
Harga pangan jadi pendorong utama inflasi Kalteng per September 2026

Palangka Raya (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat inflasi di provinsi setempat pada September 2026 sekitar 5,02 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y), dengan kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,08 pada September 2025 menjadi 113,51 pada September 2026, kata Kepala BPS Kalteng melalui Statistisi Ahli Madya, M Taufiqurrahman saat press rilis di Palangka Raya, Kamis.
"Inflasi September 2026 secara tahunan mencapai 5,02 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya tekanan harga yang terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran yang kami pantau," terangnya.
BPS mencatat secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Kalteng mengalami inflasi sebesar 0,40 persen pada September 2026. Sementara secara tahun berjalan (year-to-date/y-to-d), inflasi mencapai 3,21 persen.
Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,18 persen, disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 7,50 persen serta kelompok transportasi sebesar 6,27 persen.
Kelompok lainnya yang mengalami inflasi yakni pakaian dan alas kaki sebesar 2,16 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 2,54 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,66 persen, serta kesehatan 1,99 persen.
Baca juga: Bandara Tjilik Riwut pastikan operasional penerbangan berjalan sesuai kondisi aktual
Kemudian kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi 0,45 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,46 persen; pendidikan 2,13 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,77 persen.
"Dari sisi andil terhadap inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan 2,91 persen," kata Taufiqurrahman.
Kelompok transportasi memberikan andil 0,60 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,50 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,34 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,30 persen.
Sementara itu, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga memberikan andil 0,11 persen, pakaian dan alas kaki 0,09 persen, pendidikan 0,07 persen, kesehatan 0,05 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,03 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya 0,02 persen.
Sejumlah komoditas menjadi penyumbang dominan inflasi tahunan, di antaranya beras, emas perhiasan, ikan nila, bensin, cabai rawit, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga, ikan patin, terong, solar, sigaret kretek mesin, ketimun, pelumas atau oli mesin, kacang panjang, semangka, ikan kapar, air kemasan, ikan bakar, kue basah, dan sigaret kretek tangan.
Namun, beberapa komoditas tercatat memberikan andil deflasi secara tahunan, antara lain daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, angkutan udara, sekolah menengah pertama, bawang putih, rampela hati ayam, udang basah, sabun cair atau cuci piring, dan bakso mentah.
Untuk inflasi bulanan sebesar 0,40 persen pada September 2026, sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil antara lain ikan nila, cabai rawit, ketimun, kacang panjang, solar, beras, terong, ikan patin, kangkung, tomat, sigaret kretek mesin, air kemasan, jagung manis, akademi/perguruan tinggi, bahan bakar rumah tangga, ikan tongkol, sawi hijau, pasir, kue kering berminyak, dan cabai merah.
Sementara komoditas yang menahan laju inflasi bulanan melalui andil deflasi yakni daging ayam ras, angkutan udara, bawang merah, ikan gabus, bawang putih, anggur, dan minyak goreng.
Kepala BPS Kalteng ini pun menegaskan, perkembangan harga tersebut perlu menjadi perhatian karena kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi paling besar terhadap inflasi tahunan.
"Tekanan harga pangan masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kontribusinya paling besar terhadap inflasi tahunan, sehingga perkembangan harga komoditas pangan akan sangat menentukan dinamika inflasi di Kalimantan Tengah," demikian Taufiqurrahman.
Baca juga: Gubernur Kalteng minta RT-RW aktif data warga belum tersentuh bantuan
Baca juga: Pemprov Kalteng penuhi 3,8 juta liter air bersih untuk warga saat kemarau
Baca juga: Pemprov Kalteng dorong lahan rawan karhutla dimanfaatkan secara tepat
Pewarta : Jaya Wirawana Manurung
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
