Diperlukan Technology Transfer Office agar riset tak sia-sia

id Budi wiweko

Wakil Direktur Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Budi Wiweko. ANTARA/Fianda Rassat/am.

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Budi Wiweko mengatakan, Indonesia saat ini sangat membutuhkan Technology Transfer Office (TTO) agar hasil riset di Tanah Air tidak sia-sia.

Akademisi FK UI yang akrab disapa Iko ini mengatakan, salah satu peran utama TTO adalah membawa penelitian ke ranah komersial atau terapan.

“Saat ini kesenjangan atau gap yang terjadi umumnya di fase antara penelitian transisional dengan terapan yang membutuhkan dukungan kuat dari pihak industri,” kata Iko yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Medical Education Research Institute (IMERI) FK-UI di Jakarta, Kamis.

Iko menjelaskan, hampir semua universitas terkemuka di dunia menaruh perhatian besar pada TTO. Dia juga mengatakan, banyak riset universitas yang mampu memberikan efek perubahan signifikan.

Baca juga: Dirjen: Hasil penelitian perguruan tinggi harus mengarah pada outcome

Ia mencontohkan, di Amerika Serikat terdapat Association University Technology Managers (AUTM), sebuah organisasi yang tugasnya mengoordinasi semua TTO universitas di Amerika.

Perjalanan panjang AUTM pada 1996-2015 berhasil mendorong 380.000 penemuan dengan 80.000 di antaranya mendapatkan paten.

Gambaran ini, kata Iko, menunjukkan hanya sekitar 20 persen penemuan yang mendapatkan paten dan potensial menjadi produk. Karena itu, gagasan untuk melakukan penelitian harus terus diasah, dilatih, didorong serta difasilitasi oleh pemerintah, akademisi dan pihak industri.

Baca juga: Menteri LHK minta komersialisasi hasil litbang Kehutanan diperbanyak

Selain itu, komunikasi intensif, kondusif dan interaktif akan membuka peluang akselerasi prototipe riset ke ranah komersialisasi.

“Hal ini sangat diperlukan agar riset Indonesia tak lagi hanya masuk kotak," tutur Iko.

Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri Ginekologi Indonesia ini mengatakan, TTO berperan sebagai corong komunikasi, endorser, perencana business plan, dan negosiator.

Baca juga: Jangan ada jurang lebar antara lembaga litbang dan industri

Technology Transfer Officer harus, memiliki kemampuan ulung untuk mengendus, serta mendeteksi potensi komersialisasi dari sebuah aktifitas riset,” tambah Iko.

Karena itu, TTO harus memiliki kemampuan membaca dan menterjemahkan kebutuhan pasar serta bekerja cepat, jeli dan tidak bosan-bosannya melihat potensi kebaruan yang dibutuhkan oleh masyarakat sehingga akan mengakselerasi pusat riset untuk segera mewujudkannya melalui sebuah produk.

Pewarta : Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar