EU: Suhu Siberia capai rekor tertinggi pada Juni, picu kebakaran

id Siberia,arktik,suhu tinggi,gelombang panas,kebakaran hutan

Dokumentasi - Foto dari udara menunjukkan kawasan Taiga terbakar di dekat desa Boguchany, sekitar 560 km (348 mil) timur laut kota Siberia, Rusia, Krasnoyarsk, (2/6/2011). ANTARA/REUTERS/Ilya Naymushin/aa.

Jenewa/Moskow (ANTARA) - Temperatur di wilayah Arktik Siberia melonjak hingga mencapai rekor tertinggi pada Juni, di tengah gelombang panas yang memicu kebakaran hutan terparah di kawasan sepanjang sejarah, menurut data Uni Eropa (EU), Selasa.

Secara global, temperatur bulan lalu tidak jauh berbeda dengan rekor pada 2019, dan “suhu hangat yang tak biasa” tercatat di wilayah Siberia —bagian dari kecenderungan yang disebut dengan istilah warning cry (peringatan bahaya).

Temperatur rata-rata di kawasan itu lebih dari lima derajat Celsius di atas normal, juga satu derajat lebih tinggi dibandingkan Juni 2018 dan 2019, menurut data yang dikeluarkan lembaga di bawah Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service.

Organisasi Meteorologi Dunia juga tengah berupaya untuk mengonfirmasi laporan yang menyebut suhu Siberia mencapai lebih dari 38 derajat Celsius  —temperatur tertinggi di wilayah lingkar Arktik yang pernah tercatat.

“Yang mengkhawatirkan adalah bahwa Arktik menghangat lebih cepat dibandingkan wilayah dunia lainnya,” kata direktur Copernicus, Carlo Buontempo.

Suhu lebih panas yang tak biasa itu menyedot kelembapan wilayah hutan dan tundra di bumi bagian utara, sehingga meningkatkan kebakaran hutan yang semakin meluas sejak pertengahan Juni.

Badan kehutanan Rusia menyebutkan bahwa per Senin (6/7) terdapat 246 titik kebakaran hutan yang melingkupi 140.073 hektar lahan, dan situasi darurat sudah diumumkan di tujuh area.

Sementara itu, Copernicus menyebut bahwa kebakaran kali ini telah melampaui catatan jumlah titik api pada Juni tahun lalu.

“Temperatur yang lebih tinggi disertai permukaan yang kering merupakan kondisi ideal bagi api untuk menyulut dan terus menyala dalam waktu yang lama di area yang luas,” kata ilmuwan senior Copernicus, Mark Parrington.

Emisi karbon dioksida akibat kebakaran hutan di kawasan diperkirakan mencapai 59 mega ton, meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 53 mega ton, menurut Uni Eropa.

Sumber: Reuters

Baca juga: Es di Arktik kembali mencair

Baca juga: Peneliti: jumlah beruang kutub turun sepertiga karena pencairan es


Baca juga: Potongan tanduk hewan prasejarah ditemukan di Siberia

 

Dukungan internasional untuk percepat pengurangan emisi di Indonesia


Pewarta : Suwanti
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar