
BMKG ingatkan ancaman karhutla saat memasuki kemarau di wilayah Kotim

Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengingatkan ancaman karhutla seiring mulai memasuki musim kemarau untuk daerah setempat.
“Kalau dilihat dari fenomenanya, kemungkinan besar lebih kering, jadi potensi karhutla lebih besar. Jadi kita waspada potensi karhutla itu lebih meningkat di tahun ini,” kata Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo di Sampit, Sabtu.
Musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibanding tahun sebelumnya seiring adanya pengaruh fenomena iklim global yang mengarah dari kategori moderat menuju kuat. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko munculnya titik api, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga krisis air bersih, terutama di kawasan gambut.
“Memang kalau berdasarkan data beberapa hari terakhir ini kita masih ada hujan, tapi sebenarnya sekarang ini sudah berada di musim kemarau. Jadi, sejak awal Juni itu sudah memasuki awal musim kemarau,” jelasnya.
Mulyono menjelaskan, pergantian musim tidak berarti diikuti perubahan cuaca secara langsung. Meski masih sesekali hujan, namun Kotim saat ini sebenarnya sudah memasuki musim kemarau yang selanjutnya secara bertahap mengalami penurunan intensitas hujan.
Pola musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung relatif serentak di seluruh wilayah Kotim, baik bagian utara, tengah maupun selatan. Awal kemarau diperkirakan dimulai bersamaan sejak Juni dan berlangsung hingga sekitar 100 sampai 120 hari.
Baca juga: Bupati Kotim berharap kehadiran maskapai baru bantu UMKM berkembang
Durasi itu disebut lebih panjang dibanding kondisi normal beberapa tahun sebelumnya. Biasanya, musim kemarau di Kotim hanya berlangsung kurang dari dua hingga tiga bulan.
“Untuk tahun ini awal musim kemarau prediksi sama, baik itu utara, tengah, selatan. Di awal Juni berbarengan. Terus puncaknya tetap di Agustus nanti. Makanya kita waspadai di Agustus, September,” jelasnya.
Menurutnya, ancaman karhutla perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak karena cuaca kering berpotensi berlangsung cukup lama. Apalagi, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Ia menyebutkan, wilayah selatan Kotim, seperti Kecamatan Pulau Hanaut, Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan, menjadi kawasan paling rawan terdampak musim kemarau, terutama terhadap ancaman karhutla dan kabut asap.
Hal itu dipengaruhi arah angin timur yang diprediksi menguat selama musim kemarau berlangsung. Jika terjadi kebakaran di wilayah selatan, asap diperkirakan bergerak menuju Kota Sampit dan sekitarnya sehingga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan kualitas udara.
“Paling rawan itu daerah selatan. Karena kalau kita lihat dari prediksi angin itu akan menguat dari timur. Kalau terjadi kebakaran di daerah selatan, otomatis angin itu akan membawa asap ke wilayah Sampit dan sekitarnya,” katanya lagi.
Disamping itu, wilayah selatan Kotim disebut memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi karena didominasi lahan gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan berkepanjangan.
Selain ancaman karhutla, BMKG Kotim juga memperingatkan adanya potensi kekeringan air bersih di sejumlah wilayah selatan Kotim. Menurunnya debit sungai saat kemarau panjang dapat memicu intrusi air laut sehingga kualitas air menjadi payau.
“Kami mengimbau, pertama, karena sekarang kita sudah memasuki awal musim kemarau tahun 2026 maka bijaklah menggunakan air. Yang kedua, jangan membakar hutan secara sembarangan. Yang ketiga, jaga kesehatan,” demikian Mulyono.
Baca juga: DPRD dukung pengembangan Bandara Haji Asan Sampit
Baca juga: DPRD Kotim dukung layanan jemput haji dengan pesawat berkelanjutan
Baca juga: Kehadiran Super Air Jet torehkan sejarah baru penerbangan di Kotim
Pewarta : Devita Maulina
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
