Mendikbud akui tingkat literasi Indonesia masih rendah

id MENDIKBUD,Muhadjir Effendy ,kemdikbud,buta huruf,tingkat literasi,minat baca

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Pangkalpinang  (ANTARA News) - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan tingkat literasi Indonesia dibandingkan dengan negara lainnya di dunia masih tergolong rendah, karena angka buta huruf masyarakat di daerah  terpencil masih cukup tinggi.

"Daerah terpencil ini cukup mempengaruhi tingkatan literasi masyarakat Indonesia di dunia," kata  Muhadjir Effendy saat menghadiri peluncuran Komunitas Literasi Babel di Pangkalpinang, Jumat.

Ia mengatakan minat baca dan melek huruf masyarakat di daerah perkotaan di Indonesia sudah cukup tinggi, namun di daerah perdesaan dan pulau terpencil serta terluar masih rendah, sehingga cukup mempengaruhi tingkatan literasi Indonesia di antara negara-negara berkembang dan maju lainnya.

"Kondisi kita berbeda dengan Singapura yang hanya  berpenduduk 5 juta, di mana penduduknya sudah bebas buta huruf dan memiliki fasilitas pendidikan yang sangat memadai," ujarnya.

Jadi wajar, tingkat literasi masyarakat Singapura cukup tinggi, karena fasilitas dan akses pendidikan di negara tersebut sangat memadai dibandingkan Indonesia, tambahnya.

"Wajar anak-anak di negara tersebut pintar-pintar dibandingkan anak-anak di daerah ini. Kalau di sini masih banyak orang tuanya buta huruf sehingga anaknya tidak terdidik dengan baik di rumah ditambah lagi fasilitas sekolahnya juga tidak baik," katanya.

Oleh karena itu, ia sangat mendukung masyarakat Bangka Belitung membentuk komunitas literasi guna meningkatkan minat baca dan mengurangi  angka buta huruf di daerah ini.

  "Kegiatan ini sangat bagus, apalagi saya lihat buku-buku yang disediakan pegiat komunitas ini cukup bervariasi untuk meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat," katanya.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman Djohan mengatakan dengan adanya komunitas literasi ini dapat mengubah karakter masyarakat Indonesia khusunya Babel untuk selalu membaca dan menulis hal-hal yang positif serta bermanfaat.

"Karakter ini adalah kebiasaan. Jika kebiasaan membaca dan menulis ini terus diulang-ulang maka saya yakin dan percaya karakter masyarakat bangsa ini akan menjadi lebih baik," katanya. 

Baca juga: Empat daerah dapat anugerah karena sukses tuntaskan buta huruf
Baca juga: 3,4 juta warga Indonesia belum mengenal huruf

 

Pewarta : Aprionis
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar