Penusukan Wiranto tak buat Luhut takut temui masyarakat

id Luhut pandjaitan, wiranto, rspad,wiranto diserang, wiranto ditusuk,aa

Dokumentasi - Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan (tengah) bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kedua kiri) dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (ketiga kanan) menyapa warga di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/2/2019). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aa.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengaku penusukan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto tidak lantas membuatnya takut menemui masyarakat saat melakukan kunjungan ke daerah.

"Masih, tadi malam saya bercengkerama, tidak usah dibikin jadi kaya rese amat, di Amerika kan setiap tiga bulan kejadian (penyerangan)," tutur Luhut Pandjaitan usai menjenguk Wiranto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, Minggu malam.

Meski mengimbau kasus yang terjadi kepada Menko Polhukam tidak perlu dibesar-besarkan, ia tetap meningkatkan kewaspadaan.

Baca juga: Dalam balutan busana hitam, Luhut Pandjaitan jenguk Wiranto di RSPAD

Sementara ia memasuki Paviliun Kartika dari pukul 19.10 WIB dan keluar pada pukul 20.00 WIB. Selama 50 menit itu, Luhut Pandjaitan mengaku sempat berbicara dengan Wiranto.

Terkait kondisi mantan Panglima ABRI itu, Luhut Pandjaitan menuturkan sudah lebih baik dan diperkirakan akan diperbolehkan pulang beberapa hari ke depan.

"Ya mungkin dalam beberapa hari ke depan, tetapi semua baik ya," ucap dia.

Baca juga: Luhut minta isu radikalisme tidak perlu dibesar-besarkan

Ada pun Wiranto diserang secara tiba-tiba di Alun-alun Menes, Desa Purwaraja, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, usai meresmikan gedung kuliah Universitas Mathla’ul Anwar.

Ia terkena dua tusukan di perut dan sempat dirawat di RSUD Berkah, Pandeglang, kemudian dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto Jakarta. Ia harus menjalani operasi yang berlangsung sekitar tiga jam oleh tim dokter RSPAD Gatot Soebroto.

Pewarta : Dyah Dwi Astuti
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar