Sri Lanka minta dipertimbangkan sebagai Mitra Wicara Sektoral ASEAN

id Sri Lanka,ASEAN,mitra wicara sekroral

Peringatan ASEAN Day di KBRI Colombo, Sri Lanka, Kamis (8/8/2019). (Kedutaan Besar Sri Lanka di Indonesia)

Jakarta (ANTARA) -

Sekretaris Kementerian Luar Negeri Sri Lanka Ravinatha Aryasinha meminta ASEAN untuk memberikan keputusan lebih awal untuk memasukkan Sri Lanka sebagai Mitra Wicara Sektoral (Sectoral Dialogue Partner) untuk memperkuat hubungan negara itu dengan ASEAN dan negara-negara anggotanya.

Permintaan ini menyusul permohonan resmi Sri Lanka yang diajukan pada Maret 2019, demikian disampaikan Kedutaan Besar Sri Lanka untuk Indonesia dalam keterangan tertulis, Selasa.

Ravinatha menyatakan permintaan tersebut pada peringatan ASEAN Day bertempat di KBRI Colombo, 8 Agustus 2019. Pada peringatan itu, dia menyampaikan ucapan selamat pemerintah Sri Lanka kepada ASEAN.

Acara yang diselenggarakan oleh Duta Besar RI untuk Sri Lanka I Gusti Ngurah Ardiyasa dihadiri oleh Duta Besar Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Thailand untuk Sri Lanka, dan juga sejumlah diplomat, pejabat pemerintah, pengusaha serta undangan lainnya.

Baca juga: Sri Lanka berikan fasilitas bebas visa bagi wisatawan Indonesia

Ravinatha dalam sambutannya menekankan pentingnya posisi Sri Lanka bagi ASEAN mengingat Menteri Luar Negeri Sri Lanka baru saja menghadiri ASEAN Regional Forum di Thailand dan Presiden Sri Lanka melakukan kunjungan kenegaraan ke Kamboja.

Sri Lanka juga memiliki alasan kesejarahan yang kuat berhubungan dengan negara-negara ASEAN antara lain melalui penyebaran agama Buddha, hubungan maritim, serta hubungan antarmasyarakat.

Mengacu pada hal-hal tersebut, Sri Lanka menunjukan keinginan menjadi bagian integral di ASEAN bahkan sebelum negara ini merdeka pada 1948.

Keinginan Sri Lanka bergabung dengan sejumlah negara di kawasan melalui mekanisme regional, pertama kali diperlihatkan pada penandatanganan resolusi tentang pembentukan Organisasi Hubungan Negara-Negara Asia pada Asian Relations Conference di New Delhi, India, pada 1947.

Keinginan Sri Lanka itu juga diutarakan melalui Colombo Powers Conference pada 1954.

Baca juga: Sri Lanka jadi tuan rumah pertemuan tahunan ADB pada 2021

Kemudian pada 1961, sebuah rancangan undang-undang diajukan oleh seorang anggota parlemen J. R. Jayawardena tentang keinginan Sri Lanka tersebut. Selanjutnya pada berbagai pertemuan, Sri Lanka terus menyuarakan keinginan menjadi bagian dari ASEAN.

Ravinatha menambahkan bahwa posisi Sri Lanka sebagai mitra wicara sektoral akan memberikan mekanisme yang diperlukan "untuk melanggengkan hubungan kesejarahan kemitraan yang kami miliki dengan kawasan Anda dan rakyat Anda.”

Sri Lanka berharap bisa bekerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN agar permohonannya menjadi Mitra Wicara Sektoral dapat disetujui dalam perspektif penguatan lebih lanjut solidaritas dan kemitraan Sri Lanka dengan ASEAN.

Duta Besar Thailand untuk Sri Lanka Chulamanee Chartsuwan dalam sambutannya menjelaskan sejumlah faktor kunci yang menjadi dasar bagi ASEAN menjadi organisasi yang menitikberatkan pada hubungan antarmasyarakat (people centric).

Baca juga: Sri Lanka kembalikan 213 peti kemas sampah dari Inggris

Thailand saat ini menjabat sebagai ketua bergilir ASEAN yang oleh sejumlah pengamat diperkirakan akan menjadi kawasan ekonomi ke empat terbesar di dunia pada 2020.

Sri Lanka bergabung dalam ASEAN Regional Forum pada tahun 2007 setelah menandatangani Traktat Persahabatan ASEAN (ASEAN Treaty of Amity) pada tahun yang sama.

Duta Besar Sri Lanka di Jakarta pertama kali terakreditasi sebagai Duta Besar untuk ASEAN pada Juli 2016.

Baca juga: "Peace Leader Indonesia" kecam keras tragedi kemanusian di Sri Lanka

Baca juga: Indonesia tawarkan bantuan untuk Sri Lanka


Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar