnya yang telah berkembang di daerah tersebut.
"Saya kira itu sangat menarik sekali. Di daerah lain mungkin belum ada yang menjadikan hal itu sebagai agenda khusus daerah. Harapannya nanti bisa terintegrasi dengan beberapa wisata di Kalteng," demikian Ramadansyah.
Baca juga: Pemkab Kotim kaji hibah lahan untuk pengembangan Kaharingan Center
Baca juga: Bupati Kotim sambut baik peninjauan ulang aturan belanja pegawai
Baca juga: Pemkab Kotim normalisasi drainase cegah genangan ganggu penerbangan
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
