Sementara Pakistan-India tegang, seorang anak mengira bom mainan

id Ketegangan India Pakistan,Kashmir,Jammu,India,Pakistan

Seorang pria Muslim meninggalkan mesjid setelah melakukan ibadah solat Jumat saat anggota pasukan keamanan India berjaga saat pemberlakuan pembatasan menyusul pencabutan status konstitusional khusus untuk Kashmir oleh pemerintah India, di Jammu, Jumat (9/8/2019). REUTERS/Mukesh Gupta/wsj/cfo (REUTERS/MUKESH GUPTA)

Jabri, Pakistan (ANTARA) - Nun jauh di pedalaman Lembah Neelum yang berpegunungan, tempat satu sungai yang memisahkan Kashmir Pakistan dan India, terdapat desa kecil bernama Jabri, yang biasanya jauh dari baku tembak antara kedua negara tersebut.

Akhir bulan lalu keadaan berubah ketika gempuran-gempuran artileri India menghantam desa itu dan Ayan Ali, seorang bocah yang berusia empat tahun, menemukan sebuah benda yang tak meledak saat bermain.

"Dia menemukan sebuah bom yang tampak seperti mainan dan membawanya ke sini," ujar Abdul Qayyum, paman Ali, menunjuk ke rumah mereka.

Ali memperlihatkan "mainan" itu ke saudara-saudaranya ketika keluarga sedang duduk sarapan. Benda itu meledak, menewaskan Ali dan mencederai delapan saudaranya, ibunya dan sepupunya.

"Mereka berusaha merebutnya dari tangan Ali dan kemudian meledak. Ia meninggal di tempat kejadian," kata Qayyum, menambahkan bahwa dua anak-anak masih berada di rumah sakit dalam kondisi kritis.

Baca juga: Ketegangan India-Pakistan meningkat usai pembatalan kunjungan Modi

Militer Pakistan mengatakan banda itu adalah bom tandan, sebuah senjata yang dapat melepaskan bom-bom lebih kecil dan dapat membunuh atau melukai orang-orang di sebuah kawasan luas. Jenis senjata tersebut dilarang berdasarkan Konvensi Jenewa yang mengatur peperangan internasional

Pemerintah dan tentara India membantah tuduhan itu, dan dua perwira angkatan darat mengatakan kepada Reuters bahwa gempurannya melintasi perbatasan sudah terarah dan sebagai balasan atas serangan oleh Pakistan.

Dalam kunjungan ke kawasan Jabri pada Jumat, seorang wartawan Reuters tak dapat secara bebas memverifikasi jenis benda tersebut yang merenggut nyawa Ali kendati tanda-tanda kerusakan di rumah itu terlihat.

Sebuah lubang kecil di lantai semen menandai tempat Ali berdiri ketika benda tersebut meledak.

"Anak-anak sedang bermain dan kemudian terdengar ledakan keras. Asap tersebar kemana-mana. Saya tak dapat melihat apa-apa," kata Sadaf Siddiq, kakak perempuan Ali.

Baca juga: PM: Pakistan akan balas kalau India menyerang

Satu gempuran menghantam sebuah rumah di dekatnya. Atap rumah itu berlubang besar tetapi tak seorangpun luka-luka, kata Muhammad Hanif, 37 tahun, pemilik rumah.

Militer Pakistan mengatakan mereka sudah membersihkan sejumlah benda yang tak meledak dari kawasan itu. Seorang perwira militer menunjukkan benda berukuran mainan yang dikatakannya bagian dari satu bom tandan, yang tak dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.

Baku tembak di perbatasan telah meningkat dalam beberapa tahun belakangan di mana India dan Pakistan menuding satu sama lain melakukan pelanggaran perjanjian gencatan senjata di sepanjang Garis Kendali sepanjang 740 km yang merupakan tapal batas de facto di kawasan Kashmir yang direbutkan oleh kedua negara.

Ketegangan-ketegangan meningkat pekan ini setelah India mencabut hak-hak khusus negara bagian Jammu dan Kashmir untuk menetapkan undang-undang sendiri, menahan ratusan pemimpin politik dan aktivis, serta memutus hampir semua komunikasi dari Kashmir India.

Kedua negara mengklaim Kashmir dan dua dari tiga perang mereka terjadi atas kawasan Himalaya itu, yang mereka perselisihkan sejak pemisahan dan kemerdekaan dari kekuasaan kolonial Inggris tahun 1947.

Sumber: Reuters

Baca juga: Indonesia amati peningkatan ketegangan di wilayah Kashmir

Baca juga: Ketegangan Pakistan-India berdampak pada warga Afghanistan


 

Pewarta : Mohamad Anthoni
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar