Isu perundungan diangkat mahasiswa UMM pada konferensi internasional

id mahasiswa UMM, isu bulliying, international conference,Korea Selatan,perundungan

Miarti Amanah Riesky, mahasiswa Hubungan Internasional UMM ketika berada di Korea dalam rangka mengikuti International Conference Asia Pasific Youth Week 2019 yang diadakan di Seoul, Korea, belum lama ini. (FOTO ANTARA/HO-Humas UMM)

Madiun (ANTARA) - Mahasiswa peduli kesehatan mental remaja dari Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Miarti Amanah Riesky, memaparkan isu mengenai perundungan (bulliying) di ajang International Conference Asia Pasific Youth Week 2019 yang diadakan di Seoul, Korea Selatan.

Mengusung tema Leading the Generation Unlimited to Prepare for 2030, kegiatan yang diadakan oleh United Nations Human Settlements Programme (UN Habitat) bekerja sama dengan Studec International itu diikuti 130 peserta dari 25 negara, seperti India, Kamboja, Indonesia hingga negara maju seperti Inggris, Australia dan Singapura.

"Saya ingin menyampaikan kepada dunia bahwa kondisi remaja di Indonesia sangat rawan terhadap bulliying," kata Miarti Amanah Riesky, menceritakan pengalamannya itu, di Malang, Jawa Timur, Jumat.

Berbekal esai berjudul The importance of Mental Health for Young Generation, Mia berhasil terpilih untuk berangkat bersama 29 peserta lain dari Indonesia.

Ia menjelaskan esai itu diangkat dari pengalaman pribadi, di mana ia pernah mengalami perundungan di lingkungan SMA-nya yang berada di ibu kota Jakarta.

Mia mengakui keberangkatannya ke Korea Selatan bukan tanpa hambatan. Perempuan 20 tahun ini sempat terhalang izin orang tua lantaran harus pergi sendiri tanpa pendampingan. Namun, setelah memberikan pengertian, restu sang ibu pun didapatkan.

"Saat di sana, mama malah yang paling bangga. Selain mengikuti International Conference Asia Pasific Youth Week, kami juga berkesempatan mengunjungi stasiun televisi nasional Korea, yakni NBC TV dan belajar seluk beluk media yang ada di negeri ginseng tersebut," katanya.

Meski sering mengikuti berbagai kegiatan internasional di dalam negeri, anak kedua dari tiga bersaudara ini merasakan pengalaman yang sangat berbeda saat berada di Korea Selatan, sebab selain perbedaan cuaca yang sangat drastis, budaya orang Korea juga membuatnya kagum.

"Awalnya saya kaget dengan cuaca, suhu di sana mencapai -5 Celcius. Selain itu, saya juga takjub dengan budayanya, dari segi pendidikan saja siswa SMP harus menimba ilmu di sekolah selama hampir 14 jam setiap harinya," katanya.

Ia berharap mahasiswa lain juga selalu aktif mencari informasi terkait kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan pengalaman dan pengetahuan, termasuk di luar dunia akademis.

"Kalau kita mau berusaha, pasti akan banyak kesempatan dan pengalaman yang bisa kita raih sekaligus mengembangkan potensi kita di bidang akademik maupun non-akademik," katanya.

Acara yang diselenggarakan selama lima hari empat malam ini membahas tentang berbagai isu yang sedang marak di kalangan milenial seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya.

Selain itu, program ini juga memberikan pengalaman serta pengetahuan nonakademis tentang budaya Korea, di antaranya memakai Hanbok atau pakaian khas korea, upacara pembuatan teh, serta membuat Kimchi (makanan khas Korea).

Baca juga: Mahasiswa UMM Raih "best paper" karya tulis di Jepang

Baca juga: Warga Palestina belajar budi daya perikanan di Universitas Muhammadiyah Malang

Baca juga: Melalui KKN internasional, mahasiswa UMM jadi sukarelawan kanker di Sri Lanka


 

Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar