Pontianak operasionalkan10 bus trans atasi kemacetan

id btp,bus trans pontianak ,atasi kemacetan,dishub kota pontianak ,pemkot pontianak

Bus Trans Pontianak atau yang biasa disebut BTP diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk mencegah kemacetan di Kota Pontianak selain menggunakan feri penyeberangan. (ANTARA/Regina)

Pontianak (ANTARA) - Transportasi umum Bus Trans Pontianak atau yang biasa disebut BTP diharapkan mampu menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Kota Pontianak selain menggunakan feri penyeberangan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Pontianak, Utin Sri Lena Candramidi di Pontianak, Senin, mengatakan Bus Rapid Transit ini merupakan bantuan dari Kementerian Perhubungan RI kepada Pemerintah Kota Pontianak sebanyak 10 unit yang telah beroperasi.

"Awalnya Pemkot Pontianak mendapat bantuan lima unit Bus Rapid Transit, tepatnya Desember tahun 2016 lalu, kemudian tahun 2017 kita sosialisasikan khususnya kepada pelajar, sekitar bulan Juli baru bus ini beroperasi. Kemudian tahun 2018 kami kembali mendapat lima bus lagi,” kata Utin ketika ditemui di Kantor Dinas Perhubungan Pontianak.

Ia berharap dengan adanya BTP ini dapat mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat yang selalu menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian, sehingga dapat menimbulkan kemacetan di jalan.

"Dengan adanya bus ini, kita berusaha untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Pemkot telah menyediakan sarana transportasi massal untuk mereka, dan mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi pemakaian kendaraan pribadi. Jika semua orang menggunakan alat transportasi sendiri, maka akan terjadi kepadatan di jalan raya," ujarnya.

Baca juga: Agen perjalanan Yessoe benarkan armadanya alami kecelakaan di Lamandau

Baca juga: Damri siagakan 90 bus untuk mudik di Pontianak


Utin juga menjelaskan sesungguhnya Pontianak belum dikategorikan sebagai kota dengan kemacetan yang parah, namun baru dikatakan padat merayap, karena hanya di daerah atau waktu-waktu tertentu saja kendaraan membludak. Oleh karena itu, BTP dapat dijadikan salah satu cara untuk mencegah hal tersebut.

"Pontianak ini tidak dikategorikan macet namun padat merayap, karena di jam-jam atau lokasi tertentu saja terjadi kepadatan kendaraan. Contohnya pagi hari di Jembatan Kapuas I sering terjadi kepadatan, itu dikarenakan banyak masyarakat yang menuju ke kota untuk pergi sekolah atau bekerja," katanya.

Sebaliknya di sore hari, di jam-jam pulang kerja banyak kendaraan dari kota menuju Siantan. "Salah satu cara mengatasi dan mengurai kemacetan itu, selain menggunakan transportasi feri penyeberangan ialah transportasi umum berupa bus ini.” katanya.

Selain itu, Utin mengatakan jumlah pengguna Bus Trans Pontianak meningkat dan didominasi oleh pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama, dan mereka merasa terbantu dengan adanya bus tersebut.

"Pengguna BTP saat ini meningkat, dan mayoritas yang menggunakannya adalah pelajar. Mereka merasa senang mendapat fasilitas transportasi dari pemerintah kota yang dapat mereka manfaatkan untuk pergi dan pulang sekolah. Dengan begitu, para siswa tidak perlu lagi membawa motor sebagai kendaraan, apalagi mereka masih di bawah umur dan belum berhak memiliki SIM," katanya.

Utin juga menjelaskan bus ini melewati banyak rute, dan ke depan jumlah jalur akan ditambah, namun untuk sementara BTP tidak beroperasi di wilayah Pontianak Utara, dikarenakan transportasi tradisional seperti oplet masih beroperasi.

"BTP melewati banyak rute, seperti Ahmad Yani, Johan Idrus, Sutoyo, Ampera, Gusti Hamzah, dan lainnya. Ke depan mungkin akan ada penambahan rute, tapi kita belum bisa beroperasi di Siantan, karena transportasi tradisional seperti oplet masih berjalan, jadi kami membiarkan mereka untuk mengantar jemput anak-anak,” kata Utin.

BTP beroperasi setiap hari, pagi hari bus sudah menyebar dari jam 05.30 untuk mengantar anak sekolah dan pukul 12.00 menjemput pulang. Seluruh masyarakat baik pelajar maupun rakyat umum dapat menggunakan bus ini tanpa dipungut biaya. Masyarakat dapat menunggu bus di halte-halte yang telah tersedia, katanya.*
 

Pewarta : Andilala dan Regina
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar