Logo Header Antaranews Kalteng

Pemasangan listrik desa di Bukit Santuai ditargetkan rampung Agustus

Selasa, 14 Juli 2026 18:58 WIB
Image Print
Camat Bukit Santuai Agus Saptono memantau pengiriman tiang listrik di wilayahnya belum lama ini. ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Sampit (ANTARA) - Pemasangan listrik pada 10 desa di Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, ditargetkan rampung pada Agustus mendatang seiring dengan harapan terwujudnya ‘Santuai Terang 2026’.

“Saat ini dari 10 desa yang mendapat kuota listrik desa (lisdes) tahun ini, enam desa sudah selesai pemasangan tiang dan jaringan. Sedangkan, sisanya empat desa ditargetkan selesai Agustus nanti,” kata Camat Bukit Santuai Agus Saptono di Sampit, Selasa.

Agus menjelaskan, Kecamatan Bukit Santuai mendapat kuota lisdes untuk 10 desa tahun ini dari PT PLN melalui Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan Kalimantan Tengah (UP2K Kalteng).

Program ini juga hasil dari upaya koordinasi terus menerus yang dilakukan Pemkab Kotim, khususnya Bupati dan Wakil Bupati dalam mempercepat pemerataan akses listrik ke seluruh wilayah setempat.

Sejauh ini, enam desa di Bukit Santuai telah menyelesaikan pemasangan tiang dan jaringan listrik, yakni Desa Tumbang Batu, Tumbang Sepia, Tewai Hara, Tumbang Payang, Tumbang Kenia dan Tumbang Getas. Bahkan, khusus Desa Tumbang Batu, seluruh pemasangan instalasi rumah warga telah selesai.

Sementara itu, empat desa lainnya masih dalam proses pembangunan jaringan, yakni Tumbang Torung, Lunuk Bagantung, Tumbang Tawan dan Tumbang Seluang yang berada di wilayah paling ujung kecamatan.

“Dari empat desa itu yang tiang sudah terpasang dan sudah masuk lintas kabel, baru Tumbang Torung sampai ke Lunuk Bagantung. Sedangkan, yang masih proses mengangkut tiang ini adalah Desa Tumbang Tawan dan Desa Tumbang Seluang yang paling ujung,” sebutnya.

Baca juga: DPRD Kotim desak pengerukan Sungai Hantipan

Agus menceritakan, dalam upaya mewujudkan pemerataan listrik masuk desa ini, pihaknya sangat terbantu dengan keterlibatan perusahaan besar swasta (PBS) yang ada di wilayah setempat, yakni PT Agro Bimantara Plantation (ABP).

Disebutkan, bahwa PT ABP melakukan perbaikan sejumlah ruas jalan dan jembatan agar mobilisasi tiang listrik menuju desa-desa tersebut dapat berjalan lancar.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada PT ABP yang melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) turut mendukung pembangunan infrastruktur, khususnya perbaikan jalan dan jembatan yang menjadi akses utama pengangkutan material jaringan listrik.

“Kami dibantu oleh Bupati melalui surat permohonan kepada PT ABP. Walaupun empat desa itu berada di luar desa binaan perusahaan tersebut, mereka tetap membantu memperbaiki jalan dan jembatan demi mendukung agar seluruh desa di Bukit Santuai mendapat listrik tahun ini,” ujarnya.

Keterlibatan PT ABP ini menjadi sangat berarti di tengah tantangan besar yang pihaknya hadapi, khususnya wilayah Desa Tumbang Tawan dan Tumbang Seluang karena kondisi jalan yang rusak parah.

Kondisi itu seiring dengan tidak lagi beroperasinya perusahaan kayu PT Berkat Cahaya Timber (BCT) dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau dulu masih ada PT BCT, jalan di sana lancar. Sekarang sudah sekitar tiga tahun tidak beroperasi sehingga jalannya tidak layak dilalui, apalagi untuk mengangkut tiang listrik yang berat. Berkat kerjasama dengan PT ABP persoalan itu bisa dicarikan solusi,” jelasnya.

Baca juga: DPRD Kotim kawal penerapan perda narkoba hingga ke PBS

Ia melanjutkan, saat ini pemasangan tiang dan penarikan kabel telah mencapai Desa Lunuk Bagantung. Sedangkan pengangkutan tiang menuju Tumbang Tawan dan Tumbang Seluang masih berlangsung seiring perbaikan akses jalan.

“Target selesai sampai akhir Agustus untuk pemasangan tiangnya. Kalau penyalaan perdana sifatnya situasional dan akan kami koordinasikan dengan pemerintah daerah setelah seluruh jaringan dan instalasi rumah warga selesai,” tambahnya.

Agus menambahkan, Kecamatan Bukit Santuai memiliki 14 desa, dengan empat desa telah lebih dahulu menikmati listrik PLN, yakni Tumbang Tilap, Tumbang Kaminting, Tanah Haluan dan Tumbang Penyahuan.

Sebelum program tersebut berjalan, masyarakat di desa-desa yang belum berlistrik mengandalkan bantuan pembangkit tenaga surya serta genset untuk menunjang aktivitas sehari-hari, termasuk pelayanan pendidikan dan kesehatan.

"Kalau ada kegiatan di sekolah ataupun pelayanan kesehatan, selama ini menggunakan genset. Tentu biaya operasional menjadi lebih besar karena membutuhkan bahan bakar dan kapasitas dayanya juga terbatas," katanya.

Oleh sebab itu, kehadiran listrik PLN sangat dinantikan masyarakat karena diyakini akan meningkatkan kualitas pelayanan publik, akses informasi, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

"Masyarakat sangat berharap listrik ini segera masuk ke desa. Makanya kami mohon doanya agar semua berjalan lancar. Karena ini tentu luar biasa manfaatnya bagi masyarakat, mempermudah dalam berbagai urusan termasuk dalam urusan usaha,” demikian Agus.

Baca juga: Perumdam Tirta Mentaya Kotim realisasikan 680 SR murah

Baca juga: Pemkab Kotim usung GAMAS pererat hubungan ayah dan anak

Baca juga: Pemkab Kotim proyeksikan pendapatan Rp1,7 triliun pada KUA-PPAS 2027



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026