
BPBD Kotim gelar simulasi karhutla untuk uji respon cepat petugas

Sampit (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menggelar simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), untuk menguji kecepatan respons personel dan kesiapan peralatan di tengah meningkatnya ancaman karhutla pada musim kemarau.
"Kegiatan ini untuk melihat kesiapsiagaan, tadi ada gladi yang skenario dan non skenario yang tidak diketahui oleh para peserta," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Rabu.
Simulasi dilaksanakan usai Apel Siaga Bencana Karhutla dan Kekeringan dengan melibatkan personel gabungan dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, TNI, Polri, Manggala Agni, PMI, relawan, dunia usaha, serta sejumlah instansi terkait lainnya.
Berbeda dari simulasi biasa, BPBD sengaja menyiapkan dua pola latihan. Selain skenario yang telah diketahui peserta, petugas juga dihadapkan pada simulasi non skenario untuk menguji respons nyata terhadap laporan kebakaran yang muncul secara mendadak.
Lokasi simulasi tidak hanya dipusatkan di area Stadion 29 November Sampit, tetapi juga dilakukan di dua titik lain yang tidak diinformasikan sebelumnya kepada sebagian besar peserta, yakni di belakang Gedung Voli Indoor dan sekitar Puskesmas Baamang 2.
Menurut Multazam, metode tersebut dipilih agar evaluasi yang dilakukan benar-benar menggambarkan kesiapan personel maupun kelengkapan peralatan saat menghadapi kondisi darurat di lapangan.
"Makanya ada simulasi non skenario. Kita ingin melihat kesiapan sesungguhnya, baik personel maupun alat-alatnya," ujarnya.
Dari hasil evaluasi sementara, BPBD Kotim menilai kemampuan respons gabungan masih perlu ditingkatkan. Ia mengibaratkan tingkat kesiapan saat simulasi baru berada pada angka tiga dalam skala lima sehingga masih belum mencapai kondisi optimal.
"Hasilnya kami melihat masih perlu perbaikan. Kecepatan itu kalau angka satu sampai lima masih di angka tiga, belum optimal. Tapi itu nanti menjadi tugas kami," sebutnya.
Meski begitu, Multazam memastikan dalam operasional sehari-hari BPBD memiliki standar waktu tanggap yang jauh lebih cepat. Sejak menerima laporan hingga personel diberangkatkan dari posko, waktu persiapan ditargetkan tidak lebih dari lima menit.
Ia menambahkan, simulasi sengaja dilaksanakan saat ini karena intensitas kemunculan titik api mulai meningkat. Dalam beberapa hari terakhir BPBD mencatat hingga lima titik kebakaran yang berhasil ditangani lebih awal sehingga api tidak berkembang menjadi lebih luas.
"Kenapa kami lakukan hari ini? Selain memang ketersediaan waktu, yang kedua adalah eskalasi karhutla sudah mulai meningkat. Periode kemarin kami menemukan sampai lima titik. Walaupun dengan kecepatan yang kami lakukan, pemadaman lebih awal bisa kita lakukan," ucapnya.
Baca juga: Diskominfo Kotim edukasi literasi digital saat MPLS
Hingga 14 Juli 2026, BPBD Kotim mencatat karhutla telah menghanguskan sedikitnya 151,7 hektare lahan sejak Januari 2026. Selama periode tersebut terdeteksi 372 hotspot atau titik panas) dan terjadi 72 kejadian karhutla, dengan 64 kejadian berhasil ditangani petugas gabungan.
Dengan luasan kebakaran terbesar berada di wilayah tengah mencapai 77,93 hektare, disusul wilayah selatan seluas 72,33 hektare, sedangkan wilayah utara hanya 1,45 hektare.
BPBD juga mengingatkan ancaman karhutla diperkirakan semakin besar seiring prakiraan cuaca yang menunjukkan kondisi semakin panas dalam beberapa pekan mendatang.
Dalam hal ini, keterlibatan dunia usaha, khususnya pemegang konsesi, berperan penting dalam menentukan keberhasilan pengendalian karhutla. Jika seluruh perusahaan mampu mengamankan wilayah konsesinya masing-masing, maka beban penanganan pemerintah akan jauh lebih ringan.
Meskipun, menurutnya tantangan terbesar justru berada di kawasan gambut yang umumnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Karakteristik lahan gambut membuat api dapat terus menyala di bawah permukaan tanah meski bagian atas terlihat padam.
"Dari itulah pentingnya peningkatan kesiapsiagaan seluruh unsur penanggulangan bencana agar respons cepat dapat dilakukan sejak awal kemunculan titik api sehingga kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas dan sulit dikendalikan," demikian Multazam.
Baca juga: DPRD Kotim tekankan kesiapsiagaan karhutla diwujudkan lewat aksi nyata
Baca juga: Pemkab Kotim tekankan budaya inovasi demi tingkatkan kualitas layanan publik
Baca juga: Kotim perkuat sinergi hadapi ancaman karhutla dan krisis air bersih
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
