Logo Header Antaranews Kalteng

Petani semangka Desa Henda atur musim tanam berdasar momen Ramadhan

Kamis, 3 September 2026 11:32 WIB
Image Print
Tim peneliti UMPR. (ANTARA/UMPR)

Palangka Raya (ANTARA) - Dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) menemukan petani semangka di Desa Henda, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, mengatur waktu tanam dengan menghitung mundur dari momentum Ramadan untuk mendapatkan waktu panen ketika permintaan dan harga komoditas tersebut meningkat.

Ketua Tim Peneliti UMPR, Endang Sri Suyati di Palangka Raya, Kamis mengatakan pola tersebut menjadi salah satu temuan awal penelitian mengenai pengelolaan keuangan rumah tangga di kawasan lahan gambut Kalimantan Tengah.

"Petani menyesuaikan waktu tanam dengan momentum pasar. Mereka menghitung waktu tanam agar semangka dapat dipanen menjelang bulan puasa ketika permintaan meningkat," katanya.

Penelitian tersebut dilakukan bersama Dr Iin Nurbudiyani dan Wening Mustikaningsih dengan Desa Henda dan Desa Tumbang Nusa sebagai lokasi penelitian.

Tim memetakan bagaimana rumah tangga, khususnya ibu rumah tangga, mengatur pendapatan, pengeluaran, modal usaha, serta kewajiban pembiayaan.

Di Desa Henda, petani tidak selalu menanam pada tanggal yang sama. Perbedaan kondisi lahan, terutama posisi lahan terhadap sumber air, membuat waktu tanam dapat berbeda antarpelaku usaha.

Tim peneliti mencatat kebutuhan modal untuk satu musim tanam berkisar puluhan juta hingga sekitar Rp100 juta. Modal tersebut sebagian besar diperoleh melalui pinjaman sehingga kemampuan mengatur arus kas menjadi penting bagi keberlanjutan usaha.

Endang mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan rumah tangga petani tidak hanya berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga waktu ketika pendapatan diterima dan kebutuhan pengeluaran muncul.

Dia mengatakan bahwa pada penelitian yang dilaksanakan tiga bulan lalu di Desa Henda, momentum penerimaan dari penjualan semangka berkaitan dengan meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Sementara itu, sebagian besar masyarakat desa tersebut memiliki kebutuhan pengeluaran yang meningkat menjelang perayaan Natal pada Desember.

Dengan kondisi tersebut, waktu memperoleh pendapatan terbesar tidak selalu bertepatan dengan periode ketika kebutuhan rumah tangga meningkat. Bahkan pada November dan Desember, petani mulai membutuhkan modal untuk memasuki musim tanam berikutnya.

Di sisi lain, kewajiban pembayaran pinjaman berlangsung secara rutin setiap bulan. Kondisi ini menjadi tantangan karena pendapatan petani bersifat musiman, sedangkan cicilan harus dibayarkan berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.

Penelitian juga menemukan adanya mekanisme penyesuaian pembayaran pada lembaga keuangan komunitas di Desa Henda.

Anggota yang mengalami kesulitan memenuhi setoran bulanan dapat mengajukan pengurangan nominal pembayaran dengan pokok pinjaman tetap dan masa pembayaran diperpanjang.

Sebagai contoh, anggota yang semula memiliki kewajiban setoran Rp1 juta per bulan dapat menyesuaikannya menjadi Rp700 ribu atau Rp500 ribu sesuai kemampuan pada periode tertentu.

Menurut tim peneliti, mekanisme tersebut menunjukkan adanya upaya masyarakat menyesuaikan sistem pembiayaan dengan karakteristik pendapatan petani yang tidak selalu sama setiap bulan.

Selain faktor ekonomi, penelitian menemukan nilai spiritual turut memengaruhi cara masyarakat memandang kemampuan membayar pinjaman.

Salah seorang pengurus lembaga keuangan komunitas menjelaskan keterlambatan pembayaran sebagai kondisi ketika "belum sampai rezeki".

Tim peneliti melihat pemaknaan tersebut sebagai bagian dari cara masyarakat menghadapi ketidakpastian pendapatan dan risiko usaha. Sikap menerima kondisi tersebut juga dinilai dapat membantu rumah tangga menghadapi kegagalan musim tanam maupun hasil usaha yang tidak sesuai harapan.

Endang mengatakan temuan awal itu menjadi bahan untuk melihat kebutuhan pembiayaan pertanian dari perspektif yang lebih sesuai dengan pola pendapatan masyarakat di lahan gambut.

Menurut dia, skema pembiayaan bagi petani dapat mempertimbangkan waktu panen, kondisi produksi, fluktuasi harga, serta risiko seperti kekeringan dan banjir, sehingga kewajiban pembayaran tidak sepenuhnya menggunakan jadwal tetap yang tidak berkaitan dengan siklus usaha.

Tim peneliti masih melakukan pencatatan keuangan rumah tangga selama satu siklus musim dan wawancara mendalam lanjutan. Hasil penelitian selanjutnya akan dibahas bersama masyarakat, perbankan daerah, dan instansi terkait untuk merumuskan rekomendasi pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik rumah tangga petani di kawasan lahan gambut.

Seorang petani yang menjadi informan penelitian mengatakan dirinya cenderung memanen seminggu sebelum Ramadan, sedangkan petani lain memperkirakan sekitar 10 hari sebelum bulan puasa.

"Kadang ada yang memperkirakan sepuluh hari sebelum mulai puasa. Kalau saya sendiri lebih suka satu minggu sebelum puasa. Tapi biasanya kami tidak lama, paling dua minggu kami selesai panennya," ujar petani tersebut.

Perbedaan waktu tanam itu dilakukan agar waktu panen antarlahan tetap berada dalam periode yang berdekatan.

Berdasarkan keterangan informan, seluruh kegiatan panen dapat diselesaikan sekitar dua pekan. Selain menyesuaikan waktu tanam, petani juga melakukan rotasi penggunaan lahan.

"Semangka, berdasarkan keterangan petani, hanya dapat ditanam berturut-turut sekitar tiga kali pada lahan yang sama karena penanaman berikutnya berisiko terserang penyakit dan menimbulkan kerugian," kata Endang.

Petani kemudian berpindah menggunakan lahan lain. Seorang informan bahkan menyebut memiliki empat hingga lima lokasi yang digunakan secara bergantian.

Petani juga tidak selalu menanam semangka setiap tahun. Keputusan melewatkan musim dapat dilakukan apabila harga diperkirakan kurang menguntungkan atau risiko gagal panen dinilai terlalu tinggi.

Baca juga: UMPR seleksi wawancara 125 calon penerima bantuan KIP kuliah

Baca juga: Tim UMPR raih tiga prestasi di ECO-MISSION AR

Baca juga: Peneliti UM Palangkaraya kembangkan alat ukur kompetensi wirausaha siswa SMK



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026