Meningkatkan profesionalitas insinyur Indonesia

id PII

Suasana Kongres ke-XXI dan Dialog Nasional 2018 Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Padang, Sumatera Barat, Jumat (7/12/2018). (ANTARA/Ahmad Wijaya)

Jakarta (ANTARA News) - Kongres ke-XXI sekaligus Dialog Nasional 2018 Persatuan Insinyur Indonesia yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla di Padang, Sumatera Barat, pada 6-7 Desember 2018 baru saja berakhir.

Salah satu keputusan penting yang dihasilkan dalam kongres tersebut adalah Heru Dewanto menjadi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2018-2021 menggantikan Hermanto Dardak yang sudah habis masa jabatannya untuk tiga tahun sebelumnya.

Dalam kongres tersebut  juga diadakan pemilihan Wakil Ketua Umum PII yang diperebutkan oleh Danis Hidayat dan I Made Dana Tangkas yang akhirnya dimenangkan oleh Danis Hidayat. Setelah melalui pemungutan suara akhirnya posisi wakil ketua umum periode 2018-2021 dimenangkan oleh Danis Hidayat.

Danis Hidayat saat ini juga menjabat Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sementara  I Made Dana Tangkas menjabat Presiden Badan Kejuruan Teknik Industri Persatuan Insinyur Indonesia (BKTI PII).

Sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PII, wakil ketua umum PII yang menjabat tiga tahun saat ini otomatis akan menjadi ketua umum PII pada tiga tahun mendatang, begitu seterusnya. Oleh sebab itu dalam kongres ke XXI di Padang tersebut yang ramai diperebutkan adalah posisi wakil ketua umum bukan posisi ketua umum.

Keinsinyuran sejatinya adalah tindakan aktif untuk mengubah, merekayasa dan bersahabat dengan alam selaras dengan kebutuhan manusia dan keinsinyuran boleh dikata adalah ekspresi paling jelas dari kekuatan akal budi, semangat untuk memecahkan masalah yang hadir dalam berbagai bentuk.

Semangat untuk mencari solusi atas berbagai masalah, termasuk masalah yang tampaknya tak berhubungan langsung dengan bidang keinsinyuran. Itu yang mungkin bisa menjelaskan mengapa dari tujuh orang presiden Republik Indonesia, tiga orang diantaranya adalah insinyur.

Orang tentu bisa berkata bahwa fakta di atas hanyalah kebetulan belaka.Namun, tak dapat dipungkiri bahwa kegiatan keinsinyuran, yang menjadi inti dari revolusi ilmiah dan teknologis, telah menggerakkan dunia mencapai tahap kemajuan yang belum ada presedennya dalam sejarah.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dan terpanjang di garis khatulistiwa, dengan lebih dari 17.500 pulau menjadikan insinyur Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dari insinyur di negara manapun di dunia.

Pada kenyataannya, insinyur Indonesia sudah mampu membangun sejumlah infrastruktur sehingga bisa menseijahterakan masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui jalan, jembatan, jaringan kereta api, bandar udara, pelabuhan laut, ratusan bahkan ribuan insinyur Indonesia mampu menghubungkan ribuan pulau sertamenyatukan nusantara.

Demikian pula melalui Palapa Ring, sejumlah insinyur Indonesia menghubungkan pikiran lebih dari 260 juta manusia, mempersatukan 1340 suku bangsa dan 742 bahasa seantero negeri.

Melalui listrik, para Insinyur Indonesia menerangi pertiwi, mencerdaskan bangsa. Insinyur Indonesia juga mampu membuka cakrawala dunia, memajukan peradaban, menggerakkan industri menciptakan lapangan kerja, mensejahterakan rakyat.

Program 100 hari pertama

Ketua Umum PII periode 2018-2021 Heru Dewanto, mengatakan dalam konteks global dan nasional inilah PII harus mendefinisikan peran dan posisinya. Titik tolaknya adalah penerbitan UU Insinyur no 11 tahun 2014 yang semestinya dilanjutkan dengan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Keinsinyuran yang statusnya sejak setahun lalu tidak kunjung berubah, sudah diujung dan tinggal di tanda tangan Presiden RI.

Inti sari dari UU ini adalah hanya orang yang berprofesi Insinyur yang dapat melakukan praktek keinsinyuran. Hukum pidana positif berupa kurungan dan denda uang menunggu mereka yang melanggar aturan ini.

Pada saat PP diterbitkan dan ratusan ribu sarjana teknik berebut mendaftar untuk mendapatkan gelar profesi Insinyur, maka hambatan sistem registrasi dan sertifikasi PII yang masih bersifat manual akan mengakibatkan katastropi yang tak terbayangkan.

Mengawali jabatan sebagai ketua umum PII baru untuk periode tiga tahun ke depan, jajaran PII dalam program 100 hari pertama pengurus PII antara lain mendorong penerbitan PP Keinsinyuran, pembenahan tata kelola organisasi secara menyeluruh (AD/ART dan PO) terkait dengan badan kejuruan wilayah, serta cabang.

Juga pembangunan platform digital system informasi PII, penyusunan bisnis model PII menuju kemandirian keuangan, serta menyusun strategi media untuk menjadikan PII sebagai rujukan utama atas issue strategis dan kontemporer sektoral yang bisa dikaitkan langsung atau tidak dengan sains, enjinering dan teknologi. Tak kalah penting dalam 100 hari pertama adalah pembangunan platform digital sistem informasi PII.
  
Platform digital sistem informasi PII akan menghasilkan data base insinyur Indonesia yang akurat untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka. Database insinyur di seluruh tanah air akan lengkap dengan lokasi, kompetensi, dan peta jalan pengembangan kompetensi sesuai arah pembangunan bangsa.

Bahkan diklaim akan menjadi harta tak ternilai yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program makro pemerintah, program mikro industri tertentu, ataupun alat untuk meningkatkan pelayanan bagi Insinyur dan kesejahteraan insinyur.  

 Wakil Presiden Jusuf Kalla saat membuka Kongres PII tersebut, berkali-kali menginginkan insinyur Indonesia memiliki banyak kesempatan dalam membangun berbagai proyek infrastruktur di Indonesia sehingga tak lagi bergantung dengan pihak asing.

"Selama puluhan tahun banyak bandara yang dibangun insinyur asing, dan kali ini insinyur Indonesia harus diberi kesempatan karena sudah mampu," kata Wapres Jusuf Kalla.

Jika mau dilihat sudah banyak pembangunan infrastruktur di Indonesia yang dilakukan insinyur lokal dan hasilnya sangat bagus dan untuk menjadi negara maju  perlu ada semangat dan paksaan serta bersatu dengan profesi lain semisal dengan ekonom.

Insinyur Indonesia sebenarnya sudah banyak bisa bicara di kancah internasional terlihat dengan produk yang dihasilkan digunakan oleh negara lain. Contohnya, gardabarata yang digunakan sebagai jembatan penumpang pesawat di bandara buatan insinyur Indonesia, sudah banyak diekspor ke negara maju dan digunakan di banyak bandar udara internasional.

    Tentu kita berharap dengan profesi insinyur yang profesional dan memiliki kompetensi, dengan semangat untuk memberikan terbaik untuk bangsa, maka Indonesia bisa makin maju tanpa harus terlalu mengandalkan insinyur asing.

Baca juga: Wapres minta insinyur Indonesia unjuk kemampuan bangun infrastruktur
Baca juga: Heru Dewanto Ketua Umum PII 2018-2021


 

Pewarta : Ahmad Wijaya
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar