Logo Header Antaranews Kalteng

Legislator Kotim jadikan pembukaan jalan di Kabuau contoh positif CSR

Rabu, 17 Juni 2026 22:47 WIB
Image Print
Proses penimbunan jalan sepanjang 10,2 kilometer yang melintasi kawasan danau di Desa Kabuau, Selasa (16/6/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Sampit (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menjadikan pembangunan jalan di Desa Kabuau, Kecamatan Parenggean, sebagai contoh keberhasilan pemanfaatan program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dalam mempercepat pembangunan infrastruktur.

“Jalan ini ditargetkan 2027 sudah bisa aman dan nyaman dilintasi. Kalau hanya mengandalkan APBD, kemungkinan jalan ini belum bisa dibangun seperti sekarang. Karena itu perusahaan perlu didorong agar CSR mereka benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” kata Anggota DPRD Kotim Andi Lala di Sampit, Rabu.

Andi menjelaskan, gagasan pembukaan jalan dimulai saat dirinya masih menjabat sebagai Kepala Desa Kabuau pada 2021, dengan tujuan secara perlahan membuka keterisolasian wilayah setempat yang sebelumnya cukup sulit dijangkau kendaraan darat.

Saat itu, pemerintah desa mencoba membangun komunikasi dengan sejumlah perusahaan untuk membantu pembukaan akses darat menuju desa.

Menurutnya, perusahaan pertama yang terlibat adalah PT KIU yang membantu pembukaan badan jalan sepanjang 7,2 kilometer. Setelah itu, dukungan dilanjutkan oleh PT WMGK dan PT SMP yang masing-masing berkontribusi membuka badan jalan sekitar 1,5 kilometer.

Melalui dukungan tersebut, akses dasar menuju Desa Kabuau mulai terbentuk secara bertahap. Namun proses pengerjaan tidak berjalan mudah karena sebagian besar jalur berada di kawasan rawa dan danau yang memerlukan penimbunan dalam jumlah besar.

“Pada 2021 kami mulai membuka badan jalan melalui dukungan CSR perusahaan. PT KIU membantu 7,2 kilometer, PT WMGK sekitar 1,5 kilometer dan PT SMP sekitar 1,5 kilometer. Dari situ akses mulai terbuka,” ungkapnya.

Politisi Partai Gerindra melanjutkan, tantangan utama pembangunan jalan tersebut terletak pada kondisi geografis kawasan yang didominasi danau dan dataran rendah.

Baca juga: Dishub Kotim siapkan sanksiberi efek jera pelanggar aturan

Dari total panjang sekitar 10,2 kilometer, kurang lebih 8,3 kilometer berada di kawasan danau yang harus ditimbun terlebih dahulu agar bisa dilalui kendaraan.

Kondisi itu membuat proses pembangunan membutuhkan waktu cukup panjang serta biaya besar. Penimbunan harus dilakukan bertahap karena medan yang sulit dan material yang dibutuhkan cukup banyak.

“Kenapa prosesnya cukup lama, karena yang dibangun bukan jalan biasa. Dari total 10,2 kilometer itu, sekitar 8,3 kilometernya berada di kawasan danau yang harus ditimbun terlebih dahulu. Tentu pekerjaan dan biayanya sangat besar,” jelasnya.

Upaya panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil pada 2023 ketika akses jalan berhasil tembus dan menghubungkan Kecamatan Parenggean dengan Desa Kabuau.

Setelah dirinya terpilih menjadi anggota DPRD Kotim, Andi Lala kembali mendorong perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan peningkatan jalan melalui program penimbunan.

Dalam tahap lanjutan itu, PT IBB ikut berpartisipasi dengan melakukan penimbunan sepanjang 4,2 kilometer. Hingga kini, sekitar 3 kilometer di antaranya telah berhasil dikerjakan sejak dimulai pada 2023.

Selain itu, PT Billy juga turut membantu pengerjaan penimbunan jalan sepanjang 4,2 kilometer. Pada 2025, realisasi pekerjaan yang telah selesai mencapai sekitar 2 kilometer dan pengerjaan masih terus berjalan secara bertahap.

“Setelah jalan tembus pada 2023, pembangunan dilanjutkan dengan penimbunan. PT IBB mengerjakan sekitar 4,2 kilometer dan sudah selesai kurang lebih 3 kilometer. Kemudian PT Billy juga 4,2 kilometer dan pada 2025 sudah terealisasi sekitar 2 kilometer,” ujarnya.

Baca juga: Pemkab Kotim targetkan lelang proyek infrastruktur selesai Juni

Ia menilai, apabila seluruh pembangunan jalan tersebut dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah daerah, maka anggaran yang diperlukan bisa mencapai puluhan miliar rupiah.

Oleh sebab itu, kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah dinilai menjadi solusi efektif dalam mempercepat pembangunan di wilayah pedalaman.

Andi menilai keberhasilan pembangunan jalan Kabuau seharusnya bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Kotim yang masih mengalami keterbatasan akses infrastruktur.

Ia menegaskan, program CSR perusahaan sebaiknya diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar berdampak langsung terhadap masyarakat.

Dengan terbukanya akses darat tersebut, aktivitas masyarakat kini menjadi lebih mudah, terutama dalam mengangkut hasil pertanian dan perkebunan.

Akses yang semakin baik juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru dan mempercepat mobilitas warga antar wilayah yang sebelumnya cukup terkendala kondisi geografis.

“CSR harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika diarahkan untuk pembangunan jalan, manfaatnya bisa dirasakan bertahun-tahun dan berdampak langsung terhadap perekonomian warga,” demikian Andi Lala.

Baca juga: Bapenda Kotim gencarkan strategi layanan jemput bola

Baca juga: Peningkatan pelayanan adminduk di Kotim diapresiasi masyarakat

Baca juga: DPRD Kotim apresiasi kemudahan bagi petani membeli BBM di SPBU



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026