Peneliti: Implementasi OSS bantu turunkan angka pengangguran

id oss,angka pengangguran

Ilustrasi tampilan laman OSS. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Mercyta Jorsvinna Glorya menyatakan bahwa sistem Online Single Submission (OSS) sebagai satu portal perizinan terpadu bila diimplementasikan dengan baik akan menurunkan angka pengangguran.

Mercyta Jorsvinna Glorya di Jakarta, Selasa, menyatakan, implementasi OSS diharapkan bisa memperbaiki kemudahan berusaha sehingga semakin banyak pengusaha atau investor berminat untuk mengembangkan usahanya di Indonesia.

"Kalau iklim usaha terus kondusif dengan sistem perizinan dan pendaftaran usaha yang transparan dan tidak berbelit-belit, pengusaha atau investor bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja karena berkaitan dengan pengembangan bisnis," katanya.

Ia mengingatkan bahwa rata-rata penurunan angka pengangguran diperkirakan hanya mencapai sekitar 1 persen per tahun.

Menurut dia, bila program pemerintah terkait kemudahan berusaha seperti OSS sudah berjalan baik, maka penurunannya diharapkan akan signifikan.

"Implementasi OSS sendiri masih belum merata di seluruh Indonesia. Pemerintah perlu mendorong daerah terus mempersiapkan infrastruktur terkait penggunaan sistem ini," katanya.

Sebelumnya, Anggota Komisi II DPR RI Firmansyah Mardanoes menyatakan, pelaksanaan OSS dinilai masih memiliki banyak masalah, sehingga membutuhkan perhatian untuk dilakukan perbaikan.

Pasalnya, menurut Firmansyah, sistem yang ada dalam OSS ini belum berjalan secara penuh, terutama dalam hal sosialisasi dan pelayanan cara pengisian form yang terdapat dalam sistem tersebut.

Sebagaimana diketahui, Peringkat Kemudahan Berbisnis (EoDB) Indonesia pada Indeks EoDB 2019 turun satu poin dari peringkat 72 menjadi peringkat 73. Penurunan peringkat ini tentu tidak sejalan dengan target yang ingin dicapai Presiden Joko Widodo yaitu kenaikan 32 peringkat menjadi peringkat 40 di 2019.

Indeks EoDB dikeluarkan oleh Bank Dunia dan dirilis secara rutin setiap tahunnya. Jika pada Indeks 2019 Indonesia menduduki peringkat 73, maka pada 2017 dan 2018 peringkat Indonesia berada di 91 dan 72.

Baca juga: Indef sebut OSS belum sempurna penyebab target realisasi investasi belum tercapai
Baca juga: BKPM ungkap kendala sistem OSS di daerah

Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar