Cegah "stunting", menurut GAIN bukan asal anak kenyang

id Stunting,Gizi seimbang,GAIN,tidak sekadar kenyang

Country Director Global Alliance of Improved Nutrition (GAIN) Indonesia, Ravi K. Menon (kelima kiri) dan Senior Program Manager GAIN Indonesia, Agnes Mallipu (keempat kiri) mengamati pelatihan Emotional-Demonstration (Emo-Demo) yang diikuti peserta Asian Congress of Nutrition 2019 di Nusa Dua, Badung Bali, Selasa (6/8/2019).ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp. (ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF)

Jakarta (ANTARA) - Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia mengatakan untuk mencegah "stunting" (anak kerdil), orang tua terutama ibu harus memperhatikan keseimbangan gizi anak saat memberikan asupan makanan kepada anak sehingga tidak hanya berdasar pada anak sudah kenyang.

"Makanan tersedia tapi pola pemberian tidak tepat maka dampaknya ke anak tidak cukup gizi," kata Manajer Program Senior untuk Maternal Infant and Young Child Nutrition dari GAIN Indonesia Agnes Mallipu kepada wartawan di sela-sela acara diskusi tentang percepatan pencegahan stunting di Jakarta, Rabu malam.

Ia menjelaskan bahwa volume perut balita masih kecil sehingga asupan makanannya terbatas dan tidak bisa mengonsumsi banyak makanan. Untuk itu, diperlukan asupan gizi seimbang seperti untuk asupan vitamin, protein dan mineral.

"Kebanyakan ibu penting anaknya kenyang. Saat kami melakukan evaluasi, ibu cenderung memberikan makanan kepada anak dengan gizi tidak seimbang, sayur lauk sedikit, nasinya banyak," katanya.

Menurut dia jika hanya berdasar anak kenyang semata tanpa melihat kecukupan dan keseimbangan gizi yang harus diperoleh anak, maka akan dapat mengganggu tumbuh kembang anak.

Ia juga mengatakan orang tua harus memerhatikan jumlah dan saat memberikan cemilan kepada anak agar tidak mengganggu pola makan utama anak.

Kebanyakan ibu, kata dia,  mengeluh anak tidak mau makan, padahal sebelum jam makan, anak sudah banyak makan cemilan entah dari orang tua, tetangga ataupun anggota keluarga lain, sehingga anak tidak mampu menampung makanan lagi.

"Memberikan camilan kepada anak juga harus jaga waktu makan anak, jangan sampai mereka full karena cemilan sehingga tidak mau makan," katanya.

Menkes: 4 dari 10 anak mengidap stunting



Menurut dia meskipun makanan tersedia dan anak bisa mengakses makanan , tapi jika perilaku pemberian makanan kepada anak tidak tepat maka tidak akan memenuhi asupan gizi yang cukup dan seimbang. Untuk itu, pola pemberian makanan yang tepat kepada bayi dan anak serta pemberian ASI eksklusif harus terus digencarkan di seluruh Indonesia dalam rangka mencegah stunting.

"Ini bisa jadi satu kampanye atau gerakan lebih menyeluruh di masyarakat sehingga kita bisa menumbuhkan norma baru di masyarakat," demikian Agnes Mallipu.

Stunting atau sering disebut kerdil adalah kondisi gagal tumbuh pada anak usia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronik, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan.

Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya.

Baca juga: Cegah kekerdilan, GAIN dorong perubahan perilaku pemberian makanan

Baca juga: Ahli ingatkan pentingnya konsumsi protein hewani cegah stunting

Baca juga: Sekretariat Wapres: Kekerdilan bukan hanya soal makanan-gizi

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar