Logo Header Antaranews Kalteng

Serapan gabah Bulog Kotim capai 58 persen

Senin, 29 Juni 2026 18:37 WIB
Image Print
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim Wahyu Tri Hutomo (kanan) didampingi Asisten Manager Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Kotim Wanto (kiri). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mencatat serapan Gabah Kering Panen (GKP) hingga akhir Juni 2026 telah mencapai sekitar 9.658 ton atau 58 persen dari target tahun 2026 sebesar 16.554 ton.

“Saat ini kami dari Perum Bulog Kacab Kotim masih melakukan penyerapan GKP serta beras, dan kami sudah menyerap sekitar 58 persen dari target 16.554 ton GKP yang diberikan Kantor Wilayah Kalimantan Tengah,” kata Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotim Wahyu Tri Hutomo di Sampit, Senin.

Ia menjelaskan, penyerapan gabah dan beras masih terus dilakukan untuk memperkuat stok pangan nasional sekaligus mendukung program swasembada pangan pemerintah. Adapun, wilayah kerja Perum Bulog Kacab Kotim meliputi tiga kabupaten, yakni Kotim, Katingan dan Seruyan.

Capaian di atas, berasal dari hasil penyerapan pada musim tanam pertama, sementara masih ada dua musim tanam lagi tahun ini, sehingga pihaknya optimistis bisa mencapai sisa target 42 persen sebelum akhir 2026.

“Jadi kami targetkan sisa dari 42 persen itu bisa masuk di semester kedua tahun ini. Berarti sekitar 7.000 ton atau 8.000 ton kita masih siap untuk menyerap gabah kering panen,” ujarnya.

Ia melanjutkan, daerah penyumbang serapan terbesar untuk wilayah kerja Bulog Cabang Sampit berasal dari Kotim, khususnya Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan, serta Kabupaten Katingan terutama wilayah Kelurahan Pegatan.

Baca juga: Pemkab Kotim kawal stabilitas harga telur demi lindungi peternak lokal

Sekitar pertengahan Juli sejumlah daerah diperkirakan mulai memasuki masa panen kedua, terutama wilayah Lempuyang dan Pegatan yang sebelumnya telah dipantau langsung oleh pihaknya, sehingga Bulog Kotim bersiap untuk menyerap hasil panen tersebut.

Sementara, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP masih tetap sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.

Terkait potensi dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian, Wahyu mengakui kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi produksi. Namun, ia tetap optimistis hasil panen petani pada musim tanam berikutnya dapat berjalan baik karena didukung teknologi pertanian dan bantuan sarana pengairan.

“Insyaallah, kami optimis bisa tercapai. Sekarang kan banyak teknologi seperti pompanisasi, bantuan juga banyak dari dinas untuk pompanisasi kalau memang kurang air,” ucapnya.

Ia menambahkan, meski target serapan nantinya telah tercapai 100 persen, Bulog tetap akan melakukan penyerapan hasil panen petani selama masih ada penugasan dari pemerintah pusat dan dukungan anggaran tersedia.

Untuk menjaga kualitas stok, gabah yang diserap Bulog terlebih dahulu diproses melalui mitra penggilingan sebelum disimpan dalam bentuk beras di gudang Bulog.

“GKP itu kami simpan di gudang sudah dalam bentuk beras, jadi kami bekerja sama dengan mitra penggilingan untuk digiling, nanti disetorkan ke Bulog dalam bentuk beras,” demikian Wahyu.

Baca juga: Dosen Universitas Darwan Ali dampingi KWT Mawar Sumber Makmur kembangkan jamu higienis dan pemasaran digital

Baca juga: Pemkab Kotim komitmen perkuat kemandirian fiskal daerah

Baca juga: Fraksi Golkar soroti ketergantungan Kotim terhadap dana transfer pusat



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026