
Teknologi pemadam gambut asal Jepang, telah diteliti di Kalteng lebih dari satu sekade

Palangka Raya (ANTARA) - Informasi mengenai penggunaan cairan pemadam kebakaran lahan gambut berbasis sabun Shabondama di Kalimantan Tengah perlu ditempatkan dalam konteks sejarah pengembangan dan penelitian yang tepat. Teknologi tersebut bukan merupakan produk atau formula yang baru dikembangkan oleh individu tertentu di Kalimantan Tengah, melainkan produk industri yang dikembangkan Shabondama Soap Co., Ltd., perusahaan yang berbasis di Kitakyushu, Jepang, bersama sejumlah mitra penelitian dan institusi di Jepang.
Pengembangan bahan pemadam berbasis sabun tersebut telah dimulai di Jepang sejak 2001, setelah adanya kebutuhan dari pemadam kebakaran Kota Kitakyushu terhadap bahan pemadam yang efektif tetapi lebih ramah terhadap lingkungan. Setelah melalui proses penelitian selama beberapa tahun, produk pemadam kebakaran berbasis sabun tersebut mulai dikomersialkan pada 2007.
Teknologi ini menggunakan bahan pemadam berbasis sabun yang berasal dari bahan baku alami. Salah satu karakteristik utamanya adalah kemampuannya menurunkan tegangan permukaan air sehingga larutan lebih mudah meresap ke dalam material yang terbakar. Sifat tersebut kemudian menjadi perhatian untuk dikaji penerapannya pada kebakaran gambut, karena kebakaran gambut tidak hanya berlangsung di permukaan, tetapi dapat menjalar dan menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Teknologi dan metode pemadaman ini juga bukan teknologi tanpa dasar kekayaan intelektual. Sejumlah teknologi terkait bahan dan metode pemadaman berbasis sabun telah menjadi subjek paten Shabondama Soap bersama mitra-mitra pengembangnya di Jepang.
Karena itu, perlu dibedakan secara jelas antara pengembang produk dan teknologi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pengujian, demonstrasi, penggunaan maupun evaluasi lapangan di Indonesia. Keterlibatan berbagai instansi maupun individu dalam menguji produk tersebut di lapangan tentu memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan metode penggunaannya pada kondisi kebakaran gambut Indonesia, tetapi hal tersebut berbeda dengan klaim sebagai pengembang produk atau formula Shabondama.
Penelitian di Kalimantan Tengah Dimulai Lebih dari Satu Dekade Lalu
Interaksi penelitian terkait pemanfaatan teknologi Shabondama untuk kebakaran gambut di Kalimantan Tengah telah berlangsung sejak awal dekade 2010-an. Berdasarkan catatan kegiatan penelitian di Universitas Palangka Raya, komunikasi dan penjajakan dimulai pada 2011, kemudian dilanjutkan dengan pengujian lapangan bersama peneliti Jepang dan Universitas Palangka Raya.
Pada periode berikutnya, kegiatan tersebut berkembang menjadi penelitian dan demonstrasi yang melibatkan berbagai institusi. Program JICA pada 2013–2015 secara khusus melakukan survei dan verifikasi pemanfaatan bahan pemadam berbasis sabun untuk kebakaran lahan gambut di Indonesia.
Kegiatan penelitian sempat mengalami penghentian dan keterbatasan aktivitas, terutama pada masa pandemi COVID-19. Sejak 2023, penelitian dan pengujian kembali dilanjutkan secara lebih intensif melalui kerja sama yang melibatkan Shabondama Soap Co., Ltd., University of Kitakyushu, Pemerintah Kota Kitakyushu, Institute for Global Environmental Strategies (IGES), JICA, serta Universitas Palangka Raya melalui CIMTROP.
Dengan demikian, penelitian tersebut merupakan bagian dari proses kolaborasi ilmiah dan teknologi yang telah berlangsung panjang, bukan kegiatan yang baru dimulai pada 2019.
Bahkan hasil penelitian mengenai penggunaan bahan pemadam berbasis sabun pada kebakaran gambut di Palangka Raya telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional. Pengujian membandingkan pemadaman menggunakan air dengan larutan pemadam berbasis sabun dan menunjukkan adanya peningkatan efektivitas penetrasi dan pemadaman pada gambut.
Sampel Diuji Langsung oleh Daerah Rawan Karhutla
Dalam fase pengujian dan evaluasi lapangan, sampel Shabondama tidak hanya digunakan pada satu lokasi atau oleh satu institusi.
Produk tersebut dikirimkan kepada sejumlah daerah di Kalimantan Tengah yang mempunyai pengalaman langsung menangani kebakaran lahan gambut, antara lain Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Sukamara, serta Kota Palangka Raya.
Sampel diberikan kepada instansi terkait, termasuk BPBD, untuk digunakan dalam kondisi lapangan. Setelah penggunaan, para pengguna diminta memberikan evaluasi melalui wawancara maupun kuesioner mengenai efektivitas pemadaman, kemudahan penggunaan, kebutuhan air, serta pengalaman operasional lainnya.
Pendekatan tersebut penting karena tujuan penelitian bukan sekadar menunjukkan bahwa produk mampu memadamkan api dalam sebuah demonstrasi, tetapi mengevaluasi apakah teknologi tersebut benar-benar efektif, praktis dan sesuai dengan kondisi pemadaman kebakaran gambut di Indonesia.
Sudah Digunakan Pemadam Kebakaran di Jepang
Shabondama bukanlah cairan percobaan yang baru dibuat di Kalimantan Tengah. Pemerintah Jepang mencatat bahwa bahan pemadam berbasis sabun tersebut dikembangkan melalui kolaborasi industri, perguruan tinggi dan pemerintah daerah di Kitakyushu. Kitakyushu City Fire Department juga telah menggunakan bahan pemadam ramah lingkungan tersebut dalam kegiatan pemadaman kebakaran di Jepang.
Kerja sama dengan Indonesia justru dimaksudkan untuk menguji dan mengadaptasikan teknologi yang telah dikembangkan di Jepang tersebut terhadap karakteristik kebakaran hutan dan lahan gambut tropis.
Oleh karena itu, setiap pemberitaan mengenai Shabondama perlu memberikan informasi yang proporsional mengenai asal produk, pengembang teknologi, sejarah penelitian serta institusi yang terlibat, sehingga masyarakat tidak mendapatkan kesan seolah-olah teknologi tersebut merupakan formula baru yang dikembangkan oleh pihak tertentu di Kalimantan Tengah.
Kontribusi aparat, BPBD, pemadam kebakaran, perguruan tinggi, peneliti maupun masyarakat dalam uji lapangan tetap sangat penting. Namun, kontribusi dalam penggunaan dan pengujian teknologi perlu dibedakan dari kepemilikan dan pengembangan produk yang secara historis dilakukan oleh Shabondama Soap Co., Ltd. dan mitra-mitranya di Jepang.
Pada akhirnya, fokus utama kerja sama ini seharusnya bukan pada klaim kepemilikan inovasi, melainkan bagaimana teknologi yang telah diteliti selama bertahun-tahun tersebut dapat dimanfaatkan secara tepat, aman dan efektif untuk membantu penanganan kebakaran gambut yang masih menjadi persoalan serius di Kalimantan Tengah dan Indonesia.
)* Dr. Ir. Adi Jaya, MSi., IPU., ASEAN Eng., adalah Kepala Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengelolaan Lahan Gambut Universitas Palangka Raya (UPR)
Oleh Adi Jaya (*)
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
