
Ketika satu musim kering membuka banyak kerentanan

Palangka Raya (ANTARA) - Setiap musim kemarau panjang datang, Kalimantan Tengah kembali menghadapi rangkaian persoalan yang saling berkaitan: risiko kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya sumber air, meningkatnya kebutuhan air untuk pemadaman, serta tekanan pada sistem energi dan layanan darurat. Persoalannya bukan semata-mata satu bencana, melainkan bagaimana satu tekanan dapat memperbesar tekanan yang lain.
Pertanyaan yang perlu dijawab bersama, apakah kita akan terus menunggu krisis berikutnya, lalu menangani setiap masalah secara terpisah, atau mulai merancang sistem yang lebih tangguh sebelum krisis datang?
Pertanyaan itulah yang menjadi titik awal saya, Kevin Liu Perdana, siswa Grade 10 AIIBS Solo, ketika menyusun portofolio independen bertajuk “Resilience by Design: From El Niño to an Integrated Water, Fire, Food and Energy Resilience System for Central Kalimantan.”
Ini sebagai pemantik. Tujuannya bukan menghadirkan jawaban final, melainkan membuka ruang bagi pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan peneliti muda untuk menguji, menyempurnakan, dan mewujudkan solusi bersama.
Gagasan ini tidak menempatkan gagasan tersebut sebagai proyek yang sudah selesai, terlebih sebagai jawaban tunggal untuk seluruh persoalan Kalimantan Tengah. Sebaliknya, ia memosisikannya sebagai sebuah konsep yang harus diuji: diamati, diukur, diperdebatkan, dibuat prototipenya, lalu diperbaiki berdasarkan bukti.
Nilai terpenting dari karya ini bukan pada usia penggagasnya, melainkan pada keberanian untuk menghubungkan persoalan yang sering kita lihat secara terpisah. Penggagas hanya menjadi pemantik awal. Pusat ceritanya adalah Kalimantan Tengah dan bagaimana para pemangku kepentingan dapat bekerja bersama untuk membuatnya lebih tangguh menghadapi masa depan.
Dengan pendekatan tersebut, publikasi ini tidak dimaksudkan untuk sekadar memuji sebuah karya siswa. Ia adalah undangan untuk menguji ide, mempertemukan ilmu dengan pengalaman lapangan, dan mencari bentuk kolaborasi yang benar-benar dapat dilaksanakan.
Air, api, pangan dan energi
Gagasan “Resilience by Design” berangkat dari satu prinsip sederhana: krisis lingkungan jarang datang sendirian. Kekeringan dapat menurunkan ketersediaan air; kekurangan air dapat memperlemah kemampuan pemadaman; gambut yang mengering dapat meningkatkan risiko kebakaran; dan keterbatasan listrik atau bahan bakar dapat menghambat pompa, sistem pengolahan air, sensor, serta komunikasi saat semuanya justru paling dibutuhkan.
Oleh karena itu, gagasan ini mengusulkan kerangka Water-Fire-Food-Energy (WFFE) Resilience System, yakni sebuah pendekatan yang menghubungkan ketahanan air, pencegahan dan respons kebakaran, ketahanan pangan dan mata pencaharian, serta energi untuk layanan kritis.
Empat unsur pentingnya yaitu air (water), api (fire), pangan dan mata pencaharian (food livelihoods) serta energi (energy).
Kekuatan air meliputi cadangan air musim kering, kualitas air, akses, serta pemanfaatan yang terukur.
Hal penting terkait api yaitu pencegahan, peringatan dini, patroli, dan ketersediaan air untuk respons cepat.
Pangan dan mata pencaharian (food & livelihoods) meliputi produksi pangan dan usaha lokal yang disesuaikan dengan daya dukung lokasi.
Selanjutnya energi, meliputi tenaga surya, baterai, dan prioritas beban untuk pompa, sensor, komunikasi, serta layanan darurat.
Satu Tujuan, Dua Perlakuan Hidrologi
Bagian paling penting dari konsep ini adalah pembedaan antara lahan mineral dan lahan gambut. Pada lahan mineral yang sesuai secara hidrologis, penyimpanan air melalui embung atau reservoir dapat dikaji sebagai cadangan musim kering, sumber air pemadaman, serta penopang kebutuhan produktif.
Pada lahan gambut, logikanya berbeda. Fokus utama justru menjaga gambut tetap basah melalui pemulihan hidrologi, pengelolaan kanal, pemantauan muka air tanah, revegetasi, dan pilihan mata pencaharian yang kompatibel dengan kondisi basah. Reservoir besar tidak boleh menjadi solusi default di gambut tanpa kajian hidrologi yang memadai.
Pelajaran pentingnya adalah, rekayasa yang baik bukan menerapkan satu solusi di semua tempat. Rekayasa yang baik dimulai dari memahami tanah, air, ekosistem, risiko, dan manusia yang akan hidup bersama sistem tersebut.
Dari Portofolio Menuju “Living Laboratory” Kalimantan Tengah
Gagasan ini akan jauh lebih bernilai jika tidak berhenti sebagai dokumen. Kalimantan Tengah memiliki konteks nyata untuk menjadi living laboratory - ruang pembelajaran lapangan bagi riset mengenai air, gambut, kebakaran, energi terbarukan, pangan, teknologi lingkungan, serta tata kelola kolaboratif.
Tidak perlu memulai dari proyek raksasa. Justru pendekatan yang lebih kredibel adalah menguji versi terkecil yang bermakna, mengukurnya dengan disiplin, lalu memperbesar skala hanya ketika data menunjukkan bahwa desain tersebut bekerja.
Enam Jalur “Join Project” yang Dapat Dibuka
1. Scientific Review & Mentoring - Peneliti, universitas, ahli hidrologi, ahli gambut, engineer, dan praktisi kebencanaan menilai asumsi, risiko, serta desain teknisnya.
2. Joint Research & Student Pilot - Sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, atau perusahaan bersama-sama menjalankan penelitian kecil: water balance, sensor muka air, kualitas air, pompa surya, atau pemetaan kesiapsiagaan kebakaran.
3. Site, Data & Infrastructure Partnership - Pemerintah daerah, perusahaan, desa, atau komunitas menyediakan lokasi, data, akses lapangan, peralatan, dan dukungan logistik untuk pilot yang transparan dan terukur.
4. Technology Demonstration - Penyedia teknologi menguji pompa tenaga surya, sensor murah, sistem monitoring, pengolahan air, komunikasi darurat, atau penyimpanan energi dalam kondisi lapangan.
5. Community Co-Design - Masyarakat dilibatkan sejak awal agar desain tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga sesuai dengan pengetahuan lokal, kebutuhan, hak akses, kemampuan operasi, dan mekanisme pemeliharaan.
6. Youth Research Network - Pelajar dan peneliti muda didorong membentuk jejaring riset lokal untuk mengangkat masalah nyata Kalimantan Tengah menjadi pertanyaan ilmiah yang dapat diuji.
Mulai Kecil, Ukur Serius, Belajar Cepat
Prinsip kolaborasi, bukan siapa yang paling banyak mengklaim ide, tetapi siapa yang bersedia menguji, berbagi data, memperbaiki kelemahan, dan membangun solusi yang dapat dipertanggungjawabkan bersama.
Portofolio Kevin mengusulkan alur sekitar 12 bulan yang sangat masuk akal untuk fase awal: Observe - Measure - Prototype - Pilot - Evaluate. Kerangka ini dapat menjadi pintu masuk untuk kerja sama sederhana yang menghasilkan bukti, bukan hanya wacana.
Tahap pertama pada dua bulan pertama tahapan pengamatan (observe), yakni mengamati peta kekeringan, kebakaran dan sumber air.
Tahap kedua pada bulan ketiga dan keempat adalah pengukuran (measure), yakni mengukur neraca air, muka air gambut, dan data dasar.
Tahap ketiga pada bulan kelima hingga ketujuh adalah prototipe (prototype), yakni penyiapan pompa surya, sensor dan treatment sederhana.
Tahap keempat pada bulan kedelapan hingga kesepuluh adalah pilot, yakni percontohan melalui demonstrasi lapangan skala kecil.
Tahap kelima pada bulan kesebelas dan kedua belas adalah evaluasi, yakni dengan membandingkan indikator dan revisi desain.
Bukti, bukan hanya narasi
Apa yang bisa diukur dalam kegiatan ini? Indikator yang bisa diukur yaitu cadangan air musim kering yang terverifikasi, hari kemandirian air pada tingkat kebutuhan tertentu, porsi beban kritis yang dapat dipasok energi surya, waktu akses atau isi ulang air pemadaman.
Selain itu, pengukuran tren muka air tanah gambut, jumlah pengguna atau rumah tangga yang terlayani, area yang dikelola dengan praktik lebih aman, serta biaya operasi per unit layanan.
Dengan indikator seperti ini, keberhasilan tidak dinilai dari seberapa besar proyek dibangun, tetapi dari seberapa baik sistem itu benar-benar bekerja: apakah air tersedia ketika dibutuhkan, apakah kapasitas pemadaman membaik, apakah gambut tetap lebih basah, apakah energi kritis tetap berjalan, dan apakah biaya operasional masuk akal.
Generasi Peneliti
Jika gagasan ini dapat memancing lebih banyak pelajar dan peneliti muda Kalimantan Tengah untuk mulai mengamati persoalan di sekitarnya secara ilmiah, maka dampaknya sudah dimulai - bahkan sebelum satu pun infrastruktur dibangun.
Mengapa kebakaran terus berulang? Mengapa sumber air tertentu cepat menurun pada musim kering? Bagaimana gambut dapat dijaga tetap basah? Seberapa besar energi surya dapat menggantikan ketergantungan pompa pada bahan bakar? Teknologi sederhana apa yang paling berguna bagi desa? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang perlu tumbuh menjadi proyek sains, penelitian sekolah, skripsi, tesis, riset kampus, dan inovasi perusahaan.
Gagasan ini bukan mencari siapa yang paling benar. Mungkin sebagian desain Kevin harus diubah. Mungkin ada asumsi yang keliru. Mungkin para ahli menemukan teknologi yang lebih tepat. Justru itulah ilmu pengetahuan: ide diuji, kelemahan ditemukan, lalu solusi diperbaiki.
Jangan Menunggu Krisis Berikutnya
Kita mungkin tidak dapat menghentikan El Niño. Kita juga tidak dapat menghilangkan seluruh risiko kebakaran dengan satu teknologi. Tetapi kita dapat belajar lebih cepat, meneliti lebih serius, merancang sistem yang lebih tangguh, dan membangun kolaborasi sebelum krisis berikutnya datang.
Oleh karena itu, “Resilience by Design” sebaiknya dibaca bukan sebagai jawaban final dari seorang siswa, melainkan sebagai sebuah undangan terbuka: kepada pemerintah untuk membuka ruang pilot dan penyelarasan kebijakan; kepada dunia usaha untuk membawa kapasitas teknis, data, peralatan, dan pembiayaan; kepada universitas untuk menguji dengan metodologi ilmiah; kepada masyarakat untuk menghadirkan pengetahuan lokal; dan kepada generasi muda untuk terus bertanya.
Jika idenya baik, sempurnakan. Jika belum tepat, perbaiki. Jika memungkinkan, bangun prototipenya. Jika terbukti bekerja, kembangkan. Dan jika satu gagasan seorang pelajar mampu melahirkan seratus pertanyaan riset baru dari anak-anak muda Kalimantan Tengah, mungkin di situlah salah satu perubahan terpenting dimulai.
*) Kevin Liu Perdana, siswa Grade 10 AIIBS Solo asal Palangka Raya
Oleh -
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
