BNN ajak warga Jakarta perangi narkoba di 115 kawasan

id BNN, narkoba Jakarta, 115 daerah rawan narkoba

Petugas BNNP DKI Jakarta menghadirkan tersangka dan barang bukti narkotika jenis sabu saat pengungkapan peredaran narkotika di Kantor BNNP DKI Jakarta, Jakarta, Kamis (8/8/2019). BNNP DKI (ANTARA FOTO/ADNAN NANDA)

Jakarta (ANTARA) -
Badan Narkotika Nasional (BNN) melibatkan seluruh unsur masyarakat untuk memerangi peredaran narkoba di 115 kawasan di DKI Jakarta yang saat ini berstatus rawan.
 
"Melihat catatan saya, di Jakarta saat ini ada 115 daerah rawan narkoba," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Sekretariat Utama BNN Sulistyo Pudjo melalui sambungan telepon kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Tawuran Manggarai, BNN dalami modus peredaran narkoba
 
Kawasan tersebut masuk dalam fokus perhatian BNN karena adanya pasar narkoba yang kerap menjadikan warga setempat sebagai konsumen untuk sejumlah kepentingan tertentu.
 
Salah satu kepentingan itu, menurut Sulistyo, adalah perilaku konsumen narkoba yang membutuhkan kandungan analgesik untuk meningkatkan keberanian menghadapi musuh saat terjadi tawuran.

Baca juga: BNN: Kecil kemungkinan tawuran Manggarai rekayasa pengedar narkoba
 
"Jenis narkoba ini juga disalahgunakan untuk perkelahian antarkampung. Pelaku tawuran bisa jadi pasar karena mereka jadi lebih berani, logika menurun saat berhadapan dengan musuh," katanya.
 
Menurut dia, jajarannya telah menerima laporan perihal upaya pengedar narkoba merekayasa aksi tawuran demi pengalihan perhatian aparat, seperti yang diduga terjadi di kawasan Manggarai.
 
Namun, kata dia, laporan itu masih memerlukan kajian lebih dalam untuk mengungkap kebenarannya.
 
"Kita belum ada kajian tentang itu," katanya.
 
Sulistyo mengajak seluruh masyarakat untuk berkontribusi memutus jaringan peredaran gelap narkoba dengan melaporkan atau menangkap pelakunya.
 
"Jangan takut dengan pengedar narkoba. Kalau melihat tangkap saja dan serahkan ke BNN," katanya.

Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar