
MTQ ke-57 Kotim jadi momentum memperkuat pengamalan nilai Qurani

Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor, menyebut pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-57 dan Festival Seni Qasidah tingkat kabupaten sebagai momentum memperkuat pengamalan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan masyarakat.
“MTQ jangan hanya dipahami sebagai kegiatan syiar keagamaan, tetapi harus dimaknai lebih komprehensif sebagai momentum strategis untuk mewarnai pembangunan dan perilaku kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai Qur'ani,” kata Halikinnor di Kuala Kuayan, Sabtu malam.
Hal itu ia sampaikan saat membuka MTQ ke-57 dan Festival Seni Qasidah di Kecamatan Mentaya Hulu yang turut dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), tokoh agama dan tokoh masyarakat di wilayah setempat.
Pembukaan ajang tahunan di Bumi Habaring Hurung ini ditandai dengan pemukulan katambung, yakni alat musik tradisional suku Dayak, diikuti dengan penyerahan piala bergilir MTQ Kabupaten Kotim kepada pihak panitia.
Mengawali pembukaan tersebut, Halikinnor menyampaikan apresiasi kepada Camat Mentaya Hulu beserta jajaran dan masyarakat setempat yang telah mempersiapkan pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Sungguh merupakan kebahagiaan bagi saya dapat kembali bersilaturahim dan bertatap muka dengan para peserta. Ajang ini diikuti peserta dari 17 kecamatan se-Kotim dan menjadi wadah mempertemukan para qari, qariah, hafiz, hafizah, mufasir, mufasirah serta peserta FSQ,” tutur Halikinnor.
Ia menjelaskan, nilai-nilai luhur Al-Qur'an sebagai pedoman hidup perlu terus ditumbuhkembangkan melalui pendidikan formal maupun nonformal.
MTQ dinilai menjadi salah satu sarana pembinaan karena berbagai cabang yang dilombakan mencakup kemampuan membaca, menghafal, memahami hingga mengkaji Al-Qur'an.
Kotim selama ini memiliki kafilah yang cukup diperhitungkan dalam MTQ, STQ maupun Festival Seni Qasidah tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Kondisi itu tidak terlepas dari pembinaan yang dilakukan LPTQ dan LASQI, baik di tingkat kabupaten maupun kecamatan.
Halikinnor juga meminta dewan hakim, juri dan panitera menjalankan tugas secara objektif, jujur, profesional serta menjunjung sportivitas.
Menurutnya, kualitas ajang tersebut tidak hanya terlihat dari kemampuan peserta, tetapi juga dari kemampuan dewan hakim memilih peserta terbaik secara adil dan amanah.
Di tengah pelaksanaan kegiatan keagamaan itu, Halikinnor turut mengingatkan masyarakat mengenai kondisi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda Kotim.
Selain itu, orang nomor satu di Kotim ini juga meminta masyarakat bijak menggunakan air bersih dan menjaga kesehatan.
Khusus peserta, panitia dan tamu MTQ, Halikinnor mengingatkan agar mencukupi kebutuhan air minum, menggunakan masker jika kabut asap mengganggu serta menjaga kebersihan dan keamanan lokasi kegiatan dari potensi kebakaran.
“Saya mengimbau seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Mentaya Hulu dan sekitarnya, untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api,” imbau Halikinnor.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kotim Nur Widiantoro mengatakan MTQ harus dipandang sebagai instrumen untuk mengukur sejauh mana pembelajaran, pembinaan dan pengamalan Al-Qur'an telah berkembang di tengah masyarakat.
“MTQ hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perlombaan untuk mencari juara, tetapi menjadi salah satu instrumen untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran, pembinaan dan pengamalan Al-Qur'an telah tumbuh di tengah masyarakat,” katanya.
Ia menerangkan, pembinaan generasi Qur'ani tidak terlepas dari keberadaan Rumah Tahfidz, Taman Pendidikan Al-Qur'an, Taman Kanak-Kanak Al-Qur'an, Madrasah Diniyah dan pondok pesantren.
Ia menilai, lembaga-lembaga tersebut menjadi tempat tumbuhnya calon qari dan qariah, hafiz dan hafizah, mufasir serta generasi yang memiliki pemahaman terhadap Al-Qur'an. Regenerasi peserta menjadi salah satu indikator penting keberhasilan pembinaan.
Nur Widiantoro juga menekankan kecintaan terhadap Al-Qur'an tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemampuan membaca dan menghafalnya.
Nilai-nilai Al-Qur'an harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam membangun kerukunan, saling menghormati dan kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Di tengah tantangan kehidupan yang semakin kompleks, kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan memiliki akhlak yang mulia,” ujarnya.
Ia berharap MTQ ke 57 dapat melahirkan peserta terbaik yang nantinya mewakili Kotim pada tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Dewan hakim dan juri juga diminta bekerja secara profesional, objektif, independen dan menjunjung prinsip keadilan.
Baca juga: Gubernur Kalteng fokus dorong kemandirian ekonomi masyarakat
Ketua Panitia sekaligus Camat Mentaya Hulu Muhammad Edison dalam laporannya menyampaikan, MTQ ke 57 dan Festival Seni Qasidah berlangsung selama lima hari, 3-7 Oktober 2026, dengan seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di Kelurahan Kuala Kuayan.
“Jumlah peserta MTQ sebanyak 357 orang dan LASQI sebanyak 78 orang yang berasal dari 17 kecamatan se-Kotawaringin Timur, sehingga secara keseluruhan mencapai 429 peserta,” sebutnya.
Sebanyak 10 cabang diperlombakan, yakni tilawah, syarhil Qur'an, qira'at sab'ah murattal, tartil, fahmil Qur'an, tahfiz, khat Al-Qur'an, makalah Al-Qur'an, bintang vokalis pop religi dan gambus.
Pelaksanaan kegiatan didukung anggaran APBD murni sekitar Rp1,5 miliar, APBD perubahan Rp200 juta serta dukungan sponsor dan donatur sekitar Rp135 juta. Sehingga, total dukungan pembiayaan kegiatan mencapai sekitar Rp1,8 miliar.
Edison juga menyampaikan, bahwa persiapan MTQ telah dilakukan sejak Maret 2026. Pelaksanaan yang semula direncanakan pada 5 September kemudian ditunda karena kondisi kabut asap akibat karhutla yang cukup marak di Kotim.
“Selain kabut asap, kami juga menghadapi kendala kekeringan dan kekurangan air bersih. Alhamdulillah semuanya bisa teratasi sehingga kegiatan dapat dilaksanakan,” ujarnya.
Sebagai tuan rumah, Kecamatan Mentaya Hulu juga mengikutsertakan sekitar 26 peserta dalam MTQ. Dari 10 cabang yang diperlombakan, kafilah tuan rumah mengikuti hampir seluruh cabang, sementara satu cabang dari LaSQI tidak diikuti.
Edison mengakui perhatian panitia lebih banyak terserap untuk memastikan penyelenggaraan MTQ berjalan lancar. Karena itu, pihaknya tidak memasang target juara tinggi bagi kafilah Mentaya Hulu dan lebih menekankan keberhasilan sebagai tuan rumah.
“Fokus kami tahun ini sebagai tuan rumah. Kami tidak menuntut harus menjadi juara, yang penting dapat menampilkan yang terbaik dan tidak memalukan. Mudah-mudahan tahun depan kami bisa lebih optimal mempersiapkan diri sebagai peserta MTQ,” katanya.
Seluruh perlombaan dipusatkan di Kuala Kuayan dengan lokasi yang tersebar, mulai dari pesantren, aula kepolisian, sekolah, aula masjid hingga lokasi utama kegiatan.
Edison berharap pelaksanaan MTQ tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga mempererat ukhuwah dan menjadi keberkahan bagi masyarakat Kotim.
“Kami berharap pelaksanaan MTQ ini tidak hanya melahirkan prestasi dan peserta terbaik, tetapi juga mempererat ukhuwah, meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur'an serta membawa keberkahan bagi masyarakat Kotawaringin Timur,” demikian Edison.
Baca juga: DPRD Kotim minta inpres larangan bakar lahan disosialisasikan optimal
Baca juga: Legislator minta Pemkab Kotim antisipasi dampak kemarau panjang terhadap ketahanan pangan
Baca juga: Bupati Kotim salurkan bantuan untuk MPA enam kecamatan wilayah utara
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
