Logo Header Antaranews Kalteng

BKSDA kembali selamatkan orang utan dari lokasi karhutla di Kotim

Minggu, 27 September 2026 14:02 WIB
Image Print
BKSDA Kalteng bersama OFI berhasil menyelamatkan satu individu orangutan dari area karhutla di Kotim, Sabtu (26/9/2026). ANTARA/HO-BKSDA Sampit

Sampit (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI) menyelamatkan satu individu orang utan dari area kebakaran lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

“Petugas menerima laporan keberadaan satu individu orang utan di sebatang pohon kering. Lokasinya berada di kawasan yang vegetasinya didominasi kelapa sawit dan kondisinya masih terbakar,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah di Sampit, Minggu.

Operasi penyelamatan orang utan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini merupakan yang kedua kalinya dilakukan oleh BKSDA bersama OFI dalam kurang dari sebulan terakhir di wilayah Kotim.

Tepatnya, operasi penyelamatan kali ini berlokasi di kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Ramban, Dusun Ramban, Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotim, yang masih dilanda kebakaran.

Muriansyah menyampaikan, laporan diterima Pos Sampit pada Jumat (25/9) sekitar pukul 15.30 WIB. Orang utan itu awalnya ditemukan warga dan regu pemadam perusahaan sekitar pukul 15.00 WIB ketika sedang mengambil air di lokasi, dalam kondisi bertahan di atas pohon kering di sekitar perbatasan HTR Ramban dan PT MJSP.

“Laporan tersebut kemudian diteruskan kepada pimpinan BKSDA di Pangkalan Bun. Setelah mempertimbangkan kondisi lokasi dan keselamatan satwa, diputuskan segera dilakukan penyelamatan terhadap orang utan tersebut,” jelasnya.

Tim Rescue Seksi KSDA Wilayah II bersama OFI kemudian bergerak menuju lokasi. Tim dari Pangkalan Bun tersebut berangkat sekitar pukul 17.20 WIB, sedangkan petugas Pos Sampit menuju lokasi sekitar pukul 18.00 WIB untuk membantu memantau pergerakan satwa.

Tim rescue tiba sekitar pukul 22.00 WIB dan langsung melakukan upaya penyelamatan dengan metode pembiusan. Proses tersebut berlangsung cukup sulit karena orang utan terus berpindah tempat dan berada di dahan pohon yang tinggi.

“Selain posisi orangvutan cukup tinggi, asap kebakaran sangat tebal dan kondisi tanah juga masih mengandung api serta bara. Ini menjadi kendala dalam proses rescue,” ujarnya.

Setelah beberapa jam melakukan pemantauan dan penyelamatan, sekitar pukul 02.00 WIB orang utan akhirnya berhasil dibius. Namun, tubuh satwa tersebut tersangkut pada dahan kayu sehingga petugas harus memanjat pohon untuk menurunkannya dengan aman.

Sekitar pukul 02.30 WIB, orang utan berhasil dievakuasi dari pohon. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ditemukan luka bakar maupun luka lainnya pada tubuh satwa tersebut.

Orang utan betina itu kemudian diberi nama Sindi. Satwa liar yang dilindungi Undang-Undang itu diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dengan berat badan 32 kilogram.

Setelah dievakuasi dari lokasi kebakaran, Sindi dibawa menuju Pangkalan Bun dan tiba sekitar pukul 10.00 WIB. Selanjutnya, satwa tersebut menjalani pemeriksaan di fasilitas milik OFI, yakni Orangutan Care Center and Quarantine (OCCQ).

“Hasil pemeriksaan darah menunjukkan Sindi dalam kondisi sehat dan tidak membawa penyakit. BKSDA selanjutnya menyiapkan proses translokasi agar orang utan tersebut dapat kembali ke habitat alaminya,” lanjutnya.

Muriansyah menyebutkan, Sindi direncanakan dikembalikan ke kawasan Suaka Margasatwa (SM) Lamandau, Kabupaten Kotawaringin Barat, tepatnya di Site Sungai Teringin.

Penyelamatan ini menjadi salah satu upaya mencegah satwa liar terdampak lebih jauh akibat kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi vegetasi di sekitar lokasi yang didominasi tanaman sawit, ditambah asap tebal dan bara api di permukaan tanah, membuat keberadaan satwa liar semakin terancam.

Keberadaan Sindi di atas pohon kering menunjukkan satwa tersebut masih bertahan di tengah kondisi habitat yang terdampak kebakaran. Evakuasi dilakukan untuk menghindarkan satwa dilindungi itu dari risiko luka maupun dampak lanjutan akibat kebakaran.

BKSDA bersama mitra konservasi terus melakukan pemantauan terhadap satwa liar di wilayah terdampak karhutla, terutama ketika laporan masyarakat menunjukkan adanya satwa yang keluar dari habitat atau terjebak di kawasan yang terbakar.

“Kami juga terus memantau laporan dari masyarakat terkait keberadaan satwa liar di lokasi yang terdampak kebakaran. Kalau ada satwa yang terancam, tentu akan kami tindak lanjuti bersama tim di lapangan,” demikian Muriansyah.

Baca juga: SMAN 1 Cempaga terbakar, pembelajaran optimalkan bangunan tersisa

Baca juga: Udara berbahaya, Hiswana Migas Sampit bagikan 1000 masker di CFD

Baca juga: Beri semangat petugas, Bupati Kotim optimistis karhutla bisa segera diatasi



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026