Jazilul gembira Jokowi beri bantuan Rp2,6 triliun pada pesantren

id Jazilul Fawaid,Jokowi,bantuan Jokowi,pesantren

Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid ketika ditemui wartawan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Kamis (31/10/2019). (ANTARA/ HO-Humas MPR)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Jazilul Fawaid mengatakan bahwa dirinya bergembira mendengar Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi bantuan sebesar Rp2,6 triliun untuk membantu meningkatkan fasilitas kesehatan sebagai langkah pencegahan dan penanggulangan COVID-19 di pondok pesantren.

"Saya bergembira dan bersyukur, akhirnya aspirasi kami untuk memperjuangkan pondok pesantren mendapat bantuan fasilitas kesehatan didengar dan direspons oleh Presiden Joko Widodo," ujar Jazilul melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Rabu .

Anggaran sebesar itu, kata Jazilul, disampaikan sendiri oleh Presiden Jokowi dalam Rapat Konsultasi Pimpinan MPR RI dengan Presiden di Istana Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat.

Baca juga: Pemerintah dukung peningkatan kualitas kesehatan lingkungan pesantren

Bantuan yang akan diberikan, kata dia, selanjutnya akan diatur dan ditangani oleh Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian PUPR.

"Pak Presiden juga menyampaikan kualifikasi dan syarat teknisnya," katanya.

Jazilul berharap ketiga kementerian itu bisa merealisasikan apa yang menjadi keinginan masyarakat dalam hal ini pengelola pesantren sesuai dengan instruksi dan arahan Presiden.

Jazilul Fawaid mengungkapkan, dalam Rapat Konsultasi tadi, Presiden Jokowimenyampaikan bahwa saat ini betapa sulit dan dilemanya menggerakkan sektor ekonomi, industri, pendidikan secara serempak di tengah masa pandemi COVID-19.

Meski demikian, Presiden Jokowi tidak patah arang dan tetap optimistis Indonesia dapat mengatasi dampak pandemi.

Baca juga: Realisasikan program, Wapres serahkan bantuan untuk pesantren

"Optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dibanding Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa dan Asia. Beliau juga optimistis sistem pendidikan akan berjalan sesuai dengan keinginan kita bersama,” ujar Jazilul.

Untuk itu, dirinya mengingatkan masyarakat agar tetap berbahagia dalam menjalankan aktivitas sembari tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan cuci tangan.

"Bagi yang bertani, bertanilah dengan penuh semangat, jangan sampai stres akibat corona. Percayalah, kalau petani kita makmur, makmur juga bangsa Indonesia,” katanya.

Wakil Ketua MPR itu sebelumnya berkeluh kesah mengenai adanya pondok pesantren yang belum memiliki fasilitas memadai untuk mencegah penularan COVID-19.

Baca juga: Pemberdayaan pesantren dan upaya pemerintah atasi COVID-19

Terlebih saat mengunjungi Pondok Pesantren Raudhatul Muta’allimin dan Pondok Pesantren Al Ittihad, yang keduanya berlokasi di Cianjur, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu,

Ia mengatakan bahwa fasilitas pencegahan penularan COVID-19 belum ada di banyak pondok pesantren. Padahal fasilitas kesehatan di pondok pesantren menurutnya penting, karena di tempat itulah generasi muda bangsa ini dididik dan menuntut ilmu.

"Dari pesantren lahir sumber daya manusia yang unggul, baik secara intelektual maupun spiritual. Contohnya, dari Raudhatul Muta'allimin muncul tokoh-tokoh berpengaruh bagi Cianjur," ujarnya.

Jazilul tidak bisa membayangkan bagaimana kalau proses pendidikan di pesantren terhenti karena terkena dampak pandemi COVID-19.

Baca juga: Wapres: Pesantren jangan jadi pusat penularan baru COVID-19

Jika melihat anggaran yang ada pada kementerian terkait, menurut politikus PKB itu, seperti belum menunjukkan keseriusan dalam mengatasi masalah yang menimpa pesantren-pesantren.

"Khususnya yang berada di daerah-daerah seperti Cianjur," ujar Jazilul.

Padahal pria asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, itu telah meminta Kementerian Agama agar serius dalam memberikan perhatian kepada pondok pesantren.

"Khususnya di tengah pandemi seperti saat ini," ujarnya.

Baca juga: Kemenag terbitkan prosedur aman COVID-19 di pondok pesantren

Keluh kesah Jazilul Fawaid akhirnya sirna setelah Presiden Jokowi memberi anggaran kepada pesantren senilai Rp2,6 triliun.

Ia merasa lega karena lembaga pendidikan khas Indonesia itu sudah terbukti menjadi sarana belajar agama dan ilmu pengetahuan berbagai lapisan masyarakat sehingga sudah seharusnya pesantren lebih mendapatkan dukungan dari pemerintah.

"Ini yang harus jadi fokus pemerintah, pesantren saat ini tidak punya akses anggaran. Jangan biarkan hidupnya seperti rumput alang-alang," kata Jazilul.

Pewarta : Abdu Faisal
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar