Menkeu ajak cendikiawan cari solusi masalah pendidikan

id diaspora Indonesia

Obama Di Kongres Diaspora Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberi sambutan dalam Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Sabtu (1/7/2017). Dalam sambutannya, Obama berbicara tentang sejumlah hal, antara lain demokrasi, kepemimpinan, persamaan hak, dan toleransi. (ANTARA/Rosa Panggabean)

Jakarta  (ANTARA News) - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengajak para cendikiawan untuk mencari solusi masalah pendidikan di Indonesia demi membangun manusia yang unggul.

Sri Mulyani saat berbicara di depan diaspora pada acara Simposium Cendikia Kelas Dunia di Jakarta pada Senin mengatakan negara berkewajiban untuk menyisihkan 20 persen dari APBN untuk pendidikan.

Meski begitu dia mengakui bahwa penggunaan anggaran masih belum dimanfaatkan secara efisien.

"Untuk itu saya harap para insan cendekia yang hadir dalam pertemuan ini menjadi pemikir, mencari solusi bagi indonesia. Saat ini kita dihadapkan pada dunia yang terus bergerak secara cepat," kata dia.

Pada kesempatan tersebut Sri Mulyani juga mengungkapkan pentingnya kolaborasi antar ilmuwan dalam dan luar negeri.

Seorang individu, imbuhnya, relatif lebih mudah untuk menjadi pintar.

Sedangkan untuk menghasilkan jutaan manusia jenius di suatu bangsa merupakan tantangan yang harus dipecahkan bersama-sama.

"Para cendekia, ilmuwan diaspora harus menjadi role model dan inspirator, menyelesaikan pekerjaan rumah negara. Seperti infrastruktur yang pembangunannya sedang dikejar saat ini harus dibangun berkelanjutan," kata dia.

Senada dengan Sri Mulyani pada sesi ketiga Menteri Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menegaskan pentingnya kualitas sumber daya manusia bagi Indonesia.

Beberapa negara yang cakap dalam memanfaatkan para ilmuwan diasporanya adalah Korea Selatan dan Vietnam.

Menteri Bambang berpendapat, kedua negara tersebut secara historis hampir sama dengan Indonesia, tetapi mereka mampu menangkap potensi dan peluang ilmuwan diasporanya untuk berkontribusi sehingga mampu meningkatkan ekonominya.

"Kualitas manusia menentukan negara maju atau tidak. Indonesia harus mengejar agar pembangunan infrastruktur memberikan nilai tambah maksimal. Riset dan pengembangan juga perlu terus dimajukan," kata Bambang.

Baca juga: Jaringan diaspora ajak pemuda pikirkan 100 tahun Indonesia
Baca juga: Visi 2045 harus lebih komprehensif


Pada sesi terakhir pembukaan Simposium Cendikia Kelas DuniaTahun 2018, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Bisar Panjaitan memberikan masukan kepada para ilmuwan diaspiora dan akademisi yang hadir untuk bersama berupaya meningkatkan daya saing Indonesia.

Tak hanya itu, Luhut juga menantang para ilmuwan diaspora untuk berani mengembangkan sebuah inovasi yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Simposium Cendikia Kelas Dunia Tahun 2018 dihadiri 450 orang, serta 47 ilmuan diaspora dari 12 negara.

Pewarta : Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar