Hujan lebat guyur Bintan setelah dua bulan kering

id Hujan, Bintan

Personel Polres Bintan bersama masyarakat salat istisqa minta agar Allah menurunkan hujan. (ANTARA/Nikolas Panama)

Tanjungpinang (ANTARA) - Hujan lebat mengguyur Pulau Bintan (Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan), Kepulauan Riau, setelah sekitar dua bulan mengalami kekeringan.

"Hujan ini berkah yang luar biasa setelah lama kami menantinya," kata salah seorang warga di Jalan Pemuda, Susi, di Tanjungpinang, Selasa.

Hujan melanda Kota Tanjungpinang sejak pukul 13.30 WIB, diawali dengan mendung dan angin cukup kencang. Meski hujan hanya berlangsung sekitar dua jam, warga merasa senang. "Akhirnya air sumur saya terisi lagi," ucapnya.

Baca juga: Waduk Gesek sumber air PDAM Tirta Kepri alami kekeringan

Baca juga: Bupati Bintan minta semua camat dan kades bentuk satgas karhutla


Ungkapan rasa senang pun disampaikan Hamdan, warga Batu 2 Tanjungpinang. Ia bersama kedua putranya mandi hujan.

"Kami dapat isi air ke dalam satu drum. Lumayan," tuturnya.

Yono, warga Batu 10 Tanjungpinang juga merasa girang hujan mengguyur Tanjungpinang. Sejak sebulan terakhir ia, istri dan kelima anaknya hanya mandi sekali dalam sehari karena air sumur sudah hampir kering.

"Ada tetangga yang terpaksa mandi di sungai," katanya.

Iman, warga Bintan Timur, Kabupaten Bintan sejak sebulan terakhir terpaksa membeli air. Dua hari sekali ia membeli air 1.000 liter dengan harga Rp60.000.

"Hampir seluruh warga di perumahan kami ini beli air setiap hari," ujarnya.

Hal senada dikatakan Rasid, warga Wakcopek Tanjungpinang. Hujan hari ini merupakan berkah yang luar biasa.

"Kami sangat senang hujan akhirnya turun," katanya.

Dua hari yang lalu, Polres Bintan bersama masyarakat menggelar salat istisqa. Kapolres Bintan Boy Herlambang mengatakan salat itu sebagai bentuk permohonan hamba Allah kepada penguasa alam semesta agar diturunkan hujan.

"Alhamdulillah doa kami diijabah oleh Allah," ucapnya.*

Baca juga: Air laut cemari Waduk Gesek Bintan Kepri

Pewarta : Nikolas Panama
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar