Kota pintar harus memberikan pelayanan cepat, akurat, dan murah

id samuel pangerapan,kota pintar

Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Samuel Abrijani Pangerapan dalam acara Asia Mayor Forum "Future Cities: Shifting Toward 4.0 Mega Trends" di BSD, Tangerang Selatan, Kamis (21/3/2019). (ANTARA/M Razi Rahman)

Jakarta (ANTARA) - Program "smart city" atau kota pintar yang sedang didorong pemerintah untuk dapat diterapkan di berbagai kabupaten/kota diharapkan dapat memberikan pelayanan yang cepat, akurat, dan murah kepada setiap warganya.

"Pemerintahnya juga harus berubah, sehingga mampu memberikan pelayanan yang cepat, akurat, murah dan tidak berbelit-belit," kata Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Samuel Abrijani Pangerapan dalam acara Asia Mayor Forum "Future Cities: Shifting Toward 4.0 Mega Trends" di ICE BSD, Tangerang Selatan, Kamis.

Menurut Samuel Pangerapan, dalam rangka melakukan transformasi atau perubahan tersebut, maka membangun konektivitas internet yang mumpuni adala suatu keharusan.

Pemerintah melalui Kemenkominfo ingin agar kecepatan internet dapat sama cepatnya di seluruh Nusantara.

Untuk itu, ujar dia, pemerintah juga mulai masuk membangun infrastruktur yang dahulunya biasanya hanya dilakukan pembangunannya oleh pihak provider telekomunikasi.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menyelesaikan pembangunan Palapa Ring Paket Barat dan Tengah, dan dalam waktu dekat Palapa Ring Paket Timur juga akan diselesaikan dan dikomersialisasikan oleh pemerintah.

“Saat ini 97 persen populasi Indonesia sudah bisa mengakses layanan 4G LTE. Dengan selesainya pembangunan Palapa Ring diharapkan dapat mempercepat konektivitas broadband di seluruh Indonesia, khususnya di daerah terdepan terluar dan terpencil yang selama ini belum menikmati layanan broadband,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) , Merza Fachys, dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (20/2).

Palapa Ring adalah suatu proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang akan menjangkau propinsi dan seluruh kabupaten/kota di seluruh Indonesia, dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, dan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer.

Merza menjelaskan, operator enggan membangun jaringan di daerah 3T dikarenakan mahalnya pembangunan backbone fiber optic. Padahal backbone fiber optic adalah syarat mutlak untuk mendukung layanan broadband 4G LTE.

"Dengan selesainya Palapa Ring Pekat Barat dan Tengah, yang nanti disusul dengan Paket Timur, tentu akan membantu operator telekomunikasi untuk membangun di daerah-daetah yang selama ini engan digarap oleh operator. Kami operator yang tergabung dalam ATSI dapat dengan mudah dan cepat melakukan pembangunan di daerah yang selama ini belum terjangkau broadband," ujar Merza.

Baca juga: Aplikasi Smart City 3.0 Kota Tangerang diadopsi Kabupaten Siak

Baca juga: Yogyakarta targetkan 50 persen warga unduh Jogja Smart Service

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar