Untuk imunitas saat pandemi, LIPI-Danone buat makanan cegah "stunting"

id stunting,pandemi covid-19,makanan pencegah stunting,peneliti LIPI,Ainia Herminiati ,balita

Angka Gizi Buruk Turun Kader Posyandu menimbang seorang balita untuk memantau perkembangan tumbuh kembang anak terkait asupan gizi di Posyandu Bougenvile, Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (25/11). Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mencatat, dari hasil Program Penanganan "stunting" atau gizi buruk yang melibatkan 13 Kementrian diperoleh hasil penurunan angka gizi buruk sebesar 27.5 persen pada tahun 2017. Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto/mas/17.

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Danone Specialized Nutrition Indonesia berkolaborasi dalam riset dan teknologi untuk membuat makanan pencegah gagal tumbuh (stunting) dan meningkatkan imunitas anak di tengah pandemi COVID-19.

"Kebutuhan pangan untuk anak-anak di masa pandemi ini adalah harus memenuhi kualitas gizi yang beragam, bergizi dan seimbang. Tentunya ini dibutuhkan untuk meningkatkan imunitas tubuh dari anak-anak itu sendiri," kata peneliti di Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna LIPI Ainia Herminiati dalam seminar virtual bertena "Kolaborasi Penelitian dan Teknologi untuk Mendukung Gizi Anak di Masa Pandemi", di Jakarta, Kamis.

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh dan kecerdasan pada anak usia 1.000 hari pertama kehidupan akibat kekurangan unsur seng.

Dua produk suplementasi gizi hasil kolaborasi LIPI dan Danone adalah Aitamie dan Probarz.

"Produk ini memenuhi angka kecukupan gizi untuk balita dan anak," kata Ainia.

Ia mengatakan produk makanan yang terfortifikasi tersebut terbuat dari sumber daya dalam negeri dan diproduksi secara lokal dengan tujuan untuk membantu meningkatkan asupan gizi keluarga kurang mampu, terutama anak-anak pada fase pemulihan pandemi COVID-19.

Probarz menggunakan bahan baku pisang. Pisang merupakan komoditas lokal yang melimpah dan tumbuh setiap saat. Pisang juga kaya serat dan mengandung inulin sebagai probiotik untuk meningkatkan kesehatan saluran pencernaan.

"Dengan saluran pencernaan yang baik, tentu imunitas anak baik," katanya.

Probarz dapat menjadi sumber protein dan kalium dengan serat pangan yang tinggi.

Anak-anak membutuhkan gizi yang terdiri dari makro dan mikro nutrisi yakni protein, karbohidrat, lemak, zat besi, kalsium, fosfor, iodium, dan seng.

Makanan tidak seimbang akan menyebabkan kekurangan gizi pada anak sehingga menghambat pertumbuhan optimal anak dan anak rentan pada penyakit infeksi.

Sedangkan Aitami merupakan mi non-terigu yang terbuat dari tepung jagung, tepung beras, tepung mocaf dan tempe.

Aitami mengandung protein yang tinggi, kaya serat pangan, zat besi, seng, beta karoten serta tanpa pengawet dan pewarna.

"Aitami ini tidak mengandung gluten,  kaya serat dan protein yang bisa menunjang kesehatan anak," katanya.

Ia mengemukakan dari sebanyak 159 juta anak stunting di seluruh dunia, 9 juta dari mereka tinggal di Indonesia.

Ainia menyatakan balita di Indonesia masih menderita kekurangan zat gizi mikro yaitu vitamin A, zat besi dan seng.

"Kekurangan zat besi menyebabkan anemia, dan kekurangan seng mengakibatkan balita pendek (stunting)," katanya.

Dalam kolaborasi itu,  kata Ainia Herminiati , LIPI dan Danone menggandeng Foodbank of Indonesia (FOI) untuk pendistribusian bantuan nutrisi secara gratis ke sejumlah anak-anak yang membutuhkan dan terdampak pandemi COVID-19.

Danone berkontribusi dalam penyediaan bahan baku, bahan fortikan dan kemasan produk.

Direktur Komunikasi Danone di Indonesia Arif Mujahidin mengatakan anak-anak merupakan salah satu kelompok rentan terhadap pandemik COVID-19 sehingga perlu ditingkatkan imunitasnya. Selain itu, ada masalah stunting pada anak-anak yang dihadapi Indonesia.

Oleh karena itu, kebutuhan pangan dan kecukupan gizi pada anak-anak dalam upaya pencegahan stunting dan menciptakan generasi yang berkualitas menjadi prioritas dari pemerintah Indonesia.

"Pilihan makanan sehat harus selalu kita tawarkan buat keluarga Indonesia khususnya anak-anak," katanya.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), angka stunting di Indonesia sebesar 30,8 persen pada 2018, 26,67 persen pada 2019. Sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025 angka stunting turun menjadi 14 persen.

Sedangkan brdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan tahun 2017, Indonesia menempati urutan kelima terbesar di dunia dengan prevalensi stunting.

Baca juga: LIPI: kekerdilan karena masalah perilaku

Baca juga: SEAMEO RECFON: stunting lebih berbahaya dari Covid-19

Baca juga: Ahli ingatkan pentingnya konsumsi protein hewani cegah stunting

Baca juga: Cegah stunting, PKK Biak anjurkan pangan lokal penuhi asupan gizi anak


 

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar