PDIB: Protokol kesehatan tidak dilonggarkan sekalipun vaksin diberikan

id Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu,Protokol kesehatan

PDIB: Protokol kesehatan tidak dilonggarkan sekalipun vaksin diberikan

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu dr. James Allan Rarung (dua dari kiri) berbicara konferensi pers terkait Pertemuan Akbar Dokter Indonesia di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Rabu. ANTARA.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB) James Allan Rarung mengatakan protokol kesehatan tidak dapat dilonggarkan sekalipun vaksin sudah diberikan.

"Protokol kesehatan tidak dapat dilonggarkan sekalipun vaksin ini telah diberikan, karena meskipun telah mendapatkan vaksinasi, kalau kita tidak menjaga kondisi dan daya tahan tubuh kita, bila lemah dapat berpeluang terkena infeksi," kata James saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Baca juga: PDIB: Pembentukan antibodi terjadi segera setelah menerima vaksin

Baca juga: PDIB: Protokol kesehatan jadi pola hidup sehari-hari "new normal"


Protokol kesehatan menjadi bagian dalam mewujudkan pola hidup bersih dan sehat.

James menuturkan menjaga kebugaran dan daya tahan tubuh mutlak dilakukan karena akan memperkuat kemampuan tubuh mencegah tidak saja infeksi COVID-19, namun penyakit infeksi lainnya yang tidak kalah mematikan.

Oleh karena itu, protokol kesehatan seharusnya menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Protokol kesehatan itu antara lain memakai masker dan mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

"Justru sangat baik apabila tata cara sebagaimana sejalan dengan protokol kesehatan dijadikan sebagai budaya atau pola hidup keseharian dalam menjaga kesehatan diri kita," tuturnya.

Baca juga: Pelonggaran PSBB berimbas pada "herd immunity", sebut PDIB

Baca juga: PDIB: Jaga jarak harus dilakukan tegas cegah penularan COVID-19


Namun, kata James tentu saja setelah status pandemi dicabut, aturan berkenaan dengan pandemi tersebut akan berubah dan disesuaikan dengan kondisi dan tempat yang ada.

Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar