BMKG keluarkan peringatan dini cuaca ekstrem kabut asap di Sampit

id Asap sampit

Dampak kebakaran hutan dan lahan sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng menyebabkan Sampit tertutup asap tebal dan kualitas udara menjadi berbahaya bagi kesehatan. ANTARA/HO-Diskominfo Kotim.

Sampit (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Haji Asan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem terkait kabut asap dengan kondisi ekstrem.

"Peringatan dini ini kami keluarkan mengingat sudah tiga hari berturut-turut jarak pandang belum membaik. Nanti jika kondisinya membaik, akan kami perbarui atau akhiri peringatan dini ini," kata Kepala BMKG Stasiun Haji Asan Sampit Nur Setiawan di Sampit, Selasa.

Peringatan dini dikeluarkan Selasa dan berlaku selama empat hari atau hingga Jumat (20/9) nanti. Nantinya akan dievaluasi perkembangan kondisi di lapangan terkait kabut asap tersebut.

Baca juga: Belasan Orangutan di Nyaru Menteng Kalteng terserang ISPA

Dalam surat edarannya, BMKG menjelaskan, peringatan dini dikeluarkan sehubungan terjadinya kabut asap dengan kondisi ekstrem dan visibility atau jarak pandang hanya sekitar 1.000 meter.

BMKG mengimbau masyarakat, terlebih bagi pengguna transportasi darat, laut dan udara untuk berhati-hati dan waspada. Jarak pandang yang terbatas dikhawatirkan bisa memicu terjadinya kecelakaan.

Masyarakat diimbau berpartisipasi membantu menanggulangi kebakaran hutan dan lahan yang saat ini masih marak terjadi. Masyarakat diharapkan membantu memadamkan api jika terjadi kebakaran lahan di wilayah masing-masing.

Baca juga: Jam kerja ASN Kalteng berkurang akibat kabut asap

Asap pekat akibat kebakaran lahan yang terjadi saat ini sudah sangat mengganggu masyarakat. Hampir semua sektor terdampak, seperti kesehatan masyarakat dengan meningkatnya penderita infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan diare akibat kualitas udara sudah masuk kategori berbahaya, sekolah terpaksa diliburkan, transportasi terganggu sehingga berdampak pada perekonomian.

Berdasarkan prakiraan BMKG, kemarau masih akan terjadi hingga akhir Oktober. Selama itu pula kebakaran lahan dan kabut asap masih mengancam masyarakat. Untuk itu semua pihak harus peduli membantu menanggulanginya.

Nur Setiawan menanggapi positif rencana dilakukannya rekayasa cuaca hujan buatan. Kabar beredar, pesawat tipe CN 295 milik TNI AU telah tiba di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya untuk mendukung pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca atau hujan buatan di wilayah Kalimantan Tengah.

Baca juga: Warga Kalteng terkena ISPA akibat asap dibebaskan biaya berobat

Dia berharap upaya hujan buatan dengan menabur garam di awan tersebut akan berhasil sehingga hujan turun dan mampu memadamkan kebakaran lahan di Kalimantan Tengah, termasuk di Kotawaringin Timur.

"Info terakhir yang kami dapatkan, saat ini sedang diusahakan adanya hujan buatan dari BPPT dan dipusatkan di Palangka Raya. Mudah-mudahan adanya teknologi modifikasi cuaca hujan buatan ini dapat memberikan hasil yang maksimal," demikian Nur Setiawan.

Pewarta : Kasriadi/Norjani
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar