Kemensos upayakan mediasi para pihak konflik sosial di Buton

id Konflik sosial Buton,Konflik Buton

Warga mencari barang berharga dalam puing rumahnya yang dibakar saat terjadi kericuhan antar warga di dua desa di Desa Gunung Jaya, Buton, Sulawesi Tenggara, Sabtu (8/6/2019) ANTARA FOTO/Fadli/Jjn/foc. (ANTARA FOTO/JOJON)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita akan mengundang sejumlah tokoh masyarakat di Buton Provinsi Sulawesi Tenggara untuk duduk bersama pada mediasi penanganan konflik sosial yang terjadi di daerah tersebut.

"Tim kami sekarang sudah ada di sana dan akan mengundang beberapa tokoh di Buton yang menjadi bagian konflik, baik tokoh masyarakat maupun tokoh pemuda untuk duduk bersama," kata Mensos di Jakarta, Senin.

Mediasi tersebut merupakan bagian dari program keserasian sosial Kemensos. Nantinya akan dibangun bisa berupa tugu atau monumen sebagai simbol kedua belah pihak yang bertikai sudah berdamai dan ke depan bersatu sebagai warga negara, kata Agus.

"Kita juga mendorong program atau kegiatan yang berbasis budaya lokal. Jenis programnya akan kami terima dari proposal yang mereka sampaikan, kalau mereka ada kegiatan paling tidak akan mengurangi atau bisa mengisi waktu daripada untuk hal yang tidak baik lebih baik diisi kegiatan produktif," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, Kemensos juga menyiapkan bantuan berupa santunan ahli waris untuk dua orang korban meninggal dunia masing-masing Rp15 juta.

Selain itu, Kemensos juga memberikan bantuan perbaikan rumah untuk 53 unit rumah yang rusak masing-masing Rp15 juta dan bantuan Usaha Ekonomi Produktif masing-masing Rp5 juta untuk sejumlah toko yang rusak agar mereka bisa kembali memulai usahanya.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sebesar Rp2,19 miliar untuk penanganan konflik sosial di Buton.

Konflik yang terjadi di Buton bermula dari takbiran keliling yang dilakukan lima kelompok masyarakat dari Sampuabalo pada 5 Juni 2019, mereka melakukan takbiran dengan membunyikan motor sangat keras sehingga warga Gunung Jaya tidak terima namun suasana dapat diredam aparat.

Pada 6 juni 2019, seorang anak muda Sampuabalo kembali ke Desa Gunung Jaya dengan membunyikan motor dengan suara sangat keras sehingga dibusur warga setempat.

Masyarakat Desa Sampuabalo membalas dengan membakar dan menjarah barang berharga masyarakat Desa Gunung Jaya.

Akibat konflik tersebut dua orang meninggal dunia, empat orang mengalami luka berat, 87 rumah hangus terbakar di Desa Gunung Wijaya.

Selain itu 1.416 jiwa mengungsi di 11 titik pada tiga desa yaitu Desa Laburunci, Desa Lapodi dan Kelurahan Kombeli.

Pewarta : Desi Purnamawati
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA

Komentar