
Ratusan mahasiswa Umsa di Kotim laksanakan Shalat Istisqa

Sampit (ANTARA) - Ratusan mahasiswa dan warga Muhammadiyah melaksanakan Shalat Istisqa di halaman Universitas Muhammadiyah Sampit (Umsa), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang dan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Motivasi saya mengikuti Shalat Istisqa ini karena saya merasa prihatin dengan kondisi Kotim saat ini. Selama musim kemarau karhutla ada di mana-mana, belum lagi kabut asap dan kekeringan," kata salah seorang mahasiswa Umsa, Muslimah di Sampit, Jumat.
Hal ini ia sampaikan usai mengikuti Shalat Istisqa berjamaah di halaman Umsa, Jalan Ki Hajar Dewantara Nomor 3 Sampit.
Muslimah menyadari tidak dapat terlibat langsung dalam upaya pemadaman karhutla, namun doa bersama melalui Shalat Istisqa menjadi bentuk kepedulian yang dapat dilakukan sebagai seorang mahasiswa.
"Dengan shalat ini kita bersama-sama berdoa, meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan. Walaupun saya tidak bisa membantu memadamkan kebakaran, saya berharap dengan doa bersama ini situasi kita bisa membaik," tuturnya.
Rektor Umsa Ramadansyah menjelaskan, pelaksanaan Shalat Istisqa tersebut merupakan inisiatif Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kotim yang dilaksanakan di lingkungan kampus dengan melibatkan civitas akademika dan warga Muhammadiyah.
Kemarau yang berlangsung lebih dari dua bulan telah menyebabkan Kotim menghadapi kondisi yang semakin berat, terutama akibat karhutla yang memicu munculnya kabut asap.
"Alhamdulillah hari ini atas inisiatif dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah, bertempat di halaman Universitas Muhammadiyah Sampit, kami melaksanakan Shalat Istisqa untuk memohon ampunan dan rahmat dari Allah agar segera diturunkan hujan," ucapnya.
Kegiatan itu diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dari berbagai unsur Muhammadiyah, mulai dari mahasiswa Umsa, pelajar SMA, SMK dan SMP Muhammadiyah, Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah serta warga dan simpatisan.
Ramadansyah berharap hujan yang turun nantinya tidak hanya mengakhiri kekeringan, tetapi juga membantu memadamkan karhutla dan mengembalikan kesegaran udara di wilayah yang dikenal sebagai Bumi Habaring Hurung tersebut.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kotim I Wayan Alaf mengatakan Shalat Istisqa merupakan bagian dari tuntunan dalam Islam ketika umat menghadapi kekeringan dan berkepanjangan tidak turun hujan.
Ia menyebut, pelaksanaan ibadah tersebut merupakan bentuk ikhtiar dengan mengerahkan kekuatan doa dan kebersamaan umat untuk memohon pertolongan Allah Subhanahu wa ta'ala, agar kondisi lingkungan segera membaik.
Baca juga: DPMPTSP Kotim perkuat pemahaman pelaku usaha apotek terkait perizinan
Wayan menilai persoalan yang dihadapi Kotim bukan sekadar kekeringan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan lingkungan yang serius karena karhutla turut berdampak terhadap kualitas udara masyarakat.
"Bukan hanya secara fisik kita lihat di sekitar kita kering kerontang, tetapi kualitas udara kita juga memburuk. Berdasarkan ISPU juga menunjukkan indeks yang berbahaya, bahkan sempat hampir 700, sedangkan standar udara sehat hanya sekitar 1 sampai 50," sebutnya.
Wayan mengajak masyarakat tidak berhenti pada pelaksanaan Shalat Istisqa, tetapi melanjutkannya dengan memperbanyak istighfar, bersedekah, berbuat kebajikan dan melakukan introspeksi terhadap perilaku manusia terhadap lingkungan.
Ia juga mengajak organisasi Islam dan seluruh komponen masyarakat yang belum melaksanakan Shalat Istisqa untuk bersama-sama menggelar kegiatan serupa sebagai bentuk ikhtiar menghadapi kemarau dan karhutla.
"Bagi yang belum melakukan, kita minta untuk ikut ramai-ramai atau secara serempak kita menggalakkan kegiatan semacam ini, sesuai dengan sunnah Rasulullah," pungkasnya.
Disisi lain, Khatib Shalat Istisqa di Umsa, Alivermana Wiguna mengingatkan bahwa permohonan hujan harus dibarengi dengan perubahan perilaku dalam menjaga lingkungan.
"Setelah melaksanakan Shalat Istisqa, kita harus banyak istighfar, bersedekah dan introspeksi diri. Kita juga harus berjanji kalau hujan turun, kita benar-benar menjaga alam, menanam pohon, menghemat air dan mengelola air dengan baik," ucapnya.
Baca juga: DPMPTSP Kotim perkuat pemahaman pelaku usaha apotek terkait perizinan
Dia juga menekankan pentingnya menjaga sungai dari sampah serta memperbaiki pengelolaan sampah sebagai bagian dari upaya mencegah persoalan lingkungan semakin parah.
Menurut Alivermana, bencana yang terjadi hendaknya menjadi bahan evaluasi bagi manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki cara memperlakukan alam.
Ia menyoroti kerusakan hutan dan penggundulan sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian serius, karena kelestarian kawasan hutan berkaitan erat dengan keseimbangan lingkungan dan siklus air.
Melalui kegiatan tersebut, Muhammadiyah Kotim berharap ikhtiar keagamaan dapat berjalan beriringan dengan upaya nyata masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi karhutla, kekeringan, kabut asap serta dampaknya terhadap kehidupan warga.
Shalat Istisqa juga menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, sehingga ketika hujan kembali turun, masyarakat tidak hanya bersyukur atas berakhirnya kekeringan, tetapi juga berkomitmen menjaga hutan, air dan lingkungan agar bencana serupa tidak kembali berulang.
"Kita harus betul-betul menjaga hutan dan tidak lagi menebangi hutan. Kalau kita menjaga alam, maka alam menjaga kita. Kalau kita abaikan, alam juga akan mengabaikan kita," demikian Alivermana.
Baca juga: Pelatihan Vokasi Nasional Pemkab Kotim buka enam kejuruan gratis
Baca juga: Legislator Kalteng sebut Sekolah Rakyat wujud keadilan pendidikan
Baca juga: Pemkab Kotim-Kanwil Kenkum Kalteng tindak lanjuti MoU sinergi hukum dan KI
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
