Logo Header Antaranews Kalteng

BPBD Kotim imbau perusahaan bantu pasok air bersih dan padamkan karhutla

Sabtu, 25 Juli 2026 16:32 WIB
Image Print
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur, Multazam. ANTARA/HO-BPBD Kotim

Sampit (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, meminta perusahaan besar membantu pemerintah daerah mengatasi kesulitan air bersih serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang melanda daerah ini.

"Mudah-mudahan perusahaan dan desa yang berada di sekitar lokasi perusahaan juga dapat membantu desa-desa sekitar untuk kebutuhan air bersih," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam di Sampit, Sabtu.

Multazam mengutip pernyataan pakar Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin yang memperingatkan adanya potensi fenomena Super El Nino pada 2026. Karakter dan puncak El Nino kali ini diprediksi akan lebih tinggi dibanding El Nino pada 2023 lalu.

Seiring pendapat itu, kata Multazam, kondisi cuaca di awal Juli sudah terasa sekali dampak El Nino. Untuk itu kewaspadaan harus ditingkatkan, terlebih karhutla dan kekeringan yang melanda daerah ini.

"Nantinya akan ada pilihan, air bersih atau air pemadaman. Mudah-mudahan karhutla terkendali, sehingga kami bisa membagi kekuatan untuk distribusi air bersih. Pilihan ini memberi konsekuensi masing-masing," timpal Multazam.

Sudah sekitar dua pekan kekeringan di wilayah selatan Kotawaringin Timur menyebabkan warga sejumlah desa kesulitan mendapatkan air bersih. Pemerintah daerah melalui Perumdam Tirta Mentaya bersinergi dengan BPBD pun harus memasok air bersih dari Sampit menggunakan mobil tangki ke desa-desa tersebut.

Terbaru, BPBD menerima laporan warga Desa Tanah Putih Kecamatan Telawang bahwa masyarakat di salah satu dukuh di desa tersebut kesulitan air bersih. Warga meminta bantuan pemerintah daerah dan solusi menghadapi kesulitan air bersih yang dikhawatirkan akan cukup lama.

Baca juga: PT HSL membangun ekosistem pemberdayaan dari kaderisasi lokal, koperasi hingga pertumbuhan warung menjadi pasar

BPBD khawatir kesulitan air bersih meluas ke wilayah lain, termasuk wilayah utara atau kawasan hulu Sungai Mentaya. Hal itu bisa terjadi karena jika sungai surut maka kualitas air menurun lantaran tingkat kekeruhan tinggi sehingga tidak layak digunakan untuk konsumsi.

Menurut Multazam, saat ini sebagian warga mungkin masih bisa menggunakan air isi ulang, namun itu hanya bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu, khususnya yang mempunyai kemampuan membeli air isi ulang.

"Kalau masyarakat yang berpenghasilan rendah dan apalagi kalau di dalamnya ada kelompok rentan. Misal orang tua renta yang terbatas, kelompok disabilitas, ibu hamil dan menyusui serta anak-anak. Air isi ulang juga harus di pastikan di produksi sesuai kriteria dan ketentuan," timpalnya.

Oleh karena itu BPBD Kotawaringin Timur mengimbau perusahaan besar membantu penanggulangan karhutla serta kesulitan air bersih. Desa yang sudah mampu memenuhi kebutuhan air bersihnya, diharapkan juga bisa membantu pasokan air bersih ke desa-desa lain yang sedang membutuhkan.

Multazam mengapresiasi langkah salah satu perusahaan besar perkebunan kelapa sawit yang membantu pembuatan sumur bor dalam di Desa Bagendang Tengah Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Bantuan tersebut terbukti sangat bermanfaat sehingga warga setempat bisa menggunakannya sebagai sumber air bersih, termasuk saat kemarau seperti sekarang ini.

"Ada contoh di desa Bagendang Tengah. Ada unit sumur bor dalam dari CSR pihak ketiga. Sekarang berproduksi baik. Berdasarkan laporan bulan Mei/Juni 2026 saat kami pertemuan persiapan menghadapi bencana karhutla dan kekeringan. Ini bisa menjadi contoh," demikian Multazam.

Baca juga: Karhutla meningkat, PT Globalindo Alam Perkasa perkuat upaya pemadaman dan edukasi pencegahan bersama masyarakat

Baca juga: Masyarakat Kotim diimbau tidak menganggap remeh perundungan pada anak

Baca juga: Fraksi Gerindra Kotim dorong penanganan permukiman kumuh terpadu



Pewarta :
Uploader: Admin 1
COPYRIGHT © ANTARA 2026