Dua bulan, terjadi 165 kasus DBD di Jakarta Selatan

id Dbd, sudin kesehatan jaksel, jakarta selatan, 165 kasus dbd jaksel, demam berdarah, aedes aegypti,PSN,Pemberantasan Sarang Nyamuk

Petugas Puskesmas Kebayoran Lama melakukan "fogging" atau pengasapan di kawasan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (20/2/2020). . ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/wsj/am.

Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Kesehatan Kota Jakarta Selatan mencatat terjadi 165 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah tersebut sepanjang Januari hingga Februari 2020.

Kepala Suku Dinas (Sudin) Kesehatan Kota Jakarta Selatan, Helmy saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Ahad mengatakan, kasus terbanyak ada di Februari, yakni 103 kasus.

"Bulan Januari dilaporkan ada 62 kasus, Februari yang tinggi, ada 103 kasus," kata Helmy.

Menurut dia, peningkatan kasus ini terjadi seiring puncak musim hujan di DKI Jakarta termasuk Jakarta Selatan. Namun belum ada laporan warga meninggal karena penyakit yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti tersebut.

Helmy mengatakan, pihaknya telah menyosialisasikan kepada masyarakat untuk 
meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit musim hujan, yakni DBD.

Baca juga: Jakarta Selatan waspadai penyakit musim hujan

Antisipasi dilakukan dengan menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di setiap wilayah dan mengoptimalkan tugas Juru pemantau jentik atau jumantik.

"Fasilitas kesehatan juga kita minta waspada bila ada masyarakat yang berobat dengan kondisi demam dan gejala lainnya, perlu dicek kondisinya apakah itu DBD, jangan dianggap demam biasa," kata Helmy.

Apabila masyarakat yang datang memeriksakan diri memiliki riwayat pernah digigit nyamuk dan deman tinggi dalam kurun waktu tertentu disertai bintik-bintik merah di tubuhnya dianjurkan untuk melakukan cek darah untuk perawatan lebih lanjut.

"Intinya jangan sampai lengah, penanganan lebih awal bisa mencegah korban meninggal dunia," katanya.

Helmy menambahkan, jumlah temuan kasus DBD awal 2020 ini jauh menurun bila dibandingkan kasus tahun 2019 dengan periode yang sama.

Baca juga: Jaksel-Tangsel kolaborasi atasi masalah kesehatan akibat pancaroba

Pada Januari 2019 tercatat 329 kasus, sedangkan Februari ada 388 kasus DBD. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 2020.

"Tahun ini jumlahnya menurun dibanding 2019, ini perlu terus diawasi jangan sampai meningkat. Apalagi musim hujan masih berlangsung hingga Maret," kata Helmy.

Helmy mengimbau masyarakat untuk menjaga lingkungan tempat tinggalnya dan memastikan tidak ada genangan air hujan yang menjadi tempat bersarangnya jentik nyamuk.

"Yang harus dilakukan, pertama, berprilaku hidup bersih dan sehat, jangan lupa istirahat yang cukup, biasakan olahraga, kalau misalnya ada gejala kurang sehat segera periksakan diri ke dokter, dan tentunya makan teratur," kata Helmy.

Pewarta : Laily Rahmawaty
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar