
BPBD Kotim ubah strategi pemadaman dengan menargetkan waktu subuh

Sampit (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengubah strategi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menargetkan waktu subuh, sebab kondisi angin yang lebih rendah dinilai memungkinkan api dipadamkan secara lebih maksimal.
“Secara taktis waktu kami akan atur, kami akan melakukan pemadaman subuh. Karena waktu itu kecepatan angin rendah, sehingga kami bisa melakukan pemadaman secara total,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Senin.
Multazam menjelaskan, mengatakan perubahan strategi tersebut merupakan bagian dari hasil analisis dan evaluasi setelah pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat karhutla.
Evaluasi diperlukan untuk melihat efektivitas penanganan yang telah dilakukan sekaligus menyusun skenario baru menghadapi karhutla yang terus berkembang dan mulai berdampak langsung terhadap lingkungan permukiman.
Salah satu pertimbangan utama adalah dampak kebakaran terhadap kesehatan masyarakat. Untuk itu, BPBD berupaya mengoptimalkan kinerja satuan tugas di lapangan dengan mengatur kembali waktu dan pola pemadaman agar api aktif dapat diputus secepat mungkin.
“Jadi upaya-upaya maksimal dari tim satgas darat selama ini sebenarnya sudah cukup bagus, hanya saja tactical waktu yang akan kita atur. Kita berharap fire active (kebakaran aktif) bisa cepat kita putus," ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 9 Agustus 2026, tercatat sebanyak 218 kejadian karhutla di wilayah tersebut. Kebakaran itu menghanguskan lahan dengan luas lebih dari 385 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Baca juga: Bupati Kotim perintahkan camat hingga kepala desa siaga cegah karhutla
Selain kejadian kebakaran, pemantauan terhadap titik panas juga menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai. Akumulasi hotspot di Kotim sejak Januari hingga saat ini telah mencapai 1.531 titik yang tersebar di seluruh kecamatan.
Multazam menyebutkan, situasi karhutla saat ini semakin kompleks karena sejumlah titik api telah mendekati kawasan perumahan. Beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain Jalan Pandawa, Jalan Bumi Raya, Jalan Walter Hugo dan Kilometer 7-8 Jalan Tjilik Riwut.
Kebakaran juga terjadi di sekitar kebun masyarakat yang sebagian baru ditanami sekitar dua tahun. Menurutnya, sebagian kejadian diduga berkaitan dengan pembukaan lahan menggunakan cara membakar, namun api kemudian meluas akibat kondisi angin yang kencang.
“Mereka ingin membuka kebun dengan cara membakar, tetapi mereka lupa bahwa kecepatan angin dampaknya sangat luar biasa,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pengendalian karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga pencegahan agar kebakaran tidak merambat ke pemukiman dan kawasan lain yang memiliki aktivitas masyarakat.
Di sisi lain, BPBD juga mulai memperhitungkan daya tahan personel yang telah bekerja dalam waktu panjang. Sebagian petugas bahkan harus bekerja lebih dari 12 jam per hari, dengan beberapa di antaranya mencapai 16 hingga 18 jam.
“Perjalanan kita masih panjang. Kita baru sekitar dua per lima atau satu per enam, sementara ancaman masih terjadi sekitar lima bulan ke depan,” tutur Multazam.
Ia menyebut pengaturan ritme kerja menjadi penting agar kekuatan personel tetap terjaga. Saat ini sekitar 150 personel bertugas setiap hari, ditambah dukungan relawan, termasuk dari Palang Merah Indonesia (PMI).
Baca juga: Marak karhutla di Kotim, orang utan selamatkan diri ke kebun warga
Secara fisik, lanjut Multazam, sebagian besar petugas masih mampu menjalankan tugas. Namun, tanda-tanda kelelahan mulai terlihat karena sejumlah personel telah meminta izin tidak bertugas akibat kondisi tubuh yang menurun.
“Saya yakin dalam hitungan tujuh hari ke depan pasti ada yang tumbang. Sudah banyak yang izin karena kelelahan, ada juga yang sakit, tetapi yang paling banyak karena kelelahan,” bebernya.
Untuk menjaga stamina, BPBD berupaya memastikan kebutuhan makanan dan minuman petugas tetap terpenuhi. Dukungan relawan juga dinilai sangat membantu, termasuk bantuan minuman dan makanan bergizi bagi personel yang berada di lapangan.
Disamping penguatan pemadaman darat, BPBD Kotim juga berharap penerapan taktik baru yang telah dikaji secara akademis dapat membantu penanganan kebakaran di lahan gambut.
Pemadaman di lahan gambut dinilai membutuhkan penanganan yang tepat agar ekosistem yang terbakar tetap memiliki peluang untuk pulih secara alamiah dan tidak semakin terganggu.
“Kita berharap gambut yang terbakar ini bisa dipulihkan secara alamiah tanpa terganggu bahan-bahan tertentu,” harapnya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menyebut adanya indikasi perilaku sengaja membakar lahan dalam skala kecil karena berharap petugas pemadam datang, namun tindakan tersebut justru berisiko memicu kebakaran yang lebih besar.
“Kadang kebakaran kecil sengaja dibuat karena ingin melihat unit pemadam datang, tetapi mereka lupa kebakaran kecil kemudian bisa menjadi membesar,” demikian Multazam.
Baca juga: Kapolres dan Wabup Kotim turun langsung padamkan karhutla di Sampit
Baca juga: DPRD Kotim minta sekolah patuhi penyesuaian jam belajar selama kabut asap
Baca juga: Pemkab Kotim perkuat pemahaman aturan untuk tekan eskalasi karhutla
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
