BMKG: Gempa Ambon ungkap indikasi adanya sesar aktif baru

id gempa ambon,BMKG,gempa bumi

Ilustrasi BMKG terkait indikasi adanya sesar aktif yang baru diketahui setelah gempa bermagnitudo 6,5 yang mengguncang Ambon pada September 2019. ANTARA/HO-BMKG

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa susulan masih terus terjadi hingga saat ini sejak Ambon diguncang gempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019 yang mengungkap indikasi adanya sesar aktif yang baru diketahui.

"Hasil pemetaan sebaran pusat gempa susulan oleh BMKG, selain dapat menjawab adanya fenomena banyaknya aktivitas gempa yang terpicu di luar bidang sesar utama, juga memberi petunjuk keberadaan sesar aktif baru," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Selasa.

Secara keseluruhan, BMKG mencatat sejak 26 September 2019 di Ambon telah terjadi gempa susulan sebanyak 3.089 kali dan 337 kali diantaranya gempa susulan yang dirasakan guncangannya oleh masyarakat.

Baca juga: BMKG: Gempa Laut Seram miliki mekanisme pergerakan naik
Baca juga: Pakar geothermal bahas gempa Maluku


Bahkan pada Selasa (11/2) masih terjadi gempa berkekuatan magnitudo 3,2 yang dirasakan dalam skala intensitas II MMI di Kecamatan Kairatu. Berdasarkan hasil monitoring BMKG menunjukkan kekuatan dan frekuensi gempa sudah menurun.

Daryono mengatakan, aktivitas gempa susulan yang terjadi di Ambon termasuk fenomena langka. Hal ini dikarenakan dengan gempa utama (mainshock) yang hanya berkekuatan 6,5 tetapi diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks) yang jumlahnya sangat banyak.

Ada beberapa sebab mengapa gempa susulan di Ambon sangat banyak. Pertama, adanya 'triggered off-fault seismicity' yaitu munculnya aktivitas gempa-gempa yang jumlahnya banyak karena terpicu di jalur sesar yang berada di luar bidang sesar gempa utama.

"Jika kita mencermati sebaran aktivitas Gempa Ambon tampak bahwa aktivitas gempanya tidak hanya terjadi di zona sesar utama saja, tetapi tersebar pada beberapa klaster dalam wilayah yang luas," kata Daryono.

Saat terjadi gempa utama pada 26 September 2019, ternyata gempa ini sanggup memicu aktifnya beberapa percabangan sesar (fault splay) dan segmen sesar lain yang ada di sekitar sesar utama. Sehingga zona aktivitas gempa menjadi semakin meluas dan gempa terus terjadi di berbagai segmen aktif.

Baca juga: BMKG: Sesar baru terbentuk akibat gaya pada batuan
Baca juga: BNPB - ITB temukan zona sesar baru penyebab gempa Maluku


Kedua, kondisi batuan di zona gempa Ambon memiliki karakteristik rapuh (brittle) dan tidak elastis (ductile) sehingga mudah mengalami rekahan (rupture) yang menyebabkan terjadinya banyak aktivitas gempa susulan.

Ketiga, Gempa Ambon memiliki "stress drop" yang rendah. Berdasarkan beberapa hasil penelitian, gempa dengan "stress drop" yang rendah maka cenderung akan memproduksi gempa susulan yang lebih banyak.

Aktivitas gempa merupakan penanda aktifnya sebuah sesar. Sebaran gempa susulan menunjukkan bidang rekahan batuan (rupture).

"Jika sebaran pusat gempa membentuk pola kelurusan, maka ini merupakan salah satu indikasi adanya sesar aktif," tambah dia.

Baca juga: BNPB akan sampaikan rekomendasi upaya mitigasi gempa di Maluku
Baca juga: BNPB: 214 sesar aktif baru perlu diwaspadai


Sebaran aktivitas gempa susulan di Ambon pada kluster utama dengan pola kelurusan yang hampir berarah selatan-utara yang terletak di antara Ambon dan Haruku mencerminkan adanya aktivitas sesar aktif di antara Ambon dan Haruku dengan panjang diperkirakan sekitar 42 km.

Untuk mengidentifikasi strukturnya, maka perlu dilakukan upaya identifikasi struktur sesar di dasar laut antara Ambon dan Haruku.

Identifikasi sesar aktif sangat penting untuk menyusun peta sesar aktif baru yang nantinya dijadikan sebagai acuan kajian bahaya dan risiko gempa bumi dan tsunami di Ambon dan sekitarnya.

Baca juga: Gempa Yogyakarta 4,0 SR dari Sesar Baru
Baca juga: Lempeng Laut Maluku alami aktivitas kegempaan intensif

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar