Pemkab Donggala identifikasi 17.000 rumah yang rusak

id huntara,korban gempa tsunami kabupaten donggala sulteng,rumah rusak gempa,hunian tetap,pengungsi gempa

Pekerja menyelesaikan pembuatan bak penampungan jamban Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun Kementerian PUPR di Kelurahan Duyu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (27/11/2018). Kementerian PUPR menargetkan 1.200 Huntara yang dibangun untuk korban gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Sigi, dan Donggala itu dapat selesai dan dihuni sebelum perayaan Natal tahun ini. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/hp.


Donggala, Sulawesi Tengah, (Antara News) - Bupati Donggala, Sulawesi Tengah, Kasman Lassa mengemukakan teridentifikasi sekitar 17.000 rumah warga di daerahnya rusak dihantam gempa, tsunami dan tanah longsor atau likuifaksi.

Kasman di Donggala, Minggu, menguraikan jumlah rumah rusak berat di Donggala 5.025 unit, rusak sedang 5.624 dan rusak ringan 6.000 unit lebih.  

"Rumah-rumah warga yang rusak ini didata atau diinventarisasi oleh tim yang telah kami bentuk. Tim ini bekerja dan turun langsung ke lapangan," ucapnya.

Tim verifikasi itu terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana, PUPR, dan relawan. Terdapat 67 orang dalam tim tersebut yang turun melakukan verifikasi rumah.

Terkait tempat tinggal sementara korban bencana, Ia mengatakan, semua warga korban terdampak bencana yang kehilangan tempat tinggal, maupun rumah tidak layak huni mendapat hunian sementara (huntara).

"Yang namanya huntara itu tidak terkecuali. Apakah dia nelayan, hansip, petani," lanjutnya.

Namun, kata Kasman, warga korban bencana akan didata atau diverifikasi terlebih dahulu pascabencana.

"Ada tim yang turun, untuk melakukan verifikasi langsung terhadap korban yang terdampak bencana ," ujarnya.

Tim verifikasi itu, sebutnya, sekaligus melakukan verifikasi data tempat tinggal korban di lapangan, untuk mendapatkan hunian tetap.

Baca juga: Kementarian PUPR akan bangun Rumah Instan di Sulteng
Baca juga: ACT mulai bangun 1.000 hunian untuk korban gempa

Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar