
Kotim siapkan shalat Istisqa berharap turun hujan padamkan karhutla

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menyiapkan pelaksanaan shalat Istisqa sebagai salah satu ikhtiar memohon hujan di tengah kemarau yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di sejumlah wilayah.
“Memang kita juga akan mempersiapkan itu. Saat ini kita koordinasi dengan beberapa pengurus masjid dan ulama untuk melaksanakan itu,” kata Bupati Kotim Halikinnor di Sampit, Kamis.
Halikinnor menjelaskan, rencana pelaksanaan shalat Istisqa tersebut dilakukan sejalan dengan imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kotim yang mengajak umat Islam memperbanyak ikhtiar melalui shalat sunah untuk memohon turunnya hujan.
Kondisi kemarau panjang saat ini telah memberikan dampak terhadap penanganan karhutla karena kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar. Karena itu, shalat Istisqa diharapkan menjadi salah satu bentuk ikhtiar bersama masyarakat.
Kendati begitu, Halikinnor mengatakan waktu dan lokasi pelaksanaan shalat Istisqa belum ditentukan. Pemkab Kotim masih melakukan koordinasi dengan MUI, pengurus masjid dan para ulama agar pelaksanaannya dapat dipersiapkan dengan baik.
“Nanti kita koordinasikan dulu dengan para pengurus. Karena itu kan kita harus koordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap ikhtiar melalui pelaksanaan shalat Istisqa dapat berjalan beriringan dengan berbagai upaya penanganan karhutla yang saat ini dilakukan pemerintah bersama seluruh unsur terkait.
Halikinnor mengatakan Satgas Penanggulangan Karhutla terus melakukan pemadaman di sejumlah lokasi, khususnya wilayah yang berada di sekitar kawasan perkotaan. Petugas bahkan bekerja sejak pagi hingga malam untuk mengendalikan api.
"Kita dari pagi, siang, sore, bahkan sampai malam kita memadamkan karena memang api di mana-mana muncul," ungkapnya.
Menurut Halikinnor, kondisi karhutla yang terjadi saat ini membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Selain memperkuat penanganan kebakaran, masyarakat memiliki peran penting dengan mencegah aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api baru.
Ia secara khusus meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka maupun membersihkan areal. Dalam kondisi kemarau panjang, api yang semula digunakan untuk kepentingan pribadi dapat dengan cepat meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
"Saya minta janganlah, karena dampaknya bersihkan lahan dia, tapi akibatnya melebar ke mana-mana dan dampaknya sangat luas, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan segala macamnya," tegas Halikinnor.
Halikinnor juga meminta aparat kepolisian meningkatkan patroli untuk mencegah kemungkinan adanya pembakaran lahan secara sengaja. Menurutnya, pencegahan menjadi bagian penting agar upaya pemadaman yang dilakukan petugas tidak terus dihadapkan dengan munculnya titik api baru.
Baca juga: Gebyar PAUD Kotim tanamkan nasionalisme dan karakter anak sejak dini
Sebelumnya, MUI Kotim turut mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar keagamaan melalui shalat Istisqa. Ketua Umum MUI Kotim Amrullah Hadi mengatakan imbauan tersebut telah dituangkan dalam surat Nomor 12/H-MUI-Kab.Kotim/VIII/2026 yang diterbitkan pada 17 Agustus 2026.
“Dalam menyikapi musim kemarau panjang dan adanya kebakaran lahan sehingga asap tebal menyelimuti wilayah Kotim, MUI Kotim mengimbau kepada bapak ibu kaum muslimin dan muslimat di wilayah Kotim untuk melaksanakan shalat Istisqa,” tutur Amrullah.
Ia menerangkan, pelaksanaan shalat Istisqa dapat dikoordinasikan oleh berbagai unsur, mulai dari organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan hingga pengurus masjid di masing-masing wilayah.
“Pelaksanaan shalat yang dikoordinir organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan atau pengurus masjid,” ujarnya.
MUI Kotim juga telah menyertakan tata cara pelaksanaan shalat Istisqa dalam surat imbauan tersebut sebagai pedoman bagi masyarakat. Dengan adanya panduan tersebut, pelaksanaan shalat dapat dilakukan secara terkoordinasi sesuai ketentuan.
Amrullah berharap shalat Istisqa menjadi bagian dari doa dan ikhtiar bersama masyarakat Kotim agar hujan segera turun, kemarau berakhir, serta kondisi karhutla dan kabut asap yang terjadi saat ini dapat segera teratasi.
“Ikhtiar menghadapi kemarau tidak hanya dilakukan melalui penanganan kebakaran di lapangan, tetapi juga melalui pencegahan, keterlibatan masyarakat dan doa bersama agar kondisi cuaca segera berubah dan ancaman karhutla dapat ditekan,” demikian Amrullah.
Baca juga: Pemkab Kotim berlakukan belajar dari rumah cegah siswa terpapar asap
Baca juga: Seluruh OPD Pemkab Kotim dikerahkan pasok air percepat pemadaman karhutla
Baca juga: Prioritaskan kesehatan siswa, DPRD Kotim desak hentikan pembelajaran tatap muka
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
