Logo Header Antaranews Kalteng

Kecamatan Arsel dan Kumai jadi fokus utama penanganan karhutla di Kobar

Selasa, 18 Agustus 2026 11:27 WIB
Image Print
Bupati Nurhidayah bersama Forkompinda Kobar saat diwawancarai awak media, Minggu (16/8/2026). ANTARA/Safitri RA

Pangkalan Bun (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah Nurhidayah menyatakan, Kecamatan Arut Selatan (Arsel) dan Kumai menjadi wilayah yang harus mendapatkan penanganan serius dalam musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah setempat.

"Dari sebaran wilayah, Kecamatan Arut Selatan dan Kumai menjadi wilayah yang perlu mendapatkan perhatian khusus, baik dari jumlah hotspot, kejadian dan luasan kebakaran," kata Nurhidayah di Pangkalan Bun, Selasa.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Kecamatan Kumai menjadi wilayah terluas yang terdampak karhutla dengan total luasan kurang lebih 564,91 hektare, dan 100 titik panas serta 62 kejadian

Sementara, untuk Kecamatan Arut Selatan menjadi wilayah terbanyak terjadinya karhutla dengan jumlah sebanyak 88 kejadian, 215 titik panas, serta luas lahan yang terbakar 145,675 hektare.

Serta kecamatan lainnya, untuk Kecamatan Arut Utara terdapat 63 titik panas, 4 kejadian dan luasan yang terbakar 30,5 hektare, Kotawaringin Lama terdapat 31 titik panas, 8 kejadian dengan luasan yang terbakar 32,1 hektare.

Kecamatan Pangkalan Banteng terdapat 8 titik panas, 8 kejadian dengan luas terbakar 11,75 hektare, dan Pangkalan Lada 0 titik panas, 5 kejadian dengan luas terbakar 7,50 hektare.

Untuk total keseluruhan di wilayah Kabupaten Kobar, tercatat 417 titik panas (hotspot), 173 Kali Kejadian dengan Luas yang terbakar seluas 792,44 hektare.

Nurhidayah menyampaikan, jumlah tersebut menunjukkan bahwa kejadian karhutla di wilayah Kotawaringin Barat terus meningkat dan perlu menjadi perhatian bersama.

Kobar saat ini telah berada dalam status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan, maka dalam penanganannya harus bekerja lebih cepat, lebih terkoordinasi dan lebih terukur.

"Kita harus bergerak secara terpadu jangan sampai ada ego sektoral, karena karhutla adalah tanggung jawab kita bersama," tegasnya.

Menurutnya, seluruh unsur harus bergerak dalam satu koordinasi dan satu tujuan, agar dapat mencegah kebakaran meluas, melindungi masyarakat, dan menjaga lingkungan Kabupaten Kobar.

"Lebih baik kita memadamkan api ketika masih kecil, dari pada menghadapi kebakaran yang sudah meluas dan sulit dikendalikan," ungkapnya.

Nurhidayah meminta kepada para petugas Satgas Karhutla, untuk aktif melakukan pemantauan wilayah, terutama terhadap daerah yang memiliki risiko tinggi terjadinya karhutla.

"Pastikan informasi dari masyarakat segera diterima dan diteruskan, kecepatan laporan dan respons awal di tingkat wilayah, sangat menentukan keberhasilan mengendalikan api," demikian Nurhidayah.

Baca juga: Pemkab Kobar gelar shalat Istisqa meminta turun hujan atasi karhutla

Baca juga: Sebanyak 464 WBP Lapas di Kobar terima remisi pada moment HUT RI ke-81

Baca juga: Bupati Kotawaringin Barat: Jangan pernah melupakan sejarah



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026