KPAI apresiasi pendalaman motif kematian siswi diduga depresi PJJ

id KPAI, PJJ, Kematian Siswi, Depresi

KPAI apresiasi pendalaman motif kematian siswi diduga depresi PJJ

Komisioner KPAI Retno Listyarti berbicara dalam sebuah acara KPAI, Jakarta, Jumat (24/6/2020). (ANTARA/Katriana)

Jakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengapresiasi Kepolisian Gowa, Sulawesi Selatan, karena telah bertindak cepat dan masih terus mendalami motif lain di balik dugaan bunuh diri seorang siswi yang diduga frustrasi karena sulitnya akses internet dan banyaknya beban tugas selama mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

"KPAI mengapresiasi pihak kepolisian Polres Gowa yang bertindak cepat dan masih terus mendalami apakah ada motif lain di samping permasalahan PJJ secara daring dan beratnya tugas-tugas yang harus diselesaikan anak korban," kata Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti melalui keterangan pers yang diperoleh ANTARA, Jakarta, Senin.

Ia mengatakan KPAI menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang siswi di kabupaten Gowa Sulawesi Selatan yang diduga depresi karena kesulitan belajar daring.

Jika benar bahwa motif bunuh diri siswi tersebut adalah karena frustrasi dengan PJJ, maka siswi itu merupakan korban PJJ kedua yang meninggal setelah kematian siswa lain yang dianiaya oleh orang tuanya saat belajar jarak jauh.

Untuk sementara, menurut Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Jufri korban tersebut melakukan bunuh diri dengan meminum racun akibat depresi dengan banyaknya tugas-tugas daring dari sekolahnya.

Baca juga: Belajar dari kasus pembunuhan, Palembang kurangi beban pelajaran

Baca juga: Legislator minta Kemendikbud pantau dampak pelaksanaan PJJ pada siswa


Dugaan itu diperkuat dengan keterangan teman-teman korban yang menyatakan bahwa korban kerap bercerita pada teman-temannya perihal sulitnya akses internet di kampungnya yang menyebabkan tugas-tugas daringnya menumpuk. Rumah korban tersebut memang secara geografis berada di wilayah pegunungan, sehingga akses sinyal cukup sulit.

KPAI menilai kemungkinan motif lain di balik dugaan bunuh diri tersebut penting diungkap karena jika terbukti motif bunuh diri karena kendala PJJ, maka perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh dari PJJ di kabupaten Gowa oleh Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya. Jika SMA/SMK berarti menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan.

"Selain perlunya mengungkap kemungkinan motif lain, KPAI juga mendorong peran sekolah dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah mental atau psikologis akibat pandemi COVID-19 yang telah berlangsung lebih dari 7 bulan," ujarnya.

Peran wali kelas dan guru bimbingan konseling menjadi sangat strategis dalam membantu anak-anak yang memiliki masalah psikologi, termasuk kesulitan dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Konsultasi dapat dilakukan melalui aplikasi WhatsApp atau aplikasi lain yang mudah dijangkau guru dan anak-anak.

Komisioner KPAI Retno menilai anak-anak hanya butuh didengar. Oleh karena itu, selain menceritakan masalah dengan sahabat, para siswa juga bisa berkonsultasi dengan guru BK dan wali kelas agar dapat diberikan solusi yang tepat.

Sementara itu, peran orang tua juga sangat besar dalam mencegah depresi pada anak. Suasana yang tidak nyaman atau pertengkaran dengan teman mungkin tampak sederhana bagi orang dewasa, tetapi berbeda jika kondisi tersebut dialami oleh remaja.

Jika dibiarkan berlarut-larut, hal itu bisa memicu depresi pada remaja karena remaja pada dasarnya sering mengalami perubahan suasana hati. Itu sebabnya, remaja yang terlihat murung atau sedih sering kali dianggap hal biasa. Misalnya karena patah hati, mendapat nilai jelek, atau merasa kurang perhatian dari orang tua.

Padahal, bisa jadi itu gejala depresi pada remaja. Jika dibiarkan, kondisi tersebut bisa berlanjut dan memunculkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri, bahkan bunuh diri.

Baca juga: IGI: Perlu ada standar penugasan oleh guru selama PJJ

Baca juga: KemenPPPA berduka atas kasus bunuh diri siswa


Pewarta : Katriana
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar