Pengamat: Demokrat harus keluar dari kubangan degradasi

id Pengamat politik abi rekso, demokrat, ahy, sby,antaranews.com

Logo Partai Demokrat. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat politik Abi Rekso mengatakan Partai Demokrat harus berupaya keluar dari kubangan degradasi yang selama ini melanda partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono itu.

"Sebagai partai yang pernah 10 tahun berkuasa, Demokrat banyak mengalami kekalahan. Demokrat harus keluar dari kubangan," kata Abi Rekso dihubungi di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan kekalahan atau penurunan suara Demokrat disebabkan karena ketidaktegasan sikap politik selama ini. Dia memandang sikap politik Demokrat di level nasional kerap kali selalu mendua, sehingga menyebabkan suara terdegradasi.

Hal ini, kata dia, tercermin dari tidak terkonversinya suara pendukung Agus Harimurti Yudhoyono dalam Pilkada DKI, ke dalam perolehan suara Demokrat di DPRD DKI Jakarta.

Baca juga: Demokrat tampung aspirasi kader terkait koalisi

Baca juga: Partai Demokrat utamakan usung kader dalam Pilkada 2020

Baca juga: Imelda: Zaman SBY tak ada partai secara terbuka minta jatah menteri


Selain itu, menurutnya, Demokrat kehilangan tokoh-tokoh yang mampu tampil secara baik di tingkat nasional seperti sosok Julian Aldrin Pasha dan Andi Mallarangeng.

Abi Rekso mengatakan kepentingan Demokrat saat ini adalah bertahan dan meningkatkan elektoralnya. Dia mengingatkan proses transisi SBY kepada putranya AHY, apabila gagal akan membuat partai berantakan.

Dia menilai guna dapat menaikkan AHY dan mengembalikkan elektoral Demokrat, partai itu perlu merekrut tokoh muda yang memiliki kapabilitas dan kapasitas untuk tampil di ruang publik.

"Demokrat harus merekrut orang muda, tapi harus yang punya gagasan, bukan orang yang asal ngomong yang jauh dari kehidupan akademik," kata dia.

Sebelumnya Abi menilai bahwa Demokrat saat ini tidak terlalu diperhitungkan sebagai kekuatan politik karena hanya meraih tujuh persen lebih kursi di parlemen. Demokrat juga dinilai tidak terlalu menguntungkan bagi Jokowi untuk ditarik masuk dalam koalisi.

Pewarta : Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar