
TK Aisyiyah 1 Sampit kenalkan cinta lingkungan hidup saat MPLS

Sampit (ANTARA) - TK Aisyiyah 1 Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, memanfaatkan hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan mengajak peserta didik belajar di luar lingkungan sekolah melalui kunjungan ke kebun edukasi milik Dr Joni di Sampit.
“Kegiatan ini dalam rangka MPLS dengan tema pengenalan lingkungan. Kami ingin anak-anak melihat langsung lingkungan di luar sekolah, karena selama ini mereka lebih banyak belajar di kelas,” kata Kepala TK Aisyiyah 1 Sampit Misda Masitah di Sampit, Jumat.
Kegiatan dilaksanakan di halaman kantor Notaris Joni SH yang berlokasi di Suprapto. Di lokasi itu terdapat sekitar 35 jenis tanaman yang didominasi tanaman buah, seperti black sapote, matoa, sawo raksasa, ceri Jepang, ceri Vietnam, juwet putih, kenitu, mangga jumbo, anggur Brazil, markisa jumbo, hingga berbagai varietas jeruk.
Misda menjelaskan kegiatan tersebut diikuti sekitar 30 anak, terdiri atas 25 peserta didik baru dan sejumlah siswa angkatan sebelumnya agar dapat bersama-sama belajar, sebab tahun sebelumnya lokasi yang dipilih berbeda.
Pembelajaran di luar kelas kali ini dipilih agar anak-anak dapat mengenal beragam jenis tumbuhan, khususnya tanaman buah, secara langsung sehingga pengalaman belajar menjadi lebih nyata dan mudah dipahami.
Di lokasi tersebut, peserta didik diperkenalkan berbagai jenis tanaman buah, seperti jambu, kakao, hingga aneka tanaman langka yang dibudidayakan di kebun edukasi tersebut. Anak-anak juga diajak mengamati hasil perbanyakan tanaman menggunakan metode stek batang dan stek daun yang pernah dipraktikkan sebelumnya.
“Sekitar Mei kemarin kan, kami juga sempat ke sini. Saat itu anak-anak diajari berbagai metode tanam, seperti stek daun. Jadi, kesempatan ini mereka juga bisa melihat bagaimana hasil atau progres dari tanaman mereka sebelumnya,” tuturnya.
Selain mengenal jenis tanaman, guru juga mengaitkan pembelajaran dengan materi pengenalan rasa yang biasa diajarkan di sekolah, mulai dari rasa manis hingga pahit melalui buah-buahan yang mereka lihat dan panen bersama.
Misda mengatakan antusiasme anak-anak maupun orang tua sangat tinggi. Bahkan, sejumlah orang tua turut mendampingi putra-putrinya selama kegiatan berlangsung sehingga mereka juga memperoleh pengalaman belajar mengenai lingkungan.
“Kemarin saat diberitahu akan ke tempat Pak Joni, anak-anak sangat antusias. Orang tua juga banyak yang ingin ikut mendampingi dan kami persilakan. Jadi bukan hanya anak-anak yang belajar, orang tua juga ikut merasakan pengalaman ini,” ujarnya.
Baca juga: BMKG Kotim sebut ada pergeseran puncak musim kemarau
Ia menambahkan kolaborasi dengan Dr Joni telah beberapa kali dilakukan, termasuk kegiatan belajar menanam menggunakan berbagai metode. Menurutnya, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman belajar peserta didik sejak usia dini.
Misda juga menyampaikan apresiasi kepada Dr Joni yang telah membuka ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal berbagai tanaman, memahami proses pembibitan, hingga melihat langsung hasil budidaya tanaman.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Joni karena dengan bimbingan beliau anak-anak mengenal buah-buahan, berbagai jenis tumbuhan, hingga cara membibitkan tanaman. Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan keberkahan,” pungkasnya.
Sementara itu, Dr Joni mengatakan pendidikan lingkungan perlu dikenalkan sejak usia dini agar tumbuh kesadaran menjaga alam hingga dewasa. Menurutnya, anak-anak lebih mudah memahami konsep melalui praktik yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung.
“Anak-anak diajari mulai dari pembibitan, menanam dari daun, dari pucuk, dari batang, kemudian mereka melihat hasilnya sampai berbuah. Dari situ mereka belajar bahwa setiap proses akan menghasilkan manfaat,” tuturnya.
Selain sebagai notaris, Joni yang juga aktif sebagai akademisi dan peneliti di SMAS Muhammadiyah Sampit yang beberapa tahun terakhir ini mengembangkan berbagai metode perbanyakan tanaman, di antaranya melalui stek daun dan stek batang.
Ia pun menyambut baik inisiatif pihak sekolah untuk membawa anak-anak belajar mengenal lingkungan terutama berbagai jenis tumbuhan dan metode tanam di kebun pribadi miliknya. Ia menilai kegiatan seperti ini penting. Karena materi pembelajaran memang perlu disesuaikan dengan fase pendidikan anak.
Contoh, pada jenjang taman kanak-kanak, fokus diberikan pada pengenalan tanaman dan proses menanam. Lalu, pada jenjang SD sudah mulai melakukan praktek tanam, SMP dikenalkan dengan pemupukan, lalu SMA diajarkan cara mencangkok hingga inovasi budidaya tanaman.
“Maka dari itu, harapannya kegiatan pembelajaran seperti itu dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya membangun kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan melalui aktivitas bercocok tanam,” demikian Joni.
Baca juga: Bandara Haji Asan Sampit perkuat keamanan demi tingkatkan rute penerbangan
Baca juga: Polres Kotim selidiki dugaan pembakaran lahan di lima lokasi
Baca juga: BPBD Kotim gelar simulasi karhutla untuk uji respon cepat petugas
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
