
Kualitas terasi Toboali tetap dijaga di tengah krisis bahan baku

Pangkalpinang (ANTARA) - Terasi atau belacan Bangka merupakan salah satu produk unggulan lokal dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang terkenal hingga ke berbagai daerah dan kerap dijadikan oleh-oleh khas Bangka.
Berbicara mengenai terasi asli Bangka, sejatinya, adalah terasi dari Toboali yang terkenal memiliki keunggulan kualitas dengan aroma dan kelezatan umami.
Toboali merupakan pusat pemerintahan dan juga wilayah kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan, yang berjarak 124 kilometer dari Kota Pangkalpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Babel. Perjalanan ke Toboali dapat diakses melalui perjalanan darat dari Kota Pangkalpinang dalam waktu tempuh rata-rata 3 jam.
Saat ini, menurut data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan Bangka Selatan terdapat 248 perajin terasi yang ada di Kecamatan Toboali.
Para perajin terasi ini tersebar di beberapa lokasi di Kelurahan Tanjung Ketapang, Toboali, yang merupakan wilayah pesisir pantai, yakni di Kampung Padang, Batu Perahu, dan Sukadamai.
Maya, 57 tahun, adalah salah seorang perajin terasi yang bermukim di Sukadamai. Ia telah menggeluti usaha ini sejak 2023.
Siang itu, ia sedang menata udang rebon atau biasa disebut udang sungkur oleh masyarakat Babel, yang sedang dijemur di pelanger atau rak pengering yang terbuat dari kayu berukuran 6x1 meter agar udang kering merata.
Saat musim produksi terasi tiba, jajaran pelanger yang memanjang memenuhi tepi ruas Jalan Sukadamai menjadi sebuah pemandangan yang lumrah bagi masyarakat sekitar.
Aroma udang sungkur sebanyak hingga ribuan kilogram yang dijemur di bawah terik matahari menyeruak bercampur dengan aroma laut dari pesisir Pantai Sukadamai, Toboali.
Maya mengatakan, menjemur udang sungkur diharuskan di bawah sinar matahari yang terik agar udang dapat mengering dengan cepat.
Menurut Astawan M dalam buku “Udang rebon bikin tulang padat” (2009), udang sungkur atau udang rebon (Acetes Sp) merupakan salah satu jenis udang berukuran sangat kecil dibandingkan jenis udang lain. Udang sungkur merupakan bahan baku utama pembuatan terasi.
Sebutan sungkur didapatkan dari alat tradisional yang sederhana dan ramah lingkungan yang digunakan untuk menjaring atau menangkap udang jenis ini. Nelayan di Kecamatan Toboali menyungkur udang pada kedalaman 1-5 meter perairan pantai.
Jenis udang ini juga menjadi bahan baku utama pembuatan terasi Toboali. Keunggulan utama produk terasi ini, hanya menggunakan bahan baku udang sungkur, tanpa campuran dari ikan atau udang jenis lain yang turut terjaring sungkur nelayan. Adapun produk tambahan yang digunakan dalam pembuatan terasi hanyalah garam.
Saat ini, harga jual terasi dapat mencapai Rp40 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Salah satu faktor yang menyebabkan harga terasi Toboali mahal karena keterbatasan ketersediaan bahan baku udang sungkur atau rebon.
Musim udang sungkur
Para perajin terasi hanya dapat memproduksi terasi saat musim udang sungkur datang, biasanya mencapai puncak musim udang pada bulan Mei hingga Agustus setiap tahun.
Sepanjang musim udang sungkur, setiap perajin terasi dapat mengolah hingga ratusan kilogram udang sungkur menjadi terasi.
Maya mengakui, saat musim udang datang, dia mampu mengolah hingga 800 kilogram udang sungkur menjadi terasi.
Umumnya, para perajin terasi memperoleh sendiri bahan baku udang. Rata-rata perajin terasi adalah nelayan. Mereka merangkap menjadi perajin terasi.
Sama halnya dengan Maya, suaminya adalah seorang nelayan sekaligus penyedia bahan baku udang sungkur.
“Suami saya nelayan udang sungkur, tapi kalau bahan baku kurang, beli dari nelayan lain juga,” kata dia.
Kesegaran kualitas udang sungkur adalah kunci utama kelezatan terasi.
Mereka umumnya langsung mengolah udang sungkur yang mereka dapat dari laut dengan memisahkan udang sungkur dari berbagai jenis lain yang turut terjaring. Setelah itu mereka akan mencuci bersih udang sungkur dengan menggunakan air laut.
Setelah bersih, udang dijemur hingga setengah kering. Jika cuaca panas seharian, waktu penjemuran cukup membutuhkan waktu sehari.
Kemudian, udang diberi garam sesuai takaran. Udang kembali disimpan dalam wadah selama satu minggu untuk proses fermentasi. Selanjutnya, udang kembali dijemur hingga benar-benar mengering. Tingkat kekeringan udang menentukan daya tahan simpan terasi.
Setelahnya, udang yang telah kering ditumbuk menjadi terasi dan dibentuk kotak.
Dari 10 kilogram bahan baku udang sungkur hanya menghasilkan 3,5 kilogram terasi.
Maya mengakui permasalahan utama pembuatan terasi adalah ketersediaan bahan baku udang sungkur. Satu sisi, mereka harus terus menjaga kualitas terasi Toboali tanpa mencampur bahan baku dengan jenis ikan atau udang laut lainnya.
“Kalau untuk bahan baku memang sulit didapatkan di periode tertentu,” katanya.
Karena itu, saat musim udang sungkur tiba, para perajin akan memproduksi terasi dalam kapasitas besar.
Maya mengakui hal itu dilakukan agar ia memiliki stok terasi yang banyak, sehingga terus dapat menyediakan suplai bagi kebutuhan dan permintaan pasar.
Ia percaya diri untuk membuat stok terasi dalam jumlah banyak karena terasi dapat bertahan selama satu tahun dengan penyimpanan yang baik dalam kulkas. Selain itu, ia juga telah memiliki pangsa pasar dan konsumen yang loyal atas terasi buatannya.
Antisipasi bahan baku
Plt Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan Deka Indra mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi permasalahan ketersediaan bahan baku udang sungkur.
Ia mengakui kendala yang dihadapi perajin dalam pembuatan terasi Toboali adalah ketersediaan bahan bahan baku udang sungkur yang hanya tersedia musiman.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah daerah memberikan bantuan fasilitas mesin pembeku (freezer) kepada para pelaku usaha yang bergerak di bidang olahan hasil laut, seperti udang, ikan dan sebagainya.
Pada tahun 2023, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Selatan telah memberikan bantuan freezer kepada 43 pelaku industri kecil menengah (IKM) olahan hasil laut.
Ia menegaskan mesin pembeku ini dapat menyimpan bahan baku udang sungkur. Sehingga, perajin dapat menyimpang bahan baku saat musim udang datang dan menggunakannya kala musim udang telah berganti.
Tentunya, dengan pengelolaan penyimpanan yang baik, kualitas bahan baku dapat terjaga. Sehingga, kualitas terasi Toboali tetap terjamin.
Langkah tersebut merupakan upaya untuk menjaga keberlangsungan produksi terasi terus berjalan. Saat ini, juga permintaan terasi Toboali sangat tinggi.
Maya menambahkan permintaan paling banyak berasal dari pemilik warung makan di Kota Pangkalpinang yang menjual lempah kuning atau kuliner khas Bangka.
Saat ini para perajin terasi juga telah memasarkan produknya secara daring.
Maya mengakui pemasaran secara daring sangat membantu ia menjangkau pembeli dari luar Babel. Kini melalui lapak daring, ia telah mampu menyasar pembeli dari Bengkulu, Batam, Bali, Jakarta hingga Jawa Timur.
Selain itu, Maya juga mengirim pesanan ke Bengkulu, Batam, Bali, Jakarta hingga Jawa Timur.
Dalam satu bulan, Maya rata-rata mengirim permintaan terasi sebanyak 50 kilogram untuk daerah di luar Bangka Selatan, dan untuk kebutuhan konsumen di Bangka Selatan sendiri mencapai 20 kilogram.
Untuk harga bervariasi, jika saat lagi musim udang harga terasi Rp40 ribu per kilogram dan paling mahal Rp60 ribu per kilogram. Namun, jika tidak lagi musim udang, maka harga naik hingga Rp150 ribu per kilogram.
Untuk menambah nilai jualnya, Maya juga telah memiliki izin edar dan sertifikasi halal.
Pewarta : Feny Aprianti/Rusdiyanto
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
