Dokter paru: Pasien sembuh dari COVID-19 berisiko alami fibrosis

id PDPI,Fibrosis, Pasca-COVID-19

Dokter paru: Pasien sembuh dari COVID-19 berisiko alami fibrosis

Dokter paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengadakan webinar tentang kemungkinan fibrosis akibat COVID-19, Jakarta, Selasa (12/5/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menduga pasien COVID-19 yang telah sembuh dari penyakit tersebut berisiko mengalami fibrosis atau paru-parunya menjadi mengeras, sehingga menurunkan fungsinya.

"Kalau dia tidak ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome atau pneumonia berat) sebenarnya (dia) tidak berisiko (mengalami) pulmonary fibrosis," kata dr. Dianiati K. Sutoyo, Sp.P(K) dalam Webinar Dokter Paru terkait kemungkinan kerusakan paru akibat COVID-19 di Jakarta, Selasa.

Baca juga: PDPI: Dokter usia 65 tahun lebih jangan langsung tangani pasien corona

Baca juga: PDPI dorong pemerintah buat desentralisasi perawatan tangani COVID-19


Ia mengatakan bahwa secara teori tidak semua pasien COVID-19 akan mengalami fibrosis, kecuali jika pasien tersebut mengalami pneumonia berat pada saat masih menderita COVID-19.

"Walaupun demikian, akan ada juga (kemungkinan) mekanisme lain selain ARDS yang (menyebabkan) pulmonary fibrosis. Ada saja, apakah dari virusnya, apakah dari mekanisme COVID-19 atau dari hipoksianya. Jadi kita harus mengevaluasi," katanya.

Tetapi, dia menekankan bahwa seseorang dapat sangat berisiko mengalami fibrosis ketika seseorang tersebut pernah mengalami pneumonia berat. "Dia lebih berisiko. Walaupun pasien ARDS secara umum tidak semuanya akhirnya di 'longterm pulmonary fibrosis'," katanya.

Sementara itu, dokter paru dr. Andika Chandra Putra pada kesempatan lain mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada penelitian besar terkait dugaan terjadinya fibrosis yang menyebabkan penurunan fungsi paru pada pasien yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19.

Baca juga: PDPI: Tenaga medis harus siap senjata sebelum berperang lawan COVID-19

Baca juga: Dokter paru: WHO belum keluarkan pernyataan corona menular di udara


Namun, laporan penelitian dari Hong Kong menyebutkan sepertiga dari sembilan pasien yang sembuh dari COVID-19 mengalami fibrosis yang menurunkan fungsi paru setelah mereka mengalami ARDS atau pneumonia berat.

Pada pasien yang mengalami fibrosis, secara patogenesis paru-parunya awalnya akan mengalami peradangan jika terjadi infeksi atau inflamasi.

Lambat laun, alveolus pada paru-paru akan semakin menebal hingga akhirnya mengalami fibrosis atau pengerasan paru-paru. Saat paru-paru tersebut mengeras, kembang kempis paru juga akan menjadi terganggu, sehingga pada akhirnya menurunkan fungsi paru.

Baca juga: Dokter paru anjurkan masyarakat lakukan pemeriksaan kesehatan berkala

Pewarta : Katriana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar