Pakar: pendidikan karakter bentengi pelajar dari radikalisme

id pendidikan karakter,antiradikalisme,penguatan ideologi pancasila,era digital

Dokumentasi Sejumlah siswa SDN membentangkan bendera sepanjang 20 meter saat menggelar pawai bendera di Kabupaten Pamekasan, Jatim, Senin (11/11/2013). Pawai bendera dalam rangka memeriahkan Hari Pahlawan itu, dimaksudkan untuk menanamkan pendidikan karakter dan menumbuhkan rasa nasionalisme kepada masyarakat sejak usia dini. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)

Jakarta (ANTARA News) - Pakar pendidikan Profesor Arief Rachman mengatakan pendidikan karakter harus terus diberikan kepada pelajar dan mahasiswa untuk membentengi mereka dari ancaman paham kekerasan atau radikalisme dan ideologi asing yang ingin merusak generasi bangsa.

"Para generasi penerus bangsa harus memperoleh materi bidang pendidikan tersebut supaya mereka mampu menyaring mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang bermanfaat maupun tidak dibutuhkan," kata Arief di Jakarta, Kamis.

Menurut Arief, pendidikan karakter bangsa itu bisa berupa penguatan ideologi Pancasila serta pemahaman nilai-nilai agama yang benar.

Ia mengatakan penguatan karakter bangsa ini bisa menjadi kunci dalam membekali generasi muda, terutama di era digitalisasi sekarang ini.

"Melalui media digital kan kita bisa berhubungan secara internasional, bisa ke Eropa, bisa ke Amerika. Jadi, harus ada pendidikan karakter bangsa supaya anak-anak bisa menyaring mana baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat mana yang tidak perlu," katanya.

Dalam pandangannya, anak-anak usia sekolah harus memahami pemakaian media digital secara sehat. Dengan demikian, informasi yang didapat maupun pemanfaatannya harus selalu berlandaskan prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara.

"Jangan sampai kita membiarkan media digital itu dipakai untuk hal-hal yang negatif. Itu yang ingin saya tekankan dan saya sampaikan," kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta itu.

Ia mengatakan kemajuan teknologi tidak bisa dihindarkan sehingga sekolah-sekolah harus memperkenalkan media digital karena tidak ada yang bisa membuat anak-anak steril dari kemajuan teknologi komunikasi.

Justru, kata Arief, teknologi komunikasi harus disapa oleh sekolah untuk dipakai secara positif oleh anak-anak untuk proses belajar mengajar.

"Saya pikir tidak apa-apa media digital itu dipakai untuk proses belajar mengajar. Semua mata pelajaran bisa diakses melalui media digital, kecuali untuk praktik laboratorium, tapi rumus-rumus kimia itu bisa (dipelajari) di media digital," katanya.

Pewarta : Sigit Pinardi
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar