Pemburu "codot" di Ngawi-Jatim tak khawatirkan wabah virus COVID-19

id Virus corona,corona,corona ditularkan kelelawar,kelelawar,codot,kelelawar obat asma,dinkes Nawi,pemburu kelelaawar ngawi,kabupaten ngawi,ngawi,jatim,j

Aktivitas perburuan hewan "codot" yang diyakini warga sebagai obat asma. Kegiatan tersebut masih banyak dilakukan di Kabupaten Ngawi, Jatim tanpa khawatirkan maraknya wabah global virus COVID-19 yang diduga ditularkan dari hewan kelelawar. (FOTO ANTARA /Louis Rika/It)

Ngawi, Jatim (ANTARA) - Aktivitas perburuan kelelawar pemakan buah atau "codot" di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur tidak khawatir dengan santernya wabah global virus COVID-19  yang diduga salah satunya ditularkan dari hewan malam tersebut.

"Sama sekali tidak khawatir soal virus COVID-19  yang mungkin ditularkan dari hewan kelelawar. Kami tetap mencarinya karena untuk memenuhi pesanan," kata seorang pencari codot, Sudarno (58) di Ngawi, Rabu.

Menurut dia, daging codot hasil buruannya tersebut untuk memenuhi pesanan sejumlah warga sebagai obat penyakit asma.

"Pesanannya ada dua macam. Codot yang masih hidup ataupun yang sudah dimasak. Kalau untuk obat asma, cara memasaknya hanya direbus setelah dibersihkan," katanya.

Sudarno menjelaskan kegiatannya mencari codot saat malam hari sudah ia geluti sejak 10 tahun terakhir. Cara yang digunakan cukup sederhana, yakni dengan menggunakan dua galah bambu yang diberi jaring dan ditempatkan di sekitar pohon.

Dalam semalam, dengan dibantu beberapa rekannya, Sudarno bisa mendapatkan sebanyak 50 hingga 100 ekor codot. Terlebih saat musim buah.

Sudarno mengaku tidak khawatir dengan maraknya wabah virus COVID-19 di berbagai negara yang diduga berasal dari kelelawar. Ia menilai codot yang ia tangkap tersebut merupakan jenis kelelawar pemakan buah, sehingga aman dikonsumsi.

Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi Endah Pratiwi menyatakan pihaknya tidak melarang adanya aktivitas masyarakat yang berburu kelelawar untuk dikonsumsi.

Namun pihaknya meminta agar sebelum dikonsumsi harus dimasak hingga matang sempurna.

"Tidak masalah bagi warga yang suka makan daging kelelawar, entah untuk obat asma atau makanan sumber protein hewani. Tapi yang pasti, bahan itu harus dimasak betul hingga benar-benar matang," kata Endah.

Baca juga: Peneliti temukan enam jenis virus pada kelelawar buah di Indonesia

Baca juga: Virus corona diduga ditularkan melalui sup kelelawar


Ia menegaskan tidak hanya daging kelelawar, apapun sumber bahan masakannya, pastikan untuk dimasak dengan sempurna agar tidak tertular oleh bakteri yang masih hidup dalam makanan akibat proses masak yang tidak maksimal.

Sedangkan terkait kepercayaan masyarakat jika daging kelelawar dapat mengobati asma, ia masih belum bisa memastikannya karena hingga kini belum ada penelitian secara medis.

Pihaknya lebih menekankan pada ajakan untuk menerapkan hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada warga Ngawi agar terhindar dari berbagai penyakit yang berbahaya bagi kesehatan.

"Dengan menerapkan PHBS sehari-hari maka kondisi badan kita akan sehat. Jika kondisi tubuh sehat, daya tahan maksimal, maka akan terhindar dari berbagai macam penyakit," katanya.

Adapun PHBS di antaranya dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, makanan makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, mengendalikan stres, dan istirahat cukup, demikian Endah Pratiwi.

Baca juga: Ular atau kelelawar penyebar virus corona di China

Baca juga: Permintaan masker di Ngawi meningkat signifikan

Baca juga: Peneliti pernah umumkan virus corona kelelawar menular manusia di 2017

Baca juga: Pedagang kelelawar Solo tidak khawatir virus corona

Pewarta : Louis Rika Stevani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar