Logo Header Antaranews Kalteng

Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026 dibayangi tensi politik

Senin, 15 Juni 2026 12:13 WIB
Image Print
Grafik ilustrasi pertandingan penyisihan Grup G Piala Dunia 2026 antara Iran melawan Selandia Baru yang dijadwalkan berlangsung di Stadion SoFi, Inglewood, California, Amerika Serikat, Senin (15/6/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK/Vintan Rahmadanti

Jakarta (ANTARA) - Laga Iran melawan Selandia Baru di Grup G di Stadion Los Angeles, California, Selasa (16/6) pagi adalah pertandingan Piala Dunia 2026 yang paling dibumbui soal non-sepak bola dan juga menghebohkan.

Hal itu terjadi karena Iran, yang tengah berperang dengan Amerika Serikat, dipersulit sedemikian rupa karena alasan politis.

Iran juga bakal menghadapi teror sengit penonton AS dan warga diaspora yang umumnya membenci rezim yang tengah berkuasa di negara itu. Iran juga tak bisa didukung suporter mereka karena terkena larangan masuk AS dari pemerintahan Presiden Donald Trump.

Tim asuhan pelatih Amir Ghalenoei itu terpaksa pindah base camp dari Tucson di Arizona, Amerika Serikat, ke Tijuana di Meksiko. Padahal semua pertandingan fase grup mereka digelar di Amerika Serikat.

Keadaan ini mesti dialami skuad Iran karena Amerika Serikat menolak memberikan visa tinggal kepada tim Iran, yang memang tak memiliki hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Terlebih, AS sedang berperang dengan Iran.

Tim Iran tak boleh tinggal lebih dari 24 jam di AS, sehingga mereka datang arena pertandingan untuk menjalani laga, dan kemudian harus meninggalkan AS dalam hari yang sama.

Ini ujian mental dan fisik yang berat bagi Iran, dan mereka harus menjalani hal ini sebanyak tiga kali. Jika mereka lolos ke fase gugur, perjalanan mereka bisa semakin jauh lagi.

Tapi kecil kemungkinan Iran jatuh mental hanya gara-gara soal ini. Bahkan dalam keadaan dijatuhi sanksi puluhan tahun oleh Barat, mereka tetap tegak berdiri, termasuk persepakbolaan mereka.

Mereka adalah tim Asia kedua yang lebih dulu memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah Jepang.

Catatan mereka pun istimewa, hanya sekali kalah dan 13 kali menang dalam 16 pertandingan babak kedua dan ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Iran juga memenangkan tiga laga persahabatan terakhirnya menjelang Piala Dunia 2026 dengan membantai Kosta Rika 5-0, Gambia 3-1, dan Mali 2-0.

Bisa mengulang 2010

Jadi, sepertinya keadaan sulit di luar lapangan sepak bola tak akan berpengaruh banyak kepada Tim Melli. Apalagi, dalam dua putaran final Piala Dunia terakhir yang mereka ikuti, Iran selalu memenangkan laga pertama fase grupnya.

Walau begitu dalam enam edisi Piala Dunia sebelumnya yang pernah mereka ikuti, Mehdi Taremi cs tak pernah bisa melewati fase grup. Namun Piala Dunia edisi 48 tim ini membuka kesempatan yang lebih besar kepada mereka untuk lolos pertama kali ke fase knockout.

Banyak yang menilai Iran masih satu level di atas Selandia Baru, sehingga pertandingan Selasa pagi akan menjadi milik Iran.

Penampilan Selandia Baru yang juara zona Oseania, yang merupakan zona yang paling tidak kompetitif sehingga Australia pun hengkang untuk bergabung dengan AFC di Asia, memang tidak begitu meyakinkan.

Mereka memang jagonya Oseania, tetapi kompetisi yang tidak kompetitif turut mempengaruhi level kualitas Selandia Baru.

Buktinya bisa dilihat dari enam laga persahabatan yang dijalani All Whites sebelum kickoff Piala Dunia 2026.

Mereka kalah lima kali, dan seri satu kali. Yang lebih mencengangkan adalah mereka dibantai Haiti 0-4 pada 3 Juni. Bagaimana bisa menang dari Iran, jika menghadapi tim kecil seperti Haiti saja ambruk?

Tetapi sepak bola kadang aneh. Statistik dan performa hari ini, belum tentu akan sama dengan hari berikutnya. Selandia Baru pun bisa mementahkan kecenderungan itu.

Salah satu caranya adalah menyuntikkan semangat bahwa bisa melakukan hal seperti mereka lakukan 16 tahun silam dalam Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan ketika menjadi satu-satunya tim yang tak terkalahkan di fase grup.

Walau gagal ke fase gugur karena cuma mengumpulkan tiga poin dari seri tiga kali, skuad All Whites saat itu membuat gempar dunia karena menahan seri 1-1 juara bertahan Italia.

Jadi tak ada alasan bagi tim asuhan Darren Bazeley untuk tidak mengulang atau bahkan melebihi pencapaian Piala Dunia 2010 yang adalah putaran final Piala Dunia yang kedua bagi Selandia Baru.

Cenderung milik Iran

Masalahnya, tim Selandia Baru yang dikelola Darren Bazeley tidak sekuat skuad yang diasuh Ricki Herbert pada Piala Dunia 2010.

Dari 26 pemain yang dibawa Bazeley ke Amerika Serikat, hanya striker Nottingham Forest Chris Wood yang paling menonjol dan menjadi tumpuan Selandia Baru.

Wood, yang juga kapten timnas dan sudah berumur, adalah bagian dari 12 pemain yang bermain di luar Selandia Baru yang dipanggil Bazeley.

Anggota skuad All Whites lainnya yang high profile mungkin hanya pemain Bournemouth Alex Paulsen. Tapi yang ini pun bukan pemain outfield, melainkan seorang penjaga gawang.

Tapi salah satu hal menarik dari laga ini adalah pertemuan dua striker senior, Chris Wood dengan Mehdi Taremi, yang memperkuat Iran.

Dua penyerang senior ini sama-sama diandalkan oleh kedua tim untuk mengarahkan tim mereka mendapatkan poin, atau bahkan poin penuh, dari laga kedua Grup G tersebut.

Pelatih Amir Ghalenoei masih memiliki andalan lain pada diri pemain naturalisasi Dennis Eckert yang bermain di Standard Liege dan winger Alirezza Jahanbakhsh yang kini memperkuat Dender. Kedua klub itu berada di Belgia.

Ghalenoei akan memasang pemain-pemain itu dalam formasi kesukaannya, 4-1-3-2, yang mengaryakan seorang gelandang bertahan untuk melapis pertahanan, dan di sisi lain memberikan keleluasaan bermanuver yang besar kepada seorang gelandang serang dan dua pemain sayap untuk menunjang sepasang ujung tombak kembar.

Sebaliknya, Darren Bazeley kemungkinan merespons dengan menempatkan lima gelandang 4-2-3-1 dalam struktur bermain Selandia Baru.

Bazeley akan berusaha merusak inisiatif menyerang Iran, dan sekaligus merancang transisi cepat guna melancarkan serangan balik di mana Chris Wood menjadi ujung tajam serangan All Whites.

Namun demikian, walaupun laga ini akan terlihat sengit, Tim Melli cenderung bakal menjadi pihak yang dominan dan bahkan menjadi tim yang memiliki kemungkinan lebih besar dalam mendapatkan tiga poin.

Dari pertandingan inilah, Iran, dan juga Selandia Baru, memiliki kemungkinan terbesar mendapatkan kemenangan, karena mereka akan lebih sulit mendapatkannya dari Belgia dan Mesir pada dua laga berikutnya.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026