Logo Header Antaranews Kalteng

Sumber air baku Perumdam di Kotim terancam intrusi air laut

Kamis, 10 September 2026 18:21 WIB
Image Print
Kepala Bidang Teknik Perumdam Tirta Mentaya Edy Dyufriadi. ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengancam ketersediaan dan kualitas sumber air baku Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Mentaya lantaran adanya fenomena intrusi air laut.

“Intrusi air laut saat ini mulai masuk ke wilayah Samuda dan Bagendang. Tetapi, untuk Sampit belum. Masih di daerah Samuda dan Bagendang. Pelangsian juga mulai siap-siap,” kata Kepala Bidang Teknik Perumdam Tirta Mentaya Edy Dyufriadi di Sampit, Kamis.

Edy menjelaskan, intrusi air laut saat ini memang belum berdampak langsung terhadap sumber air baku yang melayani pelanggan di Kota Sampit.

Namun, kondisi tersebut perlu terus dipantau karena pergerakan air laut ke wilayah daratan sangat dipengaruhi oleh kondisi kemarau yang berkepanjangan.

Semakin lama hujan tidak turun, ancaman terhadap sumber air baku akan semakin besar. Apabila ini terus bergerak menuju sumber air baku, maka proses produksi dan distribusi air bersih kepada masyarakat dapat terganggu.

Salah satu lokasi yang kini menjadi perhatian adalah sumber air baku di Desa Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Pipa intake di wilayah tersebut masih dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi kondisinya terus dipantau.

Edy menyebut, operasional intake di Ramban dapat dihentikan apabila kualitas maupun kondisi sumber air baku semakin terdampak intrusi air laut.

“Sementara kami masih operasi. Mungkin dalam satu atau dua hari ke depan bisa stop,” bebernya.

Penghentian operasional tersebut menjadi langkah antisipasi untuk mencegah air dengan kualitas yang tidak memenuhi kebutuhan masuk ke dalam sistem produksi.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa dampak kemarau tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya ketersediaan air, tetapi juga perubahan kualitas sumber air.

Baca juga: DPRD Kotim minta pemerintah kecamatan kawal pemasangan listrik di Pulau Hanaut

Perumdam Tirta Mentaya terus melakukan pemantauan terhadap kondisi sumber air baku di sejumlah wilayah. Pemantauan diperlukan untuk menentukan langkah teknis apabila intrusi air laut semakin meluas.

Ancaman tersebut juga berpotensi mempengaruhi pelanggan apabila air laut semakin mendekati sumber air baku. Salah satu dampak yang dapat dirasakan masyarakat adalah perubahan rasa air menjadi lebih asin atau payau.

Edy memperkirakan kondisi bisa semakin mengkhawatirkan apabila kemarau terus berlangsung tanpa disertai hujan yang cukup. Bahkan, jika sampai Oktober hujan belum juga turun, intrusi air laut diperkirakan dapat bergerak hingga wilayah Pelangsian dan selanjutnya mengarah ke Sampit.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi Perumdam dalam mempertahankan keberlangsungan pelayanan air bersih. Terlebih, kebutuhan masyarakat terhadap air tetap tinggi sementara kondisi sumber air baku terus mengalami tekanan akibat musim kemarau.

Oleh sebab itu, Perumdam Tirta Mentaya mengimbau pelanggan mulai melakukan penghematan dengan mengurangi penggunaan air untuk keperluan yang tidak mendesak.

Penghematan dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air selama kemarau sekaligus membantu mengantisipasi kemungkinan terganggunya produksi apabila sumber air baku mengalami penurunan kualitas.

“Masyarakat juga kami imbau menyiapkan cadangan air secukupnya sebagai langkah antisipasi. Persiapan tersebut diperlukan apabila kondisi sumber air baku memburuk dan akhirnya berdampak terhadap produksi maupun distribusi air bersih kepada pelanggan,” demikian Edy.

Baca juga: Insan perhubungan di Kotim galang dana bantu petugas penanganan karhutla

Baca juga: DPRD Kotim dorong solusi jangka panjang atasi krisis air bersih wilayah selatan

Baca juga: DPRD Kotim dorong PBS bantu hidupkan kembali TPS3R di kecamatan



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026