Bisnis inklusif di pariwisata diharapkan direplikasi sektor lain

id bisnis inklusif,sektor pariwisata,kementerian ppn/bappenas,ised

Bisnis inklusif di pariwisata diharapkan direplikasi sektor lain

Menteri Koperasi dan UMK Teten Masduki tengah mencoba pisang mas hasil budidaya Koperasi Tani Hijau Makmur bersama PT Great Gian Pineapple. Tanggamus, 28/2/2021 ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Jakarta (ANTARA) - Keberhasilan bisnis inklusif di sektor pariwisata dan manufaktur makanan dan minuman di bawah proyek Inovasi dan Investasi untuk Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan yang Inklusif (Innovation and Investment for Inclusive Sustainable Economic Development-ISED) di sejumlah wilayah di Tanah Air diharapkan dapat direplikasi atau dikembangkan di sektor lain.

Direktur Industri, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo mengatakan di Indonesia, pemerintah pusat dan daerah telah berkolaborasi dengan perusahaan swasta serta komunitas masyarakat lokal, termasuk kelompok marjinal untuk  mempromosikan dan mengimplementasikan bisnis inklusif, sebuah bisnis yang berusaha menguntungkan semua pihak yang masuk dalam rantai nilai bisnis tersebut.

"Bisnis inklusif ini telah diimplementasikan di sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di sektor pariwisata dan manufaktur makanan dan minuman pada Juli 2017-Juni 2021 di bawah proyek, yang merupakan kerja sama bilateral pemerintah Indonesia dan Jerman yang didukung (Kementerian PPN/Bappenas) dan diimplementasikan oleh Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ)," ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Katalog pariwisata & ekonomi kreatif rawan bencana di 5 DSP dirancang

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), bisnis inklusif dikembangkan di sektor pariwisata dengan mendorong wisata kebugaran (wellness tourism) di Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah; pengelolaan atraksi wisata dan produk kopi unggulan di sejumlah desa di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur; dan pengembangan wisata kuliner di Bilebante, Sembalun, dan Mandalika.

Sementara itu di Kabupaten Tanggamus, Lampung, dan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, bisnis inklusif dikembangkan di sektor manufaktur makanan, yakni budi daya dan pengelolaan pisang di Tanggamus dan produksi gula kelapa organik di Kulon Progo.

"Di masing-masing wilayah tersebut, kolaborasi multipihak yang berjalan dengan cukup baik menjadi kunci keberhasilan bisnis inklusif . Harapannya ke depan praktik bisnis inklusif ini dapat direplikasi di berbagai sektor bisnis lainnya di wilayah lain di Indonesia, ," katanya.

Di Bilebante, misalnya, kolaborasi antara Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Pemerintah Desa Bilebante; Martha Tilaar Group (MTG); Yayasan Allianz; Panorama Group; Hotel Santika Mataram; dan sejumlah pihak lainnya telah mengubah wajah Desa Bilebante yang semula identik dengan penambangan pasir dan ekspor tenaga kerja murah ke luar negeri menjadi desa destinasi wisata yang mampu mendongkrak pendapatan ekonomi daerah.

Baca juga: PHRI sarankan pelonggaran pergerakan masyarakat pulihkan pariwisata

Di desa tersebut, MTG berkontribusi pada pemberian pelatihan kebugaran kepada warga desa, mulai dari terapi spa, pengelolaan kebun herbal, hingga branding dan manajemen. Sedangkan Yayasan Allianz berkontribusi pada pemberian pengetahuan mengenai pengelolaan anggaran dan pendapatan. Panorama Group dan Hotel Santika Mataram membuka tujuan dan atraksi wisata bersama dan peluang kegiatan wisata seperti homestay.

Sementara itu pemerintah desa menyediakan ruang dan peralatan pelatihan, lahan sebagai lokasi kebun herbal, dan juga menyiapkan lokasi yang kelak akan jadi Sentral Wisata Kebugaran.

Keunggulan bisnis inklusif adalah kemampuannya untuk menghubungkan semua titik-titik sumber daya yang mendukung pencapaian hasil. Praktik bisnis inklusif ini didasari konsep creating shared value, yakni konsep bisnis yang dalam praktiknya tidak hanya meningkatkan daya saing perusahaan tapi secara bersamaan memajukan kondisi ekonomi sosial masyarakat yang menjadi rantai bisnis tersebut.

Di Kulon Progo, sebuah perusahaan pengekspor gula kelapa organik seperti Aliet Green bersedia memberikan serangkaian pelatihan peningkatan kapasitas kepada para petani perempuan (mulai dari soal sertifikasi, pengetahuan produk organik, budi daya kelapa, hingga literasi finansial) karena sadar bahwa para petani ini merupakan mata rantai dari nilai bisnis mereka.

Baca juga: 145 'sellers' ikuti Bali and Beyond Travel Fair 2021

Di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, proyek ISED bermitra dengan PT Great Giant Pineaple dan para petani plasma pisang. Di bawah kerja sama ini, serangkaian peningkatan kapasitas dilakukan, mulai dari mengajak petani berorganisasi hingga membuat rencana atau model ekspansi kemitraan.

"Semakin bagus kualitas para petani tersebut, maka semakin bagus produksi yang dihasilkan, dan semakin meningkat keuntungan bisnis yang dihasilkan," katanya.

Keberhasilan implementasi bisnis inklusif di Bilebante, Sembalun, Mandalika, Tanggamus, dan Kulon Progo membuat banyak pihak berharap ada tindak lanjut.

 

Pewarta : Subagyo
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar